Friday, October 24, 2025

Tokoh Madura : Sultan R. Abdul Kadirun Cakra Adiningrat II

Sultan R. Abdul Kadirun Cakra Adiningrat II, penguasa Bangkalan pada awal abad ke-19, dikenang sebagai seorang pemimpin bijak yang mengabdikan hidupnya untuk rakyat dan agama. Naik tahta pada tahun 1815, beliau tidak hanya dikenal karena peran militernya dalam berbagai ekspedisi, tetapi juga karena kebijakan sosialnya yang membuka Masjid Kraton agar bisa digunakan masyarakat umum, menjadikannya simbol kebersamaan antara bangsawan dan rakyat. Prinsip kepemimpinan beliau berakar pada falsafah Asta Brata yakni delapan sifat utama seorang raja yang dermawan, tegas, penuh kasih, dan berani sehingga tak heran jika jejaknya masih terasa hingga kini. Makamnya di Pasarean Congkop, Bangkalan, tetap menjadi tempat ziarah dan penghormatan, bukti warisan beliau sebagai sosok yang tidak hanya berkuasa, tapi juga membimbing.

Sultan R. Abdul Kadirun Cakra Adiningrat II bukan sekadar penguasa keraton, tetapi juga teladan spiritual bagi masyarakat Madura. Dengan keberanian yang ditempa lewat peperangan melawan kekuatan asing, ia membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang tidak hanya duduk di singgasana, tetapi juga berdiri di garis depan. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau menjaga kedekatan dengan rakyat, menjadikan istana bukan dinding pemisah, melainkan pusat ilmu, budaya, dan dakwah Islam. Sosoknya mengajarkan bahwa seorang raja sejati bukan hanya ditentukan oleh mahkota di kepalanya, melainkan oleh kemampuannya menyalakan cahaya keadilan, welas asih, dan keberanian di hati rakyatnya. Hingga kini, nama beliau masih disebut dalam sejarah Madura sebagai lambang kepemimpinan yang selaras antara kekuasaan duniawi dan amanah Ilahi.

Memanglah tidak ditemukan catatan tertulis yang secara langsung menyebut beliau sebagai pesilat dalam arti guru atau pendekar silat seperti yang kita pahami sekarang. Tetapi, sebagai seorang bangsawan Madura pada abad ke-18 hingga 19, hampir dapat dipastikan beliau mendapat pendidikan jasmani dan bela diri sejak muda.

Tradisi keraton Madura sangat erat dengan pencak silat, karena silat bukan hanya seni tempur, melainkan juga bagian dari pendidikan kepemimpinan, disiplin, dan pembentukan watak. Seorang calon pemimpin keraton biasanya ditempa dalam olah senjata, kuda, dan silat tangan kosong agar siap memimpin pasukan. Ditambah lagi, Sultan Kadirun pernah memimpin laskar dalam beberapa pertempuran, yang menuntut penguasaan taktik perang sekaligus keterampilan bela diri.

Jadi, walaupun beliau tidak dikenal sebagai “pendekar” dalam tradisi rakyat, bisa diyakini Sultan Kadirun adalah seorang pesilat dalam pengertian keraton: seorang raja prajurit (raja ksatria) yang menguasai silat sebagai bagian dari jati diri kepemimpinannya.





Photo di ambil dari salah satu murid saya yang ke makamnya Cakra Adiningrat II


No comments:

Post a Comment