Showing posts with label amalan amalan. Show all posts
Showing posts with label amalan amalan. Show all posts

Wednesday, January 7, 2026

Why Calm Training Builds Real Confidence

 Many believed confidence comes from intensity. In reality, intensity often hides uncertainty.

True confidence is calm. It shows up as clear breathing under pressure, steady posture when pushed, and the ability to choose restraint instead of panic.

Traditional martial training understood this long before psychology gave it names. The body must feel safe before it can act decisively. When training is rushed, overly aggressive, or ego-driven, the nervous system learns stress .. not skill.

My teacher emphasizes controlled contact, progressive learning, and awareness. Students are encouraged to feel first, then act. Mistakes are part of training, not something to be punished.

Over time, this creates a quiet confidence that carries into daily life: at work, in conflict, in uncertainty. Not because one wants to fight but because one knows they don’t have to.

Self-defence is not about becoming dangerous. It is about becoming harder to disturb.

Saturday, January 3, 2026

Why Self-Defence for Adults Should Not Break the Body

Why adult student need a different way to be trained?

Most adults do not fear training. But what they actually fear is injury, wasted time, and being treated like a twenty-year-old body when they are not.

Traditional silat were never meant to destroy the practitioner (destroy enemy YES, but not the practitioner). They were developed by people who had to work the next day, care for families, and carry injuries quietly. Efficiency was not a choice, it was survival.

In adult self-defence, short-term effectiveness that leads to long-term degeneration is not strength. It is debt. Joint damage, chronic tension, and reckless conditioning eventually take more than they give.

That is why my approach emphasizes structure, balance, breath, and decision-making before force. A calm body reacts faster than a tense one. A stable stance lasts longer than explosive aggression. A trained awareness avoids more fights than any strike ever will.

Self-defence should leave you more capable tomorrow, not less. If training does not respect your longevity, it is not realistic it is just careless and to deny it, is just ignorance.


Tuesday, October 28, 2025

Filosofi Nerimo

Nerimo (menerima) bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi sikap bijak untuk menerima hidup apa adanya dengan hati yang bersyukur. Bagi orang Jawa, kesempurnaan bukan sumber bahagia, karena hidup justru indah lewat kekurangan dan perubahan. Orang yang nerimo tahu bahwa segalanya punya waktunya sendiri contohnya, ada datang, ada pergi, ada tumbuh, ada layu  dan semua itu bagian dari keseimbangan alam. Dengan hati yang nerimo, manusia berhenti melawan kenyataan dan mulai berjalan seirama dengannya, menemukan damai dalam keterbatasan dan bahagia dalam kesederhanaan.

Pentingnya nerimo terletak pada kemampuannya menjaga ketenangan batin di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan. Saat manusia tidak bisa menerima keadaan, pikirannya terus melawan realitas maka munculah keadaan hati yang gelisah, marah, iri, dan kecewa. Secara idealnya, ketika seseorang nerimo, ia tidak lagi terjebak dalam keinginan yang tak ada habisnya. Ia bisa melihat hidup dengan lebih jernih, memilih tindakan dengan tenang, dan tidak mudah dikendalikan oleh emosi. Dalam falsafah Jawa, nerimo bukan berarti menyerah, tapi cara untuk hidup selaras dengan alam dan diri sendiri, agar hati tetap ringan meski hidup tak selalu sempurna.

Nerimo adalah pelajaran yang tidak pernah selesai ia sebuah latihan batin yang terus berjalan seumur hidup. Saya pun masih manusia biasa, kadang bisa menerima, kadang masih melawan keadaan. Namun justru di situlah maknanya: setiap kali kita belajar nerimo, kita belajar sedikit lebih dalam tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang cara berdamai dengan hidup. Tidak ada yang langsung sempurna; yang penting adalah terus mengingat bahwa ketenangan tidak datang dari dunia luar, tapi dari hati yang mau belajar menerima dengan tulus.

Ketika usia muda, kita sering ingin mengubah dunia; ketika agak berumur, kita belajar bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah pada menguasai keadaan, tapi pada menerima apa adanya dengan hati tenang. Penuaan membawa kesedaran bahawa tidak semua perkara perlu diperjuangkan.. ada yang cukup untuk diterima, difahami, dan dilepaskan.

Dengan bertambah usia (at the rate im feeling now), nerimo bukan lagi tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan jiwa, hasil dari pengalaman panjang antara harapan, kehilangan, dan penemuan makna sebenar kehidupan.

Dalam hidup, nerimo adalah jalan yang mengajarkan kita lebih dari sekadar sabar. Ia melatih hati menjadi ikhlas, menerima hasil tanpa penyesalan berlebihan. Ia mengajarkan rasa syukur, menghargai apa yang dimiliki, dan menumbuhkan keteguhan saat menghadapi cobaan. Dari nerimo, lahir kebijaksanaan untuk melihat hikmah di balik kesulitan, kesederhanaan hidup yang menenangkan, dan kedamaian batin yang tidak mudah terguncang. Ia mengajarkan hadir sepenuhnya pada saat ini, menahan gelisah masa lalu dan takut masa depan, serta mengendalikan emosi agar hati tetap ringan. Seperti sungai yang tenang, nerimo mengalirkan kehidupan dengan damai, mengajarkan kita menari seirama dengan arus dunia, tanpa memaksakan kehendak, namun selalu selaras dengan rasa dan nurani.Hal ini adalah filosopi yang diterapkan sambil mempelajari meditasi untuk mendapatkan perubahan optimal.  


Thursday, October 23, 2025

Tenaga dalam di aspek Niat dan perbuatan

Dalam tubuh manusia, ada dua jenis tenaga, tenaga kasar dan tenaga halus. Tenaga kasar menggerakkan otot dan tulang, lahir dari makanan, latihan, dan pernapasan. Sedangkan tenaga halus berasal dari niat, dari keinginan batin yang paling dalam. Keduanya berpadu di titik yang disebut rasa, di sanalah ilmu tenaga dalam sejati lahir. Ketika seseorang menyalurkan niat dengan kesadaran penuh, ia menggerakkan sesuatu yang lebih halus dari otot, gelombang batin. Gelombang ini mengalir melalui napas, menyatu dengan aliran darah, lalu keluar lewat pandangan, sentuhan, bahkan diam. Maka, pendekar sejati tak perlu mengeraskan tubuh, cukup mengeraskan niat dan meneguhkan rasa. Tenaga dalam bukanlah soal kuat atau sakti, melainkan soal selaras. Jika niatmu bimbang, tenaga pun tercerai. Jika niatmu lurus dan jernih, tenaga mengalir tanpa hambatan. Seorang guru pernah berkata, ketika niatmu tak lagi untuk menaklukkan, tapi untuk menyatu, barulah tenaga dalammu menjadi kehidupan itu sendiri.

Segala sesuatu di alam bermula dari niat, bahkan sebelum gerak, kata, atau napas. Niat adalah benih energi, dan setiap benih akan menumbuhkan buah sesuai sifatnya. Niat yang lahir dari kasih, welas, dan keikhlasan akan memancar menjadi tenaga murni, bersih, lembut, namun kuat seperti cahaya matahari pagi. Ia menyembuhkan, menenteramkan, dan melindungi. Inilah tenaga yang disebut para guru sebagai daya nurani atau tenaga kasih semesta. Bila benihnya baik, tumbuhlah tenaga murni; bila busuk, lahirlah getaran hitam. Niat yang lahir dari kasih, ikhlas, dan doa akan berubah menjadi tenaga murni yang lembut namun kuat. Ia mengalir sebagai daya penyembuh, penenang, dan pelindung. Tapi niat yang timbul dari iri, dendam, atau kebencian memancar sebagai ‘ain, pandangan berat yang membawa lelah, sakit, dan kesialan. ‘Ain bukan sekadar mata yang jahat, tapi niat yang tercemar dengan harsat buruk yang memancar lewat pandangan, kata, dan rasa.

Namun begitu, niat tidak menghalalkan cara. Banyak yang tersesat karena merasa niatnya baik, padahal caranya menyalahi adab dan tidak sejalan dengan keseimbangan alam. Pesilat sejati tidak hanya menjaga niatnya, tapi juga menimbang langkahnya. Sebab tenaga yang lahir dari niat baik tapi dilakukan dengan cara yang salah akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Maka sejatinya latihan silat bukan sekadar menguatkan jurus, tapi menghaluskan niat dan menuntun cara, agar tenaga yang keluar dari diri kita menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar. 

Seorang pendekar sejati tidak cukup hanya memiliki niat baik. Niat harus selaras dengan pikiran yang jernih dan budi pekerti yang luhur. Bila niat baik bertemu dengan pikiran yang gelap atau cara yang sembrono, tenaga yang lahir bisa menyesatkan, meski asalnya murni. Begitu pula, budi pekerti menjadi pengikat yang menahan diri dari keserakahan, amarah, dan kesombongan. Ketika niat, pikiran, dan budi pekerti selaras, setiap gerak menjadi doa, setiap tenaga menjadi rahmat, dan setiap langkah menjadi pelindung, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi bagi orang lain dan alam semesta. 

Thursday, October 16, 2025

Demystifying Tenaga Dalam - the other side of silat practices

Seringkali kalau kita bahaskan Silat Tenaga Dalam TD secara “ilmu dalaman di silat” kita akan mendapati beberapa pendapat kontra megenainya. Sering kali tomahan Bidaah, syirik, khurafat, tahyul (TBC kalau kata 'jargon' di Indonesia) menjadi amunisi lazim terhadap aspek spiritual silat. Namun apakah begitu semuanya? Dan apakah tidak ada unsur murni potensial manusia yang dapat kita kaji untuk memahamkan konsep TD. Saya tidak menolak ada nya pengamalan yang melibatkan TBC tapi menurut saya menuding praktisi TD sebagai sesat menunjukkan ‘kurang jauh’ jangkauan pemikiran penuding. Yang harus di pisahkan adalah Occult practices vs Tenaga Murni yang dapat kita jana dengan pernafasan dan positive thinking.

Tenaga Dalam dalam konteks ini harus dipahami sebagai ‘internal body awareness’ yang dilatih lewat pola pernapasan diafragma, teknik tahan napas, dan aktivasi pusat gravitasi tubuh (hara/dantian). Bila seseorang dilatih untuk sadar napasnya, hadir di tiap gerakan, dan mampu mengolah tekanan tubuh lewat pusatnya, maka ia telah menyentuh fondasi dari somatic intelligence yakni kecerdasan tubuh yang mampu merespons tekanan eksternal secara reflektif dan terkontrol. Ini bukan sihir. Ini bukan mistik. Ini adalah hasil dari ‘neuroplastic conditioning’ yang berlangsung ketika tubuh dan napas selaras dalam frekuensi tertentu.

Sebagian penggiat TD yang tidak mencampurkan dengan ritual atau dogma - hanya dengan penerapan pernafasan - pun telah menunjukkan bahwa teknik-teknik ini mampu meningkatkan detak jantung variabilitas (HRV), ketahanan terhadap stres, serta reaksi refleks tubuh.

Bahkan dalam pendekatan ilmiah, ‘slow, deep, conscious breathing’ terbukti memicu saraf parasimpatis, menurunkan kortisol, dan membuka jalur perhatian tinggi (state of flow). Maka kita harus lebih objektif dalam menilai bahwa Tenaga Dalam, bila dipisahkan dari pembungkus mistisnya, adalah bentuk embodied intelligence yang patut diteliti, bukan dicemooh. Yang menjadi sesat bukanlah pernapasannya, tapi pemahaman terbatas tentangnya.

Tapi harus kita sadari ini hanyalah alat untuk pesilat untuk memaksimalkan daya dan kudrat untuk mencapai maximum potential bukan untuk bermegah-megah kerana semua hanyalah titipan.

Dalam dunia silat, di banyak perguruan tradisional pernafasan bukanlah benda asing. Ia asas untuk bina tenaga dalam, kawal emosi, dan satukan gerak dengan kesedaran. Bila nafas teratur, pesilat boleh hadir sepenuhnya dalam setiap gerakan, dan jaga keharmonian tubuh dan jiwa walau dalam tekanan.

Nafas juga bawa tenaga halus bukan hanya oksigen, tapi getaran hidup yang masuk bersama niat kita. Bila nafas tenang dan dalam, badan jadi lebih stabil, fikiran jernih, dan aura pun semakin kuat.

Aura lemah bukan kerana tubuh tak sihat, tapi sebab nafas kita pendek dan terburu-buru. Dengan latihan pernafasan yang konsisten, aura boleh dibersihkan dan diperkukuh badan rasa lebih percaya diri, langkah lebih yakin, dan mata kita pun punya ‘ketajaman’ yang lebih dari biasanya. 

Akhir kata, apabila memperbincangkan Tenaga Dalaman, kita harus memisahkan perbahasan tentang pembangkitannya dari dalam diri,  dan lain-lain methode yang mengandalkan tenaga luar.. supaya tidak keliru.  




Monday, October 6, 2025

Amalan secara umumnya di dunia silat

Kalau kita renungkan, orang-orang terdahulu  terutama para ulama, wali, dan leluhur Nusantara mereka tidak pernah berniat menambahkan sesuatu yang asing ke dalam agama. Mereka justru berusaha menghadirkan agama dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, sehingga ajaran ilahi menjadi bagian dari perilaku, kebiasaan, dan kebudayaan.

Misalnya, cara mereka bertani, berdagang, berperang, atau bahkan seni dan silat, semuanya dijalankan dengan kesadaran bahwa ada aturan Tuhan yang harus dijaga dan memahami di atas langit masih ada langit. Tidak ada yang sekadar ritual formal di masjid atau musholla, tetapi agama hadir dalam cara mereka berbicara, bersikap, dan menghormati sesama.

Itulah sebabnya banyak tradisi lokal Nusantara kalau kita lihat, dari wirid, doa, mantera, hingga seni bela diri  sangat  terlihat menyatu dengan budaya. Bukan karena menambah agama, tapi karena agama dijadikan pedoman hidup dalam setiap gerak dan napas. Dengan cara ini, agama bukan hanya teori atau kata-kata di kitab, tapi menjadi nyata dalam keseharian masyarakat. Amalan ini di rungkai dan di persiapkan utuk pesilat sebagai disiplin diri (mengingatkan kebanyakan ilmu silat pada zaman dulu adalah lebih kepada ilmu keperajuritan untuk menjaga keamanan).  

1  Doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhan. Melalui doa, seseorang menyampaikan isi hati, meminta pertolongan, keselamatan, rezeki, atau pengampunan. Doa bisa dibaca kapan saja dan dalam bahasa apa saja, baik Arab, Melayu, Jawa, Sunda, maupun bahasa sehari-hari. Contohnya termasuk doa sebelum tidur, doa syukur, atau apapun. Doa boleh khusus dan boleh juga umum. Doa juga sering dijadikan kebiasaan membuka gelangang dan penutup gelangang.

2     Wirid adalah bacaan dzikir atau doa yang diulang secara rutin. Fungsinya untuk menjaga hati tetap dekat dengan Tuhan sekaligus melatih ketekunan dan fokus. Wirid bisa berupa ayat Al-Qur’an, istighfar, shalawat, atau doa pendek, dan biasanya dibaca berulang-ulang, misalnya wirid istighfar 100 kali atau wirid ayat kursi setiap selesai sholat. Guru-guru juga kadang memberikan amalan wirid yang diperkirakan sesuai untuk murid. Misalan untuk mendawamkan murid yang perwatakan kerasa maka diberikan “Yaa Latif” (Wahai yang maha lembut) sebagai pengamalan seharian.

3    Awrad/Awrod merupakan jamak dari wird, yaitu kumpulan wirid atau bacaan doa yang dibaca secara rutin dan biasanya diwariskan oleh guru tarekat. Awrad membantu murid melatih disiplin rohani dan menjaga hati tetap terhubung dengan Tuhan. Bacaan awrād terikat dengan aturan tertentu, seperti jumlah pengulangan, waktu, dan cara membaca, sesuai petunjuk guru. Contohnya termasuk awrad tarekat Syadziliyah, Qadiriyah, atau Awrad Imam Nawawi. Ada beberapa jenis silat yang bersangkutan dengan Tarikat namun tidak kita diskusikan di penulisan blog yang terbatas ini.

4   Hizib dan Ratib adalah susunan doa, ayat Al-Qur’an, atau dzikir tertentu yang dikumpulkan oleh ulama yang selalunya bertarikat. Hizib biasanya dipakai untuk perlindungan, keberanian, keselamatan, atau untuk memenuhi hajat besar. Bacaan hizib lebih “berat” dibanding wirid biasa, dan sering kali memerlukan bimbingan atau ijazah dari guru. Contohnya antara lain Hizib Nashr untuk kemenangan, Hizib Bahr untuk keselamatan di laut, dan Hizib Maghribi untuk perlindungan dari gangguan gaib. Tidak mustahil para para guru mebuat hizib mereka sendiri hasil dari tafakur di atas maslahat ummat (perobatan, hindari dari musuh yang sangat berbahaya). Ratib dan Hizib tidak banyak perbedaan. Walaupun itu, Hizib terkenal Keras sementara Ratib terkenal sebagai jalan penyucian (amaliyah yang di sertakan dengan tazkiyatun Nafs).

5    Mantera atau mantra adalah ucapan yang dianggap sacral (sacred) yang diyakini memiliki kekuatan tertentu atau spiritual. Mantera berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “getaran pikiran” atau “ucapan suci”. Kebiasaan ini sudah ada sejak sebelum masuknya Islam di nusantara. Fungsi mantera ada bermacam-macam, seperti untuk pengobatan, perlindungan, penundukan, atau mempengaruhi keadaan. Bahasa yang digunakan biasanya Kawi, Jawa, Sunda, atau campuran lokal, dan tidak selalu bersifat islami. Contohnya adalah mantera tolak bala, mantera pengobatan, dan mantera pasugihan. Di zaman ini, terdapat beberapa kajian yang membahas sebenarnya mantra ciptaan karya dari guru guru di pakai untuk “menaik kan semangat” dan tidak semestinya ada dampingan atau menyeru khodam Jin. Mantra menurut mereka bermaksud Affirmasi yakni sesuatu yang di ulang ulang akan menjadi kepercayaan dan tindakan yang pada akhirnya, kemudian memanifestasi ke atas kehidupan kita. Namun begitu, saya sebagai penulis artikel ini ingin juga mengingatkan untuk anda menyaring apa pun mantra yang anda dapat untuk berhati hati.

Ada catatan bahwa Rasulullah saws tidak menolak penggunaan mantra atau ucapan tertentu selama mengandung pujian kepada Allah dan tidak bertentangan dengan tauhid. Sebagai contoh, seorang sahabat yang sebelumnya bekerja sebagai peruqyah atau ahli penyembuhan dengan mantra-mantra tertentu, ketika menerima Islam, beliau tetap bisa menggunakan bacaan atau ucapan yang mengandung kebaikan dan pujian kepada Tuhan sebagai bagian dari praktiknya, selama niatnya sesuai dengan syariat.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam fleksibel dalam menerima tradisi lokal, selama tradisi itu diarahkan kepada Allah, mengandung kebaikan, dan tidak menyekutukan-Nya. Rasulullah saws lebih menekankan niat dan tujuan di balik amalan, bukan sekadar bentuk lahiriah bacaan. Dengan kata lain, mantra yang digunakan untuk kebaikan, penyembuhan, atau pujian Allah tetap diperbolehkan, dan bahkan bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
     
6    Asma' secara am adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “nama-nama” bentuk jamak dari ismu, yang berarti “nama.”Dalam konteks spiritual atau keagamaan, kata ini sering muncul dalam istilah seperti “Asma’ul Husna”, yang berarti “Nama-nama yang indah (milik Allah)”.Masing-masing nama mencerminkan sifat-sifat ilahi seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih), Al-Hakim (Maha Bijaksana), dan seterusnya.Namun, di luar konteks keagamaan apalagi di Indonesia, “Asma’”  juga berarti identitas, esensi, atau vibrasi dari suatu nama. Dalam tradisi mistik, termasuk dalam sufisme atau ilmu hikmah, setiap asma’ diyakini memiliki energi dan frekuensi tertentu yang bisa mempengaruhi kesadaran, jiwa, dan bahkan realitas di sekitarnya bila dilafalkan dengan niat dan adab yang benar. Contoh populer adalah Asma Sunge Rajeh dan Asma Suryani di dunia keilmuan

Akhir kata

Intinya, semua amalan seperti doa, wirid, hizib, awrad, asma' dan mantera bukan sekadar ritual atau bacaan kosong, tetapi dijadikan latihan batin untuk membentuk kebiasaan spiritual yang konsisten. Melalui latihan ini, hati dan pikiran dilatih agar selalu terhubung dengan Tuhan, kesabaran dan disiplin dibangun, serta kekuatan batin perlahan tumbuh. Sama seperti latihan jasmani yang memperkuat tubuh, latihan batin memperkuat jiwa dan energi spiritual. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan baik ini akan menjadi bagian alami dari diri seseorang, sehingga setiap tindakan sehari-hari dari berbicara hingga bergerak dilakukan dengan kesadaran dan keselarasan spiritual.

Fadhilat amalan-amalan tersebut bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk membentuk karakter, ketenangan, dan keteguhan hati. Ramai pesilat pada awalnya belajar silat karena ingin terlihat hebat, kuat, atau mampu mengalahkan lawan. Namun sebenarnya, latihan silat bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga membentuk disiplin dan karakter. Tubuh dilatih mengikuti gerakan, hati dilatih bersabar, pikiran dilatih fokus, dan jiwa dilatih bijaksana.

Kekuatan fisik hanyalah hasil sampingan. Tujuan utama adalah latihan batin dan membangun disiplin dalam hidup. Amalan doa, wirid, awrad, bahkan mantera yang menyertai latihan menjadi sarana untuk menanam kebiasaan baik, melatih kendali diri, dan menyadarkan bahwa setiap gerakan memiliki makna. Seiring waktu, pesilat yang awalnya hanya mengejar kekuatan akan belajar menghargai kesabaran, konsistensi, dan keharmonisan batin, yang jauh lebih penting daripada fisik yang tangguh. 

ref :
1.5 Nilai-Nilai Islam dalam Kearifan Lokal dari Berbagai Suku di Indonesia
2. Al-Fasi, Syarhu Hizbil Barr, halaman 63
3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab "Majmu’atul Fatawa"

*Disclaimer : pendapat yang tertulis di atas adalah hanya dari pengetahuan dan pengalaman pribadi sahaja yang menurut saya harus di jabarkan "as it is" dan dalam rangka "for knowledge only" kepada peminat silat tradisi.  Benar dan salah, saya kembalikan kepada Allah swt. Tapi Insyallah apa yang saya tuliskan dan sampaikan adalah pecobaan saya untuk menulis hal benar seingat apa yang disampaikan ke saya oleh para guru. Segala opini dilandaskan sebagai Guru silat yang telah melibatkan diri dengan perobatan Islam dan Perobatan Tradisional Melayu. Harus ditegaskan lagi, sesungguhnya anda sebagai pembaca harus mencerna informasi seputar keilmuan-keilmuan klasik dengan penuh hati-hati dan dibawah bimbingan orang yang sesuai bidang pengetahuannya. 

 


Thursday, September 18, 2025

Tafakur

"Sometimes ...we forget to breathe" Latihan Pernafasan, Tafakur dan Taddabur.

Pernafasan untuk mendatangkan ketenangan, fokus supaya boleh mencapai tingkat konsentrasi yang baik untuk Taffakur dan Taddabur (Belum lagi kita bahaskan soal zikrullah)

Tafakkur adalah kegiatan berfikir atau merenungkan segala fenomena yang terjadi di alam semesta dari suatu kejadian ataupun dari suatu pengalaman

Tadabbur adalah perenungan yang menyeluruh untuk mengetahui maksud dan makna dari suatu ungkapan secara mendalam.

Tafakur dan Tadabur itulah akan mengantarkan manusia pada tasyakur. Hasilnya, manusia akan pandai bersyukur dengan memanfa’atkan nikmat yang diberikan padanya di jalan yang benar.

** sudah tentunya hal hal ini di sertakan dengan landasan agama yang benar

sebagai orang islam.


 

Wednesday, September 17, 2025

Bicara keilmuan

Asma Sunge Rajeh (ada juga yang menyebutnya Asma Sunge Raja atau Asma Sungai Rajeh) merupakan salah satu ilmu ghaib agung yang diyakini berasal dari warisan Nabi Khidir. Ilmu ini bukan sekadar mantra, melainkan sebuah kunci batin yang telah diturunkan lintas generasi kepada para wali pilihan. Tercatat, Mbah Kuwu Cakrabuana dari Cirebon yang masih paman dari Sunan Gunung Jati pernah menerima asma ini. Begitu pula Waliyullah Bujuk Tumpeng dari Pamekasan Madura, yang kemudian mewariskan kepada dua putra beliau: Syekh Abu Syamsudin dan Syekh Damanhuri di Batu Ampar, Madura, Jawa Timur. Ilmu ini kemudian menjadi pakaian kyai-kyai madura. 

Kedudukan asma ini begitu tinggi karena sifatnya multi guna.. disebut orang yang paham yakni sama nilainya dengan menguasai sepuluh hizib unggulan sekaligus sepuluh ilmu kesaktian besar. Dengan kata lain, siapa yang menguasai Asma Sunge Rajeh seakan memiliki gudang energi metafisik yang bisa diarahkan untuk berbagai keperluan: perlindungan, kewibawaan, penyembuhan, bahkan membuka jalan rezeki dan keberhasilan.

Keunikan asma ini terletak pada kemudahannya artinya tidak perlu tirakat berat, tidak harus melalui puasa panjang atau ritual rumit. Cukup diamalkan dengan lafadz singkat, sewaktu diperlukan, dan dengan izin Allah maka hajat itu bisa terwujud. Bagi sebagian kalangan, inilah rahasia kenapa ilmu ini dianggap sebagai "simpul besar" dari warisan para wali. Harus saya tekankan di sini.. dari pengalaman saya, amalan ini bagusnya dihafal langsung dan tidak ditulis untuk dihafal. 

Namun, jangan salah memahami kemudahannya. Asma Sunge Rajeh bukan sekadar bacaan kosong. Ia bekerja ketika pembacanya hadir dengan niat bersih, keyakinan teguh, dan keterhubungan kepada Yang Maha Kuasa. Tanpa itu, lafadznya hanyalah suara. Dengan itu, ia menjadi gelombang kekuatan yang mampu menembus batas kasat mata.

Orang Madura Utara meyakini, siapa yang benar-benar menjaga asma ini akan memancarkan aurat kesaktian seperti disegani kawan, ditakuti lawan, dan dihormati orang banyak. Bahkan dalam tradisi lisan, ada yang mengatakan asma ini bisa “menundukkan” kondisi alam dan makhluk halus sekalipun.

Pada akhirnya, Asma Sunge Rajeh bukan hanya tentang kekuatan ghaib, melainkan juga tentang kesadaran bahwa segala daya hanyalah pinjaman dari Allah. Ia adalah pintu kecil untuk mengingatkan manusia bahwa di balik tirai realitas ada arus besar yang terus mengalir, sebagaimana Sungai Rajeh itu sendiri abadi, deras, dan penuh rahasia.... 

Sama ada cerita seputar amalan ini benar manjur atau tidak maka kita segalanya kepada Allah. Tujuan sharing tentang amalan kyai dan pendekar Madura bukan lah untuk bangga-bagga diri kecuali untuk memberikan sedikit pencerahan tentang kayanya khazanah keilmuan para kyai,guru dan pendekar-pendekar madura. 


Riyadah diri

 Meditation and breathwork helps sharpen the "blade within" (our mind) in silence... and master the inner storm (emotion) while in motion..

Orang silat dulukala bukan suka-suka tambah tambah pekara baru dalam agama tapi meletak kan agama dalam apa-apa hal yang mereka lakukan. 

muraqobah,tu'manimah dan tafakkur concept dapat di selaraskan menjadi satu riyadah diri. Yang kemudiannya mebuat mindset kita lebih terpandu bila bersilat.

Catatan pereng sabreng.