Nerimo (menerima) bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi sikap bijak untuk menerima hidup apa adanya dengan hati yang bersyukur. Bagi orang Jawa, kesempurnaan bukan sumber bahagia, karena hidup justru indah lewat kekurangan dan perubahan. Orang yang nerimo tahu bahwa segalanya punya waktunya sendiri contohnya, ada datang, ada pergi, ada tumbuh, ada layu dan semua itu bagian dari keseimbangan alam. Dengan hati yang nerimo, manusia berhenti melawan kenyataan dan mulai berjalan seirama dengannya, menemukan damai dalam keterbatasan dan bahagia dalam kesederhanaan.
Pentingnya nerimo terletak pada kemampuannya menjaga ketenangan batin di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan. Saat manusia tidak bisa menerima keadaan, pikirannya terus melawan realitas maka munculah keadaan hati yang gelisah, marah, iri, dan kecewa. Secara idealnya, ketika seseorang nerimo, ia tidak lagi terjebak dalam keinginan yang tak ada habisnya. Ia bisa melihat hidup dengan lebih jernih, memilih tindakan dengan tenang, dan tidak mudah dikendalikan oleh emosi. Dalam falsafah Jawa, nerimo bukan berarti menyerah, tapi cara untuk hidup selaras dengan alam dan diri sendiri, agar hati tetap ringan meski hidup tak selalu sempurna.
Nerimo adalah pelajaran yang tidak pernah selesai ia sebuah latihan batin yang terus berjalan seumur hidup. Saya pun masih manusia biasa, kadang bisa menerima, kadang masih melawan keadaan. Namun justru di situlah maknanya: setiap kali kita belajar nerimo, kita belajar sedikit lebih dalam tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang cara berdamai dengan hidup. Tidak ada yang langsung sempurna; yang penting adalah terus mengingat bahwa ketenangan tidak datang dari dunia luar, tapi dari hati yang mau belajar menerima dengan tulus.
Ketika usia muda, kita sering ingin mengubah dunia; ketika agak berumur, kita belajar bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah pada menguasai keadaan, tapi pada menerima apa adanya dengan hati tenang. Penuaan membawa kesedaran bahawa tidak semua perkara perlu diperjuangkan.. ada yang cukup untuk diterima, difahami, dan dilepaskan.
Dengan bertambah usia (at the rate im feeling now), nerimo bukan lagi tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan jiwa, hasil dari pengalaman panjang antara harapan, kehilangan, dan penemuan makna sebenar kehidupan.
Dalam hidup, nerimo adalah jalan yang mengajarkan kita lebih dari sekadar sabar. Ia melatih hati menjadi ikhlas, menerima hasil tanpa penyesalan berlebihan. Ia mengajarkan rasa syukur, menghargai apa yang dimiliki, dan menumbuhkan keteguhan saat menghadapi cobaan. Dari nerimo, lahir kebijaksanaan untuk melihat hikmah di balik kesulitan, kesederhanaan hidup yang menenangkan, dan kedamaian batin yang tidak mudah terguncang. Ia mengajarkan hadir sepenuhnya pada saat ini, menahan gelisah masa lalu dan takut masa depan, serta mengendalikan emosi agar hati tetap ringan. Seperti sungai yang tenang, nerimo mengalirkan kehidupan dengan damai, mengajarkan kita menari seirama dengan arus dunia, tanpa memaksakan kehendak, namun selalu selaras dengan rasa dan nurani.Hal ini adalah filosopi yang diterapkan sambil mempelajari meditasi untuk mendapatkan perubahan optimal.
No comments:
Post a Comment