Mahar bukan berarti "jual beli ilmu", tapi sering di jadikan ujian awal murid – apakah serius atau hanya lip service.
Dalam tradisi tertentu (terutama silat yang terhubung dengan tasawuf dan tarekat), ilmu tidak boleh dimahar secara uang, tapi melalui khidmat dan pegabdian terhadap Syeikh/Guru.
Sebagian guru zaman sekarang menyederhanakan mahar menjadi seikhlasnya, atau sekadar syarat administratif.
Zaman moderen sering dikaitkan dengan “Fees” untuk kesinambungan dan survival Sang Guru atau perguruan. Di sini pemaknaan “Fees” hanya sebatas konsep ilmu ekonomi moderen dimana hukum supply-demand, kelangsungan pelajaran (teachers transport fees, sewa tempat dan duit penat), dan “cari makan” Namun di pendapat penulis.. ini tak begitu sama dengan Pengeras/Mahar dalam artikata tradisional. Fees can give you the access to training sementara Pengeras adalah spesifik (But that is just my opinion).
Bentuknya
1. Wang/uang: nominalnya tetap atau seikhlasnya, kadang dengan angka ganjil atau keramat (786, 111,79 dsb..) nombor yang terhubung dengan numerology arab (another topic for another time)
2. Barang simbolik: keris kecil, batu akik, minyak tertentu, bunga.
3. Tirakat: puasa, wirid, tapa, semedi sebagai bagian dari mahar non-materi tebus ilmu dengan lelaku spiritual.
4. Buah tangan Barang Harian: Kopi, Beras, Ayam. Makanan
Mindset orang dulukala
Biasanya, pengeras ini dipercaya untuk “mengunci” atau “mengaktifkan” energi dari ilmu tersebut, supaya tidak luntur atau mudah hilang.
Mencari barokahmemudahkan urusan guru. Logiknya di sini, jika seseorang guru senang hati dengan murid, maka perjalanan pelajaran pun lancar. Senang hatinya kerana menandakan murid datang bukan dengan tangan kosong dan penuh adab
Di Nusantara (even Philippines), mahar ilmu adalah sebuah bentuk penghargaan, syarat, atau persembahan yang diberikan oleh murid kepada guru sebagai pengganti atau pelengkap dalam proses pewarisan ilmu.
On a personal sidenote, di konteks moderen sebagai doctor, hal ini didapati juga didalam beberapa segmen masyarakat Indonesia di Singapura tak kira PR, Work Permit, EPass.. “yang penting ada buah tangan sebelum Perawatan” (kalau after tu ‘Reward’ la kan..) kerana menganggap “Dokter sebagai wasilah” lucunya, Kadang bukan saja duit tapi bentuk Rendang dan buah buahan . Bahkan Chindo-Sing (Cina Indonesia-Singaporean) pun masih ada yang percaya konsep semacam ini, memegang kepada : "Adat menghormati" sosok Guru, Ustaz, Guru Silat dan Doctor ..Maka dapat disimpulkan, dalam tradisi keilmuan silat dan waemah kebatinan dan perobatan pun, Mahar menjadi medium simbolik yang menguatkan penerimaan ilmu.
Catatan Pereng Sabreng
No comments:
Post a Comment