Showing posts with label training methodology. Show all posts
Showing posts with label training methodology. Show all posts

Wednesday, June 10, 2026

Certified Personal Trainer - NCSF

The knowledge gained through NCSF certification further strengthens my ability to integrate functional fitness, physical conditioning, injury prevention, and movement efficiency into both OMT practice and martial arts training. By combining modern exercise science with traditional Silat principles, I aim to help individuals develop greater strength, resilience, mobility, and overall well-being...







Thursday, April 23, 2026

Principle of adaptation

Setelah berhasil meraih ilmu Physical Fitness Trainer- NASM saya mempelajari beberapa hal yang dapat di applikasikan ke coaching di konteks silat. Dalam konteks sains sukan/sport-science, Saya tertarik dengan beberapa hal dan akan saya bagikan ilmunya sedikit sebanyak (one-by-one) yang kali ini membahas basicnya terlebih dahulu.. yakni Principle of Adaptation.  

 "Principle of adaptation" merujuk kepada keupayaan tubuh untuk menyesuaikan diri terhadap tekanan latihan secara berperingkat. Setiap rangsangan sama ada fizikal, neuromuskular, atau kognitif akan mencetuskan perubahan apabila dilakukan secara konsisten dan terkawal. Tubuh tidak berubah secara rawak tetapi mengikut apa yang dilatih. Oleh itu, konsep seperti kekhususan latihan, peningkatan beban, dan pemulihan menjadi asas penting. Tanpa rangsangan yang sesuai, tiada adaptasi berlaku. Tanpa pemulihan yang mencukupi, adaptasi tidak sempat terbentuk.

Dalam silat, prinsip ini perlu diterjemahkan secara praktikal dan bukan sekadar teori. Latihan bukan hanya tentang kekuatan tetapi tentang bagaimana tubuh belajar bergerak dengan efisien dalam konteks sebenar seperti jarak, masa, keseimbangan, dan kesedaran situasi. Latihan ulangan membantu membina jalur saraf supaya respons menjadi lebih automatik. Latihan berperingkat pula memastikan tubuh mampu menyesuaikan diri tanpa kecederaan. Latihan berpasangan yang terkawal memperkenalkan tekanan secara realistik dan membolehkan pesilat mengurus stres tanpa kehilangan struktur. Adaptasi dalam silat bermaksud menjadi lebih tenang, lebih tepat, dan lebih menjimatkan pergerakan.

Kesilapan yang sering berlaku ialah terlalu mengejar intensiti tanpa memahami proses. Ramai yang ingin cepat mahir lalu mengabaikan asas dan memaksa tubuh melebihi kapasiti semasa. Kesan akhirnya bukan peningkatan tetapi keletihan berpanjangan, kecederaan, dan prestasi yang tidak stabil. Adaptasi sebenar memerlukan kesabaran dan disiplin melalui rangsangan yang betul, diikuti pemulihan yang mencukupi, kemudian diulang dengan peningkatan yang bijak. Dalam silat, matlamatnya bukan sekadar mampu bertahan hari ini tetapi memastikan tubuh dan kemahiran terus berkembang untuk jangka panjang.

1. Build the Base (Control & Structure First)
Mulakan dengan pergerakan asas seperti stance, footwork, dan positioning. Fokus pada keseimbangan, pernafasan, dan alignment sebelum kelajuan atau kuasa. Tubuh perlu faham bentuk yang betul dahulu sebelum tekanan ditambah.

2. Apply Progressive Stress (Tambah Tekanan Berperingkat)
Naikkan cabaran secara beransur seperti menambah kelajuan, resistance, atau variasi serangan. Elakkan lonjakan mendadak. Prinsipnya mudah, sedikit lebih mencabar dari biasa, bukan terus maksimum.

3. Integrate Realistic Context (Latihan Situasi Terkawal)
Masukkan drill berpasangan dan sparring ringan untuk bina adaptasi terhadap tekanan sebenar. Kawal intensiti supaya pelajar boleh belajar membaca situasi, bukan sekadar survive.

4. Recover and Repeat (Pemulihan & Konsistensi)
Berikan ruang untuk pemulihan supaya adaptasi berlaku. Ulang latihan secara konsisten dengan penambahbaikan kecil setiap sesi. Tanpa recovery, tiada peningkatan sebenar.

Inti:
Latih dengan struktur, tingkatkan secara bijak, uji dalam konteks, dan ulang dengan disiplin


Wednesday, December 31, 2025

Pre-emptive self-defence

In traditional silat thinking, pre-emptive self-defence does not mean attacking first out of anger or ego. It means acting early to prevent harm when danger is already forming and avoidance is no longer possible. The old teachers understood something modern law also recognises: waiting too long can be more dangerous than acting decisively. But action must be rooted in necessity, proportionality, and awareness, not impulse.

Pre-emptive self-defence begins long before physical contact. It starts with reading intent from posture, distance, breath, tone of voice, and positioning. Silat trains the eyes and body to notice when space is being closed, exits are blocked, or aggression is escalating. A timely step offline, a firm verbal boundary, or repositioning to safety is already pre-emptive action. When I studied Kali and Kuntau - the cousins of silat -, I realised these two arts sharpen this pre-emptive mindset further (I already had this in Silat) when at close range, where tactile awareness and structure allow one to neutralise danger the moment intent becomes unavoidable.

When physical action is required, traditional silat teaches interruption, not punishment. The goal is to break balance, disrupt coordination, and create a window to disengage and leave. This is why older systems favour angles, off-timing, and simple mechanics over prolonged exchanges. The emphasis is not on “winning,” but on ending the threat quickly with the least force necessary. This aligns closely with modern legal expectations of self-defence.

For today’s practitioner, the application of pre-emptive concept in self-defence must be coupled with maturity. It requires understanding local laws, emotional control, and ethical restraint. Silat and kuntau, when taught properly, develop this judgment alongside physical skill. The old saying applies: cepat bertindak bukan berarti harus kasar ... True pre-emptive defence is calm, measured, and grounded in responsibility.

Ibarat musuh baru masuk, kita sudah serang... Ibarat baru Musuh datang, kita sudah selesai.. 

Saturday, December 27, 2025

Adult Friendly Training

Is it possible to have a personal protection system for adults who want real self-defence without damaging their body or joints. YES it is!!

Personal protection, when approached without consideration of the body’s structure and limits, often becomes a source of long-term harm rather than safety. Many training methods rely on youth, strength, pain tolerance, or repeated impact, assumptions that do not hold for adults who carry age, work strain, prior injury, or accumulated stress. A system intended for adults must therefore respect the reality of the body as it is, not as it once was.

From a traditional perspective, preservation of the body has always been implicit within effective practice. Techniques that damage joints, compress the spine, or exhaust the nervous system weaken one’s capacity over time and contradict the deeper purpose of self-protection. Practical self-defence is not measured by force or aggression alone, but by the ability to remain functional, mobile, and clear-minded after an encounter has ended.

This understanding becomes increasingly important with age. Adults cannot afford training methods that trade short-term effectiveness for long-term degeneration. The body must remain a reliable instrument, capable of work, family responsibility, and continued learning. A personal protection system must therefore emphasise structure, alignment, timing, and awareness rather than brute strength or repeated trauma.

In this context, self-defence is inseparable from body knowledge. Awareness of joint integrity, balance, breath, and stress response allows techniques to be applied with efficiency rather than excess. When the body is preserved, training becomes sustainable, and skill continues to mature rather than decline.

The aim of such a system is not domination or display, but continuity..which can mean the ability to protect oneself while maintaining health, dignity, and responsibility over the long term. This principle underlies all discussion and exploration presented here.

In my approach, I resolve this by teaching methods that are effective without being extractive. Adults come to training with responsibilities, injuries, and years already written into their joints so every drill is built to sharpen function while preserving structure, aligning breath, posture, and intent so power emerges without grinding the body down. Progress is measured not by how broken one feels after class, but by how capable one remains years later. 

This is old knowledge dressed in modern understanding: true effectiveness is sustainable, and real skill leaves the practitioner stronger in life, not depleted by practice. All this is possible via drill based art. 


Monday, November 3, 2025

Keseimbangan sikap

Jadilah kuat tapi tidak kasar, bersikap baik tapi tidak lemah, berani tapi tidak menggeretak, bersikap rendah hati tapi tidak malu-malu, percaya diri tapi tidak sombong.

Kalimat ini bukan sekadar nasihat; ini adalah jalan tengah yang sulit dijalani oleh kebanyakan manusia. Di dunia yang penuh dengan kebisingan ego dan kepalsuan citra, menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan hati adalah ujian sejati. Banyak orang ingin terlihat tangguh, tapi dalam proses itu mereka kehilangan rasa. Ada pula yang ingin menjadi baik, namun akhirnya menjadi lemah karena takut disalahpahami. Maka, keseimbangan adalah kuncinya dan keseimbangan itu hanya lahir dari kesadaran diri. Almarhum guru selalu mengingatkan saya soal "jalan tengah" yang maknanya serupa seperti di atas (yang saya petik ini adalah kata kata umum aka pepatah yang sering muncul di socmed user Indonesia).

Kalau di fikir-fikirkan, kita sering menghubungkaitkan persilatan dan beladiri dengan hal hal beratribut keras, kasar dalam rangka ketanguhan tapi lupa pada sisi lain, dalam setiap perjalanan hidup seorang pesilat, ada dua arus yang saling bertemu kekuatan dan kelembutan, keberanian dan kebijaksanaan. Keduanya bukan musuh, melainkan saudara kembar yang harus berdamai di dalam diri. Terlalu condong ke satu sisi, maka hilanglah harmoni. Di sinilah letak ujian sejati: bagaimana menyeimbangkan tenaga kasar dan tenaga halus, agar langkah kita tidak hanya meninggalkan jejak di tanah, tapi juga gema di dalam jiwa.

Kita tidak sedang berlomba menjadi yang paling gagah, atau yang paling suci. Yang kita cari sebenarnya adalah ketenangan di tengah badai, kemampuan untuk tetap berdiri tanpa harus menjatuhkan siapa pun. Silat mengajarkan hal ini dengan sangat halus yakni tangan bisa menangkis, tapi hati harus tetap jernih. Ilmu bela diri sejati bukan soal memukul, tapi mengenal diri sendiri: kapan harus maju, kapan harus diam, kapan harus melepaskan.

Di dalam diam yang penuh kendali (control), di dalam keputusan yang tidak impulsif, di sanalah seseorang menemukan kekuatan sejati bukan untuk menguasai orang lain, tapi untuk menaklukkan dirinya sendiri.

Setiap gerak, setiap kata, setiap napas yang kita ambil adalah cermin dari keadaan batin kita. Jika engkau ingin menjadi pesilat sejati, yang mumpuni bukan saja di gelanggang, tapi dalam kehidupan maka belajarilah seni menjadi kuat tanpa kehilangan kasih, dan menjadi lembut tanpa kehilangan keberanian. 

Sedulur Papat Lima Pancer dalam Silat: Filosofi dan Praktiknya

Dalam tradisi Jawa, manusia selalu ditemani oleh empat saudara gaib yang disebut sedulur papat: Kakang Kawah (air ketuban), Adi Ari-ari (plasenta), Getih (darah), dan Puser (tali pusar). Keempatnya selalu menyertai manusia sepanjang hidup, mengelilingi Pancer, yaitu inti jiwa atau pusat kesadaran diri. Konsep ini memiliki makna yang sangat dalam dalam silat, bukan hanya sebagai seni bertarung, tetapi juga sebagai jalan pembentukan manusia seutuhnya.

Pertama, filosofi sedulur papat menekankan kesadaran tubuh. Tubuh bukan hanya wadah untuk berkelahi, tetapi rumah bagi keempat sedulur. Ketika tubuh dirawat dan dijaga, keseimbangan keempat unsur ini tetap harmonis, sehingga tenaga menjadi kuat dan gerakan pesilat lebih sinkron. Kedua, kesadaran rasa sangat penting. Keempat sedulur mewakili empat arah emosi manusia: senang, sedih, takut, dan marah. Seorang pesilat belajar mengenali, menerima, dan mengendalikan emosi tersebut. Jika emosi tertentu menguasai Pancer, gerakan silat bisa menjadi tidak terkendali.

Selain itu, kesadaran alam juga diajarkan. Silat menempatkan manusia sebagai bagian dari semesta, dan sedulur papat mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sendirian. Unsur bumi, air, api, dan angin hadir sebagai penjaga yang ikut memengaruhi gerakan. Gerakan silat pun mencerminkan harmoni keempat unsur ini. Terakhir, kesadaran ruhani menjadi inti dari latihan silat. Pancer, pusat kesadaran, menentukan bagaimana pesilat bertindak dalam menghadapi situasi. Bila sedulur papat selaras dengan Pancer, pesilat memiliki insting tajam, pikiran jernih, dan gerakan yang menyatu dengan keadaan.

Dalam menyerang, setiap unsur sedulur papat memiliki karakteristik sendiri. 

  • Kakang Kawah (Air) melambangkan serangan yang lentur dan mengalir – konsep ‘flowing’-, mengikuti celah lawan tanpa terlihat kaku. 
  • Adi Ari-ari (Bumi) melambangkan serangan yang mantap dan berakar, memberi bobot penuh pada tendangan atau bantingan – konsep ‘groundedness’. 
  • Getih (Api) melambangkan serangan cepat dan penuh semangat, memberi nyawa pada gerakan, tetapi harus dikendalikan agar tidak merugikan diri sendiri – konsep ‘energy’. 
  • Puser (Angin) melambangkan serangan halus dan cepat yang mengguncang keseimbangan lawan – konsep - leverage. 

Semua serangan diarahkan ke Pancer, pusat kesadaran, sehingga gerakan menjadi hidup, selaras, dan efektif.

Dalam pertahanan pula, filosofi sedulur papat juga diterapkan. 

  • Kakang Kawah menjadi benteng yang lentur dan adaptif, mengalirkan tenaga lawan sambil menjaga jarak. 
  • Adi Ari-ari menjadi benteng stabil, menahan serangan dengan tubuh yang kokoh dan berakar. 
  • Getih menghadirkan benteng cepat, langsung membalas lawan untuk mematahkan niat serangan mereka. 
  • Puser hadir dalam pertahanan yang halus dan cepat, menghindari garis serang lawan dan mengganggu keseimbangan mereka. 
Semua pertahanan ini harus bermuara pada Pancer, sehingga setiap tindakan bukan sekadar reaksi mekanis, tetapi keputusan bijak yang menghemat tenaga dan memaksimalkan hasil.

Dengan demikian, sedulur papat lima pancer bukan sekadar mitologi atau cerita kuno, tetapi panduan hidup dan silat. Tubuh dijaga, emosi dikendalikan, alam dihargai, dan jiwa disadari. Serangan dan pertahanan yang selaras dengan Pancer membuat pesilat bukan hanya kuat dan lincah, tetapi juga bijak dan harmonis. Silat, melalui filosofi ini, menjadi jalan pembentukan manusia paripurna, bukan sekadar seni bela diri.

As Above, So Below: Keselarasan Alam dan Manusia

Frasa “As above, so below” mengajarkan bahwa apa yang terjadi di alam semesta atau dunia yang lebih tinggi tercermin di dunia manusia dan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pola, hukum, dan keseimbangan yang berlaku di tingkat besar juga muncul di tingkat kecil.

Contohnya, tubuh manusia adalah cermin dari alam semesta. Organ dan sistem tubuh bekerja selaras seperti alam yang luas. Pikiran dan kesadaran batin juga tercermin dalam perilaku nyata kita. Dalam filosofi silat atau sedulur papat, keseimbangan internal Pancer memengaruhi gerakan, pertahanan, dan serangan. Jika Pancer selaras, tubuh dan jiwa bergerak harmonis. Jika tidak, tindakan menjadi kacau dan tidak efektif.

Makna inti dari “As above, so below” adalah pentingnya keselarasan antara dunia batin dan dunia nyata, antara prinsip besar dan praktik sehari-hari. Dengan memahami hal ini, manusia belajar menyeimbangkan diri, menjaga keharmonisan, dan bertindak bijak dalam setiap langkah hidupnya.

Bagi pesilat, memahami filosofi bukan sekadar membaca teori atau modal bahan termenung, melainkan menyelaraskan tubuh, pikiran, dan jiwa agar gerakan menjadi efektif dan bijak. Filosofi mengajarkan  menyerang, menahan, dan bagaimana memanfaatkan tenaga lawan dengan tepat dimana hal tersebut yang tidak bisa dipelajari hanya dari latihan fisik. Dengan kata lain, berfilosofi membuat pesilat tidak sekadar “bergaduh”, tetapi bertindak dengan kesadaran, efisiensi, dan kendali penuh, sehingga setiap pukulan, tangkisan, atau langkah bukan hanya kuat, tetapi juga selaras dengan pusat kesadaran atau Pancer. Tanpa filosofi, bela diri hanyalah otot tanpa arah; dengan filosofi, bela diri menjadi seni dan jalan hidup.


Thursday, October 30, 2025

Effective transfer of knowledge

Effective transfer of knowledge happens when the giver does not just hand over information but shapes it so the receiver can truly understand, absorb, and apply it. This requires clarity, structure, and relevance, speaking in a way that connects to the learner’s background and current capacity. A teacher, mentor, or master must adapt the flow of knowledge, using examples, stories, and demonstrations that touch both the intellect and the feeling. Without this bridge, knowledge remains abstract, floating, and easily forgotten.

The receiver has an equal role in making the transfer effective. Openness, humility, and active practice are key. Knowledge is not merely collected, it is cultivated by questioning, testing, and living it. True transfer happens when the learner transforms knowledge into wisdom, something alive, usable, and embodied. In this way, the process is not one-directional but a living exchange, where both teacher and student are refined through the act of sharing.Just as the blade sharpens against the stone and the stone gains purpose from shaping the blade.

I see the effective transfer of knowledge as important because knowledge by itself has little value if it is not understood, applied, and carried forward. When ideas, skills, and wisdom are passed on clearly and meaningfully, they do not die with one person but continue to shape others and grow across generations. It ensures that what has been learned through effort, struggle, and experience does not remain hidden but becomes a living legacy that can guide, protect, and empower those who come after. Long gone are those days where 30 langkah (equivalent katas) that must be memorised "do-and-done-the-same-day-or-else".. Fine if you can commit to large data but what about those who cant? but yet, it is also not about babying your students but to accomadate various learning challenges to make other people's journey meaningful and bearable. DRILL BASED arts by us, solves this issue if you want to lean self defence and weapons.(but for sure it cannot solve other things like athlethic pursuit, kemantapan kesenian dll). 

But alas, i feel intentions nomatter how noble can be mistranslated and misconstrued. It will take time for people to understand the intent of pelajaran buah pukul-drill based art.     


Wednesday, October 29, 2025

Latihan satu tekel

Latihan satu tekel ini adalah cara untuk melatih agar tidak boros gerak (wasted movement) dan peka ruang (proprioception), karena seorang pesilat sejati mampu menjaga keseimbangan, serangan, dan pertahanan dalam ruang sekecil ubin lantai; di sini kau belajar menanam tapak kuda-kuda yang kuat - (tapi tidak terlalu lebar), mengatur nafas, membaca arah serangan, dan merespons dengan tepat tanpa melangkah keluar, sebab menurut guru "bila kita bisa menguasai satu tekel dengan penuh kesadaran maka gelanggang yang luas pun akan tunduk pada kendali gerak kita". 

Permainan drill satu tekel sangat sesuai untuk Close Quarter Combat (CQC), karena prinsipnya sama: bergerak dalam ruang sempit dengan efisiensi, tanpa membuang tenaga dan langkah. Dalam ruang sempit, musuh bisa datang dari arah depan, samping, atau bahkan dari dalam jarak pelukan. Drill satu tekel melatihmu menjaga kuda-kuda tetap kokoh, menggunakan siku, lutut, kepala, sapuan pendek, serta tangkisan rapat yang bisa dilepaskan tanpa bergeser jauh. Ini menanamkan kesadaran bahwa di jarak dekat, yang menentukan bukan kelincahan berlari, tetapi ketepatan, keluwesan, dan kecepatan refleks. Dengan begitu, satu tekel jadi medan latihan kecil yang memaksa pesilat berfikir seperti sedang di koridor sempit, di dalam kendaraan, atau di ruang kecil, tempat di mana CQC benar-benar terjadi.








Thursday, October 23, 2025

Tenaga dalam di aspek Niat dan perbuatan

Dalam tubuh manusia, ada dua jenis tenaga, tenaga kasar dan tenaga halus. Tenaga kasar menggerakkan otot dan tulang, lahir dari makanan, latihan, dan pernapasan. Sedangkan tenaga halus berasal dari niat, dari keinginan batin yang paling dalam. Keduanya berpadu di titik yang disebut rasa, di sanalah ilmu tenaga dalam sejati lahir. Ketika seseorang menyalurkan niat dengan kesadaran penuh, ia menggerakkan sesuatu yang lebih halus dari otot, gelombang batin. Gelombang ini mengalir melalui napas, menyatu dengan aliran darah, lalu keluar lewat pandangan, sentuhan, bahkan diam. Maka, pendekar sejati tak perlu mengeraskan tubuh, cukup mengeraskan niat dan meneguhkan rasa. Tenaga dalam bukanlah soal kuat atau sakti, melainkan soal selaras. Jika niatmu bimbang, tenaga pun tercerai. Jika niatmu lurus dan jernih, tenaga mengalir tanpa hambatan. Seorang guru pernah berkata, ketika niatmu tak lagi untuk menaklukkan, tapi untuk menyatu, barulah tenaga dalammu menjadi kehidupan itu sendiri.

Segala sesuatu di alam bermula dari niat, bahkan sebelum gerak, kata, atau napas. Niat adalah benih energi, dan setiap benih akan menumbuhkan buah sesuai sifatnya. Niat yang lahir dari kasih, welas, dan keikhlasan akan memancar menjadi tenaga murni, bersih, lembut, namun kuat seperti cahaya matahari pagi. Ia menyembuhkan, menenteramkan, dan melindungi. Inilah tenaga yang disebut para guru sebagai daya nurani atau tenaga kasih semesta. Bila benihnya baik, tumbuhlah tenaga murni; bila busuk, lahirlah getaran hitam. Niat yang lahir dari kasih, ikhlas, dan doa akan berubah menjadi tenaga murni yang lembut namun kuat. Ia mengalir sebagai daya penyembuh, penenang, dan pelindung. Tapi niat yang timbul dari iri, dendam, atau kebencian memancar sebagai ‘ain, pandangan berat yang membawa lelah, sakit, dan kesialan. ‘Ain bukan sekadar mata yang jahat, tapi niat yang tercemar dengan harsat buruk yang memancar lewat pandangan, kata, dan rasa.

Namun begitu, niat tidak menghalalkan cara. Banyak yang tersesat karena merasa niatnya baik, padahal caranya menyalahi adab dan tidak sejalan dengan keseimbangan alam. Pesilat sejati tidak hanya menjaga niatnya, tapi juga menimbang langkahnya. Sebab tenaga yang lahir dari niat baik tapi dilakukan dengan cara yang salah akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Maka sejatinya latihan silat bukan sekadar menguatkan jurus, tapi menghaluskan niat dan menuntun cara, agar tenaga yang keluar dari diri kita menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar. 

Seorang pendekar sejati tidak cukup hanya memiliki niat baik. Niat harus selaras dengan pikiran yang jernih dan budi pekerti yang luhur. Bila niat baik bertemu dengan pikiran yang gelap atau cara yang sembrono, tenaga yang lahir bisa menyesatkan, meski asalnya murni. Begitu pula, budi pekerti menjadi pengikat yang menahan diri dari keserakahan, amarah, dan kesombongan. Ketika niat, pikiran, dan budi pekerti selaras, setiap gerak menjadi doa, setiap tenaga menjadi rahmat, dan setiap langkah menjadi pelindung, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi bagi orang lain dan alam semesta. 

Saturday, October 18, 2025

Beyond Perfection: The Way of Harmony in Silat

Every silat journey begins with a question: what are we truly seeking? Some say victory, others say mastery, and some even say perfection. Yet the deeper we train, the more we see that perfection is not a destination but a shadow on the horizon. The closer we walk toward it, the further it seems to move away. Still, we must not stop striving. The effort itself sharpens our movements, steadies our breathing, and strengthens our spirit. If we stop seeking to improve, we begin to weaken. If we continue, even while knowing perfection cannot be caught, we keep growing without end.

Silat also teaches us to remain humble. There are moments in training when we must pause, not from weakness, but from awareness. In those still moments we reflect on what we already know: a strike we have learned, a step we have mastered, or a mistake that has taught us a lesson. Then we hold it against what we do not yet know.. the deeper wisdom passed down through generations. This awareness does not make us small. It grounds us, for true strength lies not in claiming complete knowledge, but in recognizing how much still lies beyond reach.

The seeker of knowledge must never claim to have reached its end, for knowledge has no shore. What we hold is only a drop, while the ocean stretches beyond sight. To keep walking the path is better than to boast of arrival, for the one who walks is alive in his learning, while the one who thinks he has arrived is already lost.

Here we are reminded of the words of Imam Zarnuji in Alim muta'lim, who said: “Knowledge is not attained except through six things: intelligence, desire, patience, sufficiency, the guidance of a teacher, and length of time.” The path of silat follows the same law. Without desire, we cannot endure hardship. Without patience, we cannot overcome struggle. Without a teacher, we lose direction. Without time, our roots remain shallow.

When we train with this awareness, we see that what we know will always be smaller than what remains hidden. This humility does not weaken us but it completes us. It is in the balance between striving and stillness, between knowledge and mystery, that we move past perfection. Perfection is stiff and unchanging, but harmony is alive. Harmony is when body, mind, and spirit move as one. It is when the silat player no longer fights against the world but flows with it. In that state we are not perfect, but we are whole. And in silat, wholeness is greater than perfection, for it is unity with the rhythm of life itself.

Friday, October 17, 2025

Kecenderungan Murid

Dalam dunia silat memang terdapat bermacam-macam kecenderungan murid, ibarat aliran sungai yang banyak cabangnya tetapi berpunca dari satu sumber yang sama yaitu niat untuk mempertahankan diri dan menegakkan martabat insan.

Antara kecenderungan yang sering terlihat:

Kecenderungan Tempur dan beladiri – Fokus kepada teknik bertempur, kecekapan gerak, kekuatan fizikal, dan strategi perlawanan. Biasanya ini lahir dari keperluan mempertahankan diri atau sistem keamanan zaman dahulu.*

Kecenderungan Olahraga (Sportif) – Menjadikan silat sebagai sukan, dengan peraturan, sistem markah, dan pertandingan. Di sini silat menjadi medium disiplin, kesihatan, dan semangat juang.*

Kecenderungan Tari dan Adat (Estetik dan Budaya) – Menekankan keindahan gerak, irama langkah, dan makna simbolik dalam bunga silat. Ini mencerminkan nilai seni, budaya, dan jati diri bangsa.*

Kecenderungan Kerohanian (Tasawuf dan Kebatinan) – Melihat silat sebagai jalan pembersihan diri dan penyatuan antara jasmani, rohani, dan alam. Di sini gerak menjadi zikir, dan diam menjadi tafakur.*

Kecenderungan Perobatan dan Tenaga Dalam (Penyembuhan) Ada juga di beberapa perguruan di mana silat menjadi alat memahami tubuh, tenaga, dan keseimbangan. Ada sebahagian guru silat yang juga tabib kerana faham “gerak” di dalam dan di luar diri. Mengingat kembali di zaman kampung, guru silat juga dianggap sebagai ahli perobatan dan tak sedikit juga dari mereka itu guru agama.*

Harus saya tegaskan, menurut almarhum guru kami, di konteks murid dewasa tidak ada kecenderungan yang salah, yang salah itu apabila sang guru :

1. Tidak menempatkan bakat murid di tempat yang benar.

2. Memaksa murid untuk "Supaya harus bisa". (mengingatkan tak semua murid lahir cerdas). Bagaimana pula kalau muridnya kelahiran serba kekurangan upaya (bukan soal OKU 100% tapi tidak dapat membuat tendangan kerana cedera atau kelahiran 'congenital' menurut beliau seperti itu juga layak mendapat pelajaran silat). 

3. Memaksa diri untuk meberikan materi ke murid luar dari jangkauan ilmu nya sendiri (tidak jujur).

*pecahan yang lebih mendetail di atas boleh di lihat di post saya yang lalu  

Tugas seorang guru sebenarnya lebih dari sekadar mengajar. Guru yang baik bukan hanya mahu muridnya pandai, tetapi mahu mereka menjadi diri sendiri dengan cara yang terbaik. Setiap murid mempunyai bakat dan kecenderungan yang berbeza. Ada yang cepat memahami gerak, ada yang sabar dan tekun, ada juga yang kuat semangat tetapi lembut hatinya. Di sinilah peranan guru, iaitu mengenal kekuatan setiap murid dan membimbing mereka ke arah yang sesuai.

Dalam silat, hal ini sangat penting. Ada murid yang lebih sesuai dengan latihan tenaga dan ketangkasan, sementara yang lain lebih menonjol dalam seni bunga atau kefahaman makna gerak. Jika guru tersalah menempatkan murid, pelajaran itu akan menjadi berat bagi mereka. Tetapi jika guru tahu menyesuaikan cara mengajar dengan watak murid, maka pelajaran itu akan menjadi ringan dan menyenangkan. Murid belajar dengan semangat, bukan kerana terpaksa.

Seorang guru sejati tidak mengharapkan semua muridnya menjadi sama. Sebaliknya, dia mahu setiap murid berkembang dengan cara masing-masing. Itulah tanda guru yang benar, yang mampu melihat potensi dan membimbingnya dengan sabar.

Namun untuk melahirkan pesilat yang benar-benar menyeluruh, guru juga perlu menggalakkan murid agar berani keluar dari zon selesa mereka. Walaupun seseorang sudah mahir dalam satu bidang seperti tempur, tari, atau tenaga dalam, dia tetap perlu menerokai pelajaran lain untuk melengkapkan diri. Dengan cara itu, murid bukan sahaja kuat pada satu sisi, tetapi juga seimbang dari segi fizikal, mental, dan rohani.

Seperti pesan guru saya yang lebih kurang intinya, "jangan terlalu terikat pada kecenderungan, tetapi fahami asasnya, cabangnya, dan akhirnya tetap harus kembali kepada inti. Silat hanyalah wadah, bukan tujuan". Apabila murid memahami makna ini, mereka akan belajar bukan semata-mata untuk kuat atau menang, tetapi untuk mengenal diri dan hidup dalam keseimbangan.

Dari pengalaman saya pula, ketika mula mengajar dahulu saya memiliki sekitar enam puluh orang murid. Pada waktu itu, saya pernah ditegur kerana terlalu berfokus pada hasil dan angka, seolah-olah mengajar itu sekadar mengejar KPI. Pendekatan saya menurut beliau menjadi kaku dan penuh tekanan, hingga akhirnya saya sendiri merasa lelah dan kehilangan makna sebenar dalam mendidik. Padahal, arwah guru saya dahulu tidak pernah menuntut apa-apa selain keikhlasan dalam mengajar.

Ketika saya pulang ke padepokan (acara tahuanan), saya “digembleng” semula bukan dalam gerak, tetapi dalam jiwa. Saya diajar untuk lebih empati, lebih berjiwa rakyat, dan memahami watak serta keperluan setiap murid seperti seorang sahabat, bukan sekadar pelatih. Arwah guru sering berpesan kepada saya bahawa murid remaja dan murid dewasa sangat berbeza. Yang muda belajar dengan semangat, yang dewasa belajar dengan memahami konsep serta pengalaman. Maka tugas guru ialah menyesuaikan pendekatan, agar setiap murid merasa difahami dan dihargai dalam perjalanan mereka belajar.

Please understand that I am not here to preach about how to be a teacher to those who are already having your class and teaching, I am here to only share on the wisdom of our grandmaster Almarhum Mas Mochamad Amien   as a silat teacher dan pendakwah (secara "indirect") dimana beliau telah mengislamkan orang (mualaf) melalui jalan sebagai guru silat. Should there be any lapses in any of my teachings that is not at par to my teacher, understand that I am still learning the ways.   



Wednesday, October 15, 2025

Seeing, Pausing, and Acting with Clarity - Lihat, Dengar, Rasa

Knowledge fills your mind with facts, but wisdom fills your heart with understanding. When the heart is guided by wisdom, your actions become thoughtful and kind. 

Knowledge helps you know what can be done, but wisdom helps you know what should be done. It brings balance between thinking, feeling, and doing  so that your hands move not just with skill, but with purpose.

One hallmark of wisdom is the ability to take a step back and see things clearly before acting. It is the calm space between impulse and decision, where understanding grows. When you step back, you give yourself room to see the bigger picture  what is right, what is needed, and what can wait. In that quiet distance, emotion settles, reason returns,undettered by internal and external critics and from there our next move becomes both gentle and precise.

Muraqabah in Sufiism is the practice of watching over oneself, a pause that allows the heart to notice the stirrings of ego, desire, and impulse. In that quiet observation, the mind becomes a witness rather than a slave to emotion, and actions arise from awareness instead of reaction. It is through this inner vigilance that one learns patience, clarity, and the subtle guidance of the soul, turning each choice into a reflection of conscious presence rather than fleeting impulse.

One particular  NLP (Neuro Linguistic Programming) that I will share as an NLP Master, is the technique often called the “Perceptual Positions” exercise  (in line with the concept of what Im reffering to above).

  • First Position – You experience the situation through your own eyes, fully immersed in your own feelings and perspective. Notice your emotions, judgments, and desires. This grounds you before you shift perspective.
  • Second Position – You step into the other person’s shoes, seeing the situation through their eyes, feeling what they feel. "Why does he feel strongly about this?", "how does the statement look from his viewpoint" Avoid projecting your assumptions; focus on empathy.
  • Third Position – You zoom out as an impartial observer, watching the interaction objectively, as a detached witness. "How do I look at myself as a third party person?", How might you respond more wisely, considering both perspectives?

The third position is exactly what we want to gain insight from : it allows us to step back, gain clarity, and respond with wisdom instead of reacting impulsively. It’s very much like the Sufi idea of muraqabah observing the self and the situation before acting.

The benefit of taking a third-person perspective is that it gives us clarity and objectivity. By stepping outside ourself, we can see the full picture without being trapped in emotion, bias, or immediate reaction. It helps us understand both our own motives and those of others, anticipate consequences, and make decisions that are wise rather than impulsive. This perspective fosters empathy, patience, and strategic thinking, turning a moment of tension into an opportunity for insight and calm action. It is easier said then done, but Wallahi (by God) it has saved me from unnecessary problems. The point in all of this is to not only understand our terrain and environment but to also understand ourself in the process to being a wholesome pesilat. 


Monday, October 13, 2025

Perbedaan

Pernah tak terlintas di fikiran, mengapa setiap perguruan mempunyai cara tersendiri dalam mengajarkan Silat? Sebenarnya, hal ini berpunca daripada tumpuan dan falsafah guru utama serta pengasas sistem itu sendiri. Setiap perguruan lahir daripada konteksnya yaitu zaman, masyarakat, dan keperluan yang melahirkan ilmunya.

Pertama, ia bergantung kepada kebolehan murid. Seorang guru yang bijaksana akan menilai tahap fizikal, mental, dan spiritual anak muridnya sebelum menentukan bentuk pengajaran. Ada murid yang cepat menangkap gerak, tetapi lambat memahami makna. Ada pula yang kelihatan lembab di gelanggang, tetapi tajam hatinya. Maka guru akan sesuaikan pendekatannya agar setiap murid berkembang mengikut fitrahnya.

Kedua, strategi mengajar memainkan peranan besar. Ada perguruan yang menekankan disiplin keras dan latihan berulang untuk membentuk daya tahan serta jiwa juang. Ada pula yang menggunakan pendekatan lembut dan falsafah, menanam kefahaman dahulu sebelum gerak. Cara ini bukan sekadar soal teknik, tetapi cara menyampaikan warisan  supaya bukan hanya tangan yang bergerak, tetapi hati juga hidup bersama ilmu itu.

Ketiga, keperluan strategis pada waktu itu turut menentukan bentuk sistem. Pada zaman kuno dan juga zaman penjajahan, misalnya, banyak perguruan membentuk sistem yang ringkas tetapi berkesan untuk mempertahankan diri dalam keadaan genting. Pada zaman moden, ada perguruan yang menyesuaikan diri dengan cabaran baru  dari pengiktirafan seni warisan, ke pengajian akademik dan terapi tubuh. Maka setiap perubahan zaman menuntut strategi baru tanpa mengorbankan akar tradisi.

Kerana itu, setiap perguruan membawa roh tersendiri. Ia bukan semata-mata soal gerak atau jurus, tetapi bagaimana satu ilmu diturunkan kepada jiwa yang lain.

Setiap perguruan lahir dari tanahnya sendiri, dari pengalaman hidup dan cabaran zamannya. Justeru, cara yang berbeza bukan bererti salah, tetapi menunjukkan jalan-jalan yang beragam menuju tujuan yang sama: pembentukan insan yang seimbang lahir dan batin.

Apabila kita belajar menghormati perbezaan, kita sebenarnya sedang memperluas pandangan. Seorang pendekar sejati tidak akan cepat menilai cara orang lain, kerana dia tahu setiap langkah ada sejarahnya, setiap gerak ada sebabnya. Dalam perbezaan itulah kita dapat saling belajar sambil mencari makna yang lebih dalam daripada sekadar bentuk luaran.

Silat bukan hanya tentang siapa paling kuat atau paling pantas, tetapi siapa yang paling mampu memahami diri dan alam. Maka, apabila kita meraikan perbezaan, kita sedang menjaga roh silaturahim antara perguruan, antara guru, antara murid. Itulah semangat sebenar warisan  bukan untuk bersaing, tetapi untuk menyempurnakan satu sama lain.

 

Sunday, October 12, 2025

The Brain Behind the Movement: How drills in Martial Arts Sharpen the Mind

Participating in disciplines such as Martial arts, dance, and team sports does far more than build physical strength or coordination. These practices also enhance cognitive function and strengthen the brain’s internal circuitry through a blend of physical movement, mental challenge, and social interaction that actively reshapes the mind.

Physical movement, especially one involving precision, timing, and awareness, promotes neuroplasticity, the brain’s ability to adapt, reorganize, and form new neural connections. When we train through silat drills or kali flow patterns, the brain releases neurotrophic factors such as BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor). This compound nourishes neurons, strengthens synaptic links, and enhances learning, memory, and emotional balance.

The cognitive demands of these arts are profound. Each session requires planning, focus, recall, and multitasking, all of which engage the prefrontal cortex, the region responsible for executive function, decision-making, and impulse control. In silat, the ability to read an opponent’s intent while maintaining calm focus trains the mind to respond consciously rather than react impulsively.

Memorizing psychomotor drills like as in Silat drill based jurus or kali flow sequences, activates the hippocampus, the brain area essential for memory formation. Over time, this enhances both short-term recall and long-term retention. Maintaining awareness of body alignment, breathing rhythm, and the shifting position of an opponent strengthens attentional control within the prefrontal cortex.

Dynamic drills, such as reacting to a sudden blade angle in kali or countering a sweep in silat, sharpen reflexes and processing speed, reinforcing neural pathways for rapid yet mindful response. The cerebellum, which governs coordination and balance, is also deeply engaged, refining both gross and fine motor control through repetitive, intentional movement.

Beyond the physical and mental aspects, arts like silat and dance cultivate spatial intelligence which is the ability to sense, navigate, and adapt within one’s environment. This awareness is the root of movement economy: knowing where you are, where your opponent stands, and how energy flows between both bodies.

In essence, the martial path is a neurological training ground. Through every jurus, langkah, and sinawali drill, we are not merely conditioning muscle. We are sculpting the brain itself. The mind becomes agile, the senses alert, and the bond between body and consciousness grows ever stronger.

 

Saturday, October 11, 2025

Everything will have its place

That saying is a cornerstone of why the elders guarded martial arts wisdom so carefully. Knowledge has the right place, at the right time, with the right people.

This means three things.

Right Place.Not every lesson belongs in every space. A secret of combat does not belong in a market square. It belongs in the gelanggang, where the spirit is prepared. Place shapes respect.

Right Time.A teaching given too early is wasted, given too late it becomes useless. The old masters waited for the right moment, when the student’s body, heart, and mind were ready. Timing helps the knowledge settle deeply.

Right People.Not every seeker deserves every secret. Some are reckless, some are arrogant, some only want power. The master chooses the worthy, those who carry responsibility, humility, and loyalty.

From me as a doctor, martial arts is a system of body, mind, and energy that must be understood as one whole. The knowledge given by a master is like a prescription. The wrong dosage can be harmful, the right dosage brings benefit. A doctor-santri understands that the student’s body is a living laboratory. Every movement, every stance, every breath affects muscles, joints, posture, and even hormonal balance.

Knowledge cannot be given carelessly. Poor instruction can cause physical or psychological harm. Beyond the body, the doctor-santri must consider the mind. Learning martial arts requires focus, discipline, and emotional stability. Teaching a student who is not ready is as dangerous as giving strong medicine to a weak patient. Timing, understanding, and readiness must come first, just like diagnosing before therapy.

Just as a physician studies the anatomy of illness, the master of silat studies the anatomy of movement, the cause of imbalance, the flow of energy, the harmony between breath and will. In this way, martial arts becomes a medicine.

The gelanggang becomes a clinic for the silat. Every strike teaches balance. Every fall teaches humility. Every recovery teaches resilience. The doctor understands that health is not only the absence of pain, but the presence of harmony between body and intention, between will and surrender.. THIS is no different from where we see it in the way silat is viewed.

When the elders said that knowledge must have the right place, time, and people, they were not hiding secrets. They were being responsible.

True mastery is not in revealing everything. It is in guiding others until they are ready to understand through experience. A teacher heals through discipline, and a healer teaches through motion. Both must know when to speak, when to wait, and when to let the lesson appear in silence.

Semua hal ada tempatnya, dan semua hal akan indah pada waktunya.

- Alm Guru Mas Mochammad Amien

Friday, October 10, 2025

"universal knowledge"

 We can all agree that "universal knowledge"  like human biomechanics, anatomy, and natural laws of movement transcend styles and of course theres culture and sub-cultural standard. These truths belong to everyone, and any Silat that ignores them risks becoming rigid or ineffective. Simply put to force uniformity of perguruan culture into common culture is wrong, but to respect the universality of the body is essential.

Having said that, nobody can set a litmus test for how Silat should be practiced or organized, no matter how high their level or title may be. The rukun perguruan (the code and values of one school) cannot and should not be used as a measuring stick for another school. Each perguruan has its own history, philosophy, and method shaped by the needs of its people. What is sacred and effective in one tradition may not carry the same meaning in another.





Thursday, October 9, 2025

Safety

I was going through my old photos and found this mark on my hand. I wondered, “What the heck did I do?”

Then I remembered—it was from the beating I got from my grandmaster, after I gave in to my student’s challenge to spar without a helmet.


The sparring itself went fine, nothing serious happened. But the next day, something went wrong—my student ended up in the hospital. The news went straight to HQ.


A month later, during the annual camp at HQ, it was time for sparring sessions. Deep down, I knew I’d get punished for breaking protocol (helmets are mandatory). And I was right.

“Put on your helmet and grappling gloves,” the master ordered.

“Siap,” I replied.

He assigned one of my seniors, Mas Pen—a local champion famous for his open-hand slaps to the face (allowed in our ChakraV silat). He rained blows on me, but I defended myself as best as I could. Even with my size, I managed to land some jabs on his nose.

Then the master got impatient, stopped the fight, and stepped in himself. That’s when the real beating began—bam, boom, bak, bak, boom—no time to react. Within moments I was flat out. Master-level strikes, no joke.

He looked at me and said:

“Now do you see how severe the blows are, even with a helmet? What more without it? Your student ended up in the hospital because of your ego. Never accept such challenges in vain.”


I looked down at my forearm, feeling the friction burns from his gloves. The next morning, it burned like hell when I showered.

Still, I had no hard feelings. Memories like this are priceless. It was tough love. I miss him, even though things were not always easy between us. You only truly understand your teacher’s lessons when you become a teacher yourself.

Al-Fatihah to you, Mas Guru. If I could turn back time, I’d redeem myself. 

In the picture, the bruises don’t look too obvious, but God knows how bad it was, haha. So if I whack you guys, don’t take it personally, hahaha.


Taken from my fb post. Reviving the lesson on student safety.  

Monday, October 6, 2025

Permutations

A musician, with only three notes, can craft a joyful or melancholic melody simply by changing their arrangement. From this, we see that permutation is the art of reordering to discover new significance

In silat, permutation is more than a concept of arrangement; it is the dance of strategy, awareness, and adaptability. Each jurus is a seed, and the order in which we unfold them determines the outcome of the encounter. A block followed by a strike carries a different meaning than a strike followed by a block. The same movements, when rearranged, create new possibilities,new openings, new defenses, new flows.

This actually teaches the silat practitioner that mastery is not only in memorizing steps but in understanding the weight and timing of each movement. Life mirrors this principle: events, decisions, and actions gain meaning through the order in which they occur. Permutation reminds us that wisdom lies in discernment like knowing when to move first, when to wait, and how the sequence of our actions shapes our path.

In the training hall, permutation cultivates creativity and awareness. A silat practitioner and user learns to improvise without abandoning structure, to adapt without losing form. By embracing permutation, silat becomes a living art, a reflection of strategy, intuition, and harmony showing that the essence of power is not only in strength, but in the intelligent arrangement of movement.

Even if the teacher can afford to give you a minimal number of jurus and langkah but when properly understood and adequately trained, you will be able to unlock infinite posibilities. 

Sunday, October 5, 2025

Pisau dapur cap garfu - Icon pisau di silat Jawatimuran dan Madura.

Pisau Dapur Cap Garfu adalah sebilah pisau sederhana namun ikonik dari Jawa Timur, dikenal di kalangan rakyat kerana ketajaman dan ketahanannya. Terbuat dari baja biasa dengan cap bergambar garpu pada bilahnya, pisau ini mula-mula digunakan sebagai alat dapur namun kerap pula berperan ganda dalam kehidupan sehari-hari, dari mengolah hasil ladang hingga menjadi senjata darurat di masa genting. Dalam dunia silat, pisau ini melambangkan falsafah bahawa apa saja yang ada di tangan boleh menjadi alat bela diri bila digerakkan dengan ilmu dan kesedaran. Kehadirannya mengingatkan kita bahawa silat tidak terikat pada senjata mewah tetapi berakar pada kehidupan rakyat, di mana ketahanan, kecerdikan, dan kesiapsiagaan adalah mata pisau sejati seorang pendekar. Ia mengajarkan pesilat tentang ketelitian dan rasa hormat terhadap alat. Meskipun sederhana, setiap bilah harus diasah dan dijaga agar tetap tajam, sama seperti tubuh dan jiwa seorang murid silat yang harus dilatih setiap hari. Dalam latihan, pisau ini menjadi simbol bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemewahan senjata (look beyond forms), tetapi dari kemampuan menguasai diri, memahami lingkungan, dan menggunakan apa yang tersedia dengan bijak. Maka dari itu, seorang pesilat yang bijak tidak memandang rendah alat sederhana, karena dalam kehidupan sehari-hari, alat itu bisa menjadi perpanjangan dari tangan, mata, dan hati yang terlatih.

Oh ya..  Orang tua-tua Jawa Timur ada yang menyebut: “Senjata sejati adalah yang dekat dengan tangan dan terbiasa dengan keseharianmu.” Dalam arti, pisau dapur cap garfu menjadi contoh nyata: benda biasa, tapi sarat makna bila dipahami dan digunakan dengan kesadaran.



Saturday, October 4, 2025

Buah pukulan

Applied silat, Silat beladiri or permainan buah pukulan (in malaysian silat jargon) is an exercise whereby silat steps is taken off the training floor and stress tested into what is perceivable to be a simulation real life. Jurus on their own are like scriptures; beautiful, structured, but still abstract. Applied silat is the interpretation of those movements when facing real attacks, real pressure, and real danger.

1. First, about function. Applied silat is not only punching and kicking, but the integration of footwork, stances, strikes, locks, and takedowns as live responses. For example, the same jurus step you practice in sequence can become a side evasion that puts you in the opponent’s blind spot, followed immediately by a sweep or counter strike. What was once just “form” becomes a working tool.

2. Second, about adaptation. In application training, silat techniques are tested against different types of attacks like straight punches, kicks, grappling, even weapons. A silat practitioner learns to convert jurus into spontaneous responses. For instance: facing a straight punch, you slip slightly off-line (elak sambut,hindar,melingkar), catch the arm, then lock the joint or off-balance the attacker.

3. Third, about spirit. Applied silat today means standing alongside other combat disciplines, whether in modern sparring, street defense, or professional security. Yet it keeps its roots: the philosophy of silat stresses not just defeating, but controlling,neutralizing threats without unnecessary harm, and moving with wisdom. Spirit here does not always equate to spirituality, but a metaphor for a certain fighting mentality that aligns with the silat warrior mentality.  

"Buah pukulan" is a term more commonly associated with traditional beladiri (self defence) silat styles, This study focusing on the “how” and “why” of applications. In Indonesia it is commonly called “kaidah”, “Beladiri silat praktis” or “Silat applikasi”.  It literally means “strike technique” or “application.”

"Buah pukulan" refers to short, compact striking techniques in the sub category of the study of silat systems.

· Close-range interception with Body alignment for explosive burst

· Snap-back counterstrikes with Minimal telegraphing

· Direct breaking mechanics (sendi, saraf, urat)

· Takedowns

These attributes are highly suited for CQC, especially because:

· Economy of Motion : Perfect for tight spaces (hallways, elevators, inside vehicles).

· Simplicity and Repeatability : Stress-friendly. No fancy locks, just enter, destroy, exit.

· High-impact targeting : Ribs, neck, solar plexus, groin, knees. CQC gold standard.

· Built-in takedowns : Using "buang" or "kuncian" without needing grappling endurance.

· Verticality : You stay upright. Good for police/military or real-world defense.

Since “buah pukul” is culturally specific and often varies by lineage and style, it doesn’t fit into the formalized silat sport taxonomy under "PERSILAT" like :

· Jurus Wajib (forms/kesenian)

· Tanding (sparring/Olahraga)

· Jurus Ganda dan Massal (Pair and Team forms) 

Ironically in my experience, it is especially more taught in traditional silat schools than proclaimed “traditional perguruan” but still rooted in “competition-silat” standard which is a fatally flawed model.  “Buah pukul” or practical combat applications are often preserved more authentically in traditional or village-level silat schools compared to more prominent perguruan that market themselves as "traditional" yet rely heavily on modernized, sanitized, or sportified models. This paradox arises because the moment a perguruan is absorbed into modernity, federation  or formal sport competition, the curriculum becomes standardized, safety-focused, and ultimately detached from the perception of real-world violence self defence.

So in summary the deeper, more authentic layers of buah pukulan lessons (applied silat) often survive at the grassroots, while “federated” silat drifts toward formality and sportification. In tun, one set of expertise does not necessarily co-relate to the other.

I seriously believe If silat teachers want to rectify this gap and to be able to do Close,medium and far range fighting, there are three main duties,

  • Stress-test under pressure: drills with intensity, timed constraints, and adrenaline to prepare the nervous system. Train scenarios: confined spaces, multiple attackers, weapons, modern contexts (hallways, cars, stairwells).
  • Filter everything through silat’s own philosophy and ethics (for training safety). The downside of chasing after "realism" doing drills can sometimes lead some trainers to compromise safety. 
  • Teach control as much as destruction. Applied silat is not about brutality alone, but about efficiency, restraint, and survival.

Do understand that I am not against Federated silat competion and it is not wrong to learn sports silat, but as a propogator of Self-defence silat and CQC, I do feel that drill based self defence application under-appreciated. Perguruan should try re-instate back the applications training outside their "Sports Excellence" pursuit.