Thursday, October 23, 2025

Tenaga dalam di aspek Niat dan perbuatan

Dalam tubuh manusia, ada dua jenis tenaga, tenaga kasar dan tenaga halus. Tenaga kasar menggerakkan otot dan tulang, lahir dari makanan, latihan, dan pernapasan. Sedangkan tenaga halus berasal dari niat, dari keinginan batin yang paling dalam. Keduanya berpadu di titik yang disebut rasa, di sanalah ilmu tenaga dalam sejati lahir. Ketika seseorang menyalurkan niat dengan kesadaran penuh, ia menggerakkan sesuatu yang lebih halus dari otot, gelombang batin. Gelombang ini mengalir melalui napas, menyatu dengan aliran darah, lalu keluar lewat pandangan, sentuhan, bahkan diam. Maka, pendekar sejati tak perlu mengeraskan tubuh, cukup mengeraskan niat dan meneguhkan rasa. Tenaga dalam bukanlah soal kuat atau sakti, melainkan soal selaras. Jika niatmu bimbang, tenaga pun tercerai. Jika niatmu lurus dan jernih, tenaga mengalir tanpa hambatan. Seorang guru pernah berkata, ketika niatmu tak lagi untuk menaklukkan, tapi untuk menyatu, barulah tenaga dalammu menjadi kehidupan itu sendiri.

Segala sesuatu di alam bermula dari niat, bahkan sebelum gerak, kata, atau napas. Niat adalah benih energi, dan setiap benih akan menumbuhkan buah sesuai sifatnya. Niat yang lahir dari kasih, welas, dan keikhlasan akan memancar menjadi tenaga murni, bersih, lembut, namun kuat seperti cahaya matahari pagi. Ia menyembuhkan, menenteramkan, dan melindungi. Inilah tenaga yang disebut para guru sebagai daya nurani atau tenaga kasih semesta. Bila benihnya baik, tumbuhlah tenaga murni; bila busuk, lahirlah getaran hitam. Niat yang lahir dari kasih, ikhlas, dan doa akan berubah menjadi tenaga murni yang lembut namun kuat. Ia mengalir sebagai daya penyembuh, penenang, dan pelindung. Tapi niat yang timbul dari iri, dendam, atau kebencian memancar sebagai ‘ain, pandangan berat yang membawa lelah, sakit, dan kesialan. ‘Ain bukan sekadar mata yang jahat, tapi niat yang tercemar dengan harsat buruk yang memancar lewat pandangan, kata, dan rasa.

Namun begitu, niat tidak menghalalkan cara. Banyak yang tersesat karena merasa niatnya baik, padahal caranya menyalahi adab dan tidak sejalan dengan keseimbangan alam. Pesilat sejati tidak hanya menjaga niatnya, tapi juga menimbang langkahnya. Sebab tenaga yang lahir dari niat baik tapi dilakukan dengan cara yang salah akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Maka sejatinya latihan silat bukan sekadar menguatkan jurus, tapi menghaluskan niat dan menuntun cara, agar tenaga yang keluar dari diri kita menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar. 

Seorang pendekar sejati tidak cukup hanya memiliki niat baik. Niat harus selaras dengan pikiran yang jernih dan budi pekerti yang luhur. Bila niat baik bertemu dengan pikiran yang gelap atau cara yang sembrono, tenaga yang lahir bisa menyesatkan, meski asalnya murni. Begitu pula, budi pekerti menjadi pengikat yang menahan diri dari keserakahan, amarah, dan kesombongan. Ketika niat, pikiran, dan budi pekerti selaras, setiap gerak menjadi doa, setiap tenaga menjadi rahmat, dan setiap langkah menjadi pelindung, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi bagi orang lain dan alam semesta. 

No comments:

Post a Comment