Monday, October 20, 2025

Legowo

Meskipun akar silat saya berasal dari Madura, saya pernah menekuni filosofi Jawa yang kaya dengan kearifan batin. Dari Madura saya belajar keberanian, keteguhan, dan kekuatan tubuh yang nyata. Dari filosofi Jawa saya belajar menenangkan hati, membaca gerak dan niat, serta menghargai keselarasan antara ego dan alam semesta. Perpaduan ini mengajarkan bahwa seorang pendekar tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga bijak dalam jiwa, mampu bergerak dengan penuh kesadaran dan menerima kenyataan dengan lapang dada. Dalam pengalaman saya, ini adalah pelajaran dualisme “Hard and Soft” yang dibawa oleh Mas Mochamad Amien, yaitu kemampuan bertindak sesuai situasi. Orang Madura terkenal keras, orang Jawa lembut. Manusia matang tidak harus terus-menerus keras atau selalu lemah lembut, tetapi tahu kapan harus menegaskan diri dan kapan harus menundukkan ego.

Legowo bukan sekadar kata. Ia adalah keadaan hati yang menerima, tanpa menolak kenyataan, tanpa harus menang dalam setiap perselisihan. Dalam silat, seorang pendekar yang legowo tidak berarti pasif atau lemah. Ia memahami bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, dan energi yang dihabiskan untuk menolak kenyataan seringkali lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk menerima dan bertindak bijaksana. Filosofi legowo menuntun kita untuk melihat kekalahan bukan sebagai aib, tetapi sebagai guru. Saat rencana tidak berjalan sesuai kehendak, saat manusia lain bertindak melawan harapan kita, legowo muncul sebagai kekuatan batin yang menyeimbangkan ego. Inilah seni menahan diri dari amarah, iri, atau kekecewaan yang berlebihan.

Dari sudut psikologi modern, legowo sejalan dengan konsep emotional regulation, yaitu kemampuan mengelola emosi agar tidak menguasai tindakan kita. Seorang pendekar yang legowo mampu menyadari kelemahan dan kekuatan diri, memahami batas kemampuan, dan menyesuaikan langkahnya dengan bijaksana. Dengan kesadaran ini, gerakan tubuh dan hati selaras, keputusan menjadi tepat, dan diri tidak terguncang oleh hasil yang tidak sesuai harapan.

Dalam perspektif Islam, legowo dapat didekati melalui sabar, tawakkul, dan ridha. Sabar tercermin saat seseorang mampu menahan diri dari amarah, kecewa, atau dendam ketika menghadapi cobaan. Tawakkul mengajarkan kita melakukan usaha terbaik, namun menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Ridha adalah keadaan hati yang menerima takdir Allah dengan lapang dada. Kombinasi ketiganya menjadikan legowo sebagai kemampuan menerima kenyataan, mengendalikan ego, dan tetap bersikap baik dalam setiap kondisi.

Legowo juga mengajarkan bahwa hidup adalah aliran, bukan pertarungan terus-menerus. Seorang pendekar yang legowo tetap bertindak, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya di tangannya. Hatinya tidak terguncang oleh pujian atau celaan. Ia berjalan dengan ringan, tetapi tegas. Ia menyadari bahwa melepaskan bukan berarti kalah, tetapi memberi ruang bagi pertumbuhan, kebijaksanaan, dan kedamaian yang sejati. Inilah inti dari jalan pendekar: menguasai tubuh, menenangkan hati, dan menyelaraskan diri dengan dunia tanpa kehilangan diri sendiri.

Maka di akhir tulisan ini, saya ajak pembaca untuk berhenti sejenak. Renungkan langkah anda hari ini, gerak hati dan tindakan anda. Di tengah kerasnya dunia dan lembutnya hati, di mana kita berdiri? Apakah kita menegaskan diri terlalu kaku, atau melunak tanpa arah? Apakah kita menerima kenyataan dengan bijak, atau terus menolak dengan sia-sia? Sebab kesadaran itu, seperti jurus silat yang sempurna, baru lahir ketika kita mampu menatap diri sendiri tanpa menipu diri, dan memahami posisi kita di tengah aliran kehidupan.

No comments:

Post a Comment