Tuesday, September 30, 2025

Bertapak

Dalam silat, konsep kaidah bertapak melangkah dan menyerang mempunya "ilmu geometrinya" (for the lack of better words) yang tersendiri.. konsep ini memainkan peranan penting dalam membentuk strategi gerakan, keseimbangan tubuh, dan pemahaman ruang tempur. Prinsip seperti garis lurus dan sudut serangan digunakan untuk mengatur arah pukulan dan elakan secara 'efficient', manakala pola lantai seperti segitiga, bulatan, dan silang membimbing langkah kaki agar seimbang dan taktikal. 

Gerakan bersifat simetri membantu mengekalkan kestabilan dan memudahkan peralihan antara pertahanan dan serangan. Selain itu, penggunaan ruang secara tiga dimensi yakni atas, tengah, dan bawah membolehkan pesilat menyerang atau mengelak dari sudut yang sukar dijangka oleh pihak musuh. Geometry juga dapat diapplikasikan ke tilasan/lintasan pisau dan senjata panjang.

Secara Keseluruhannya, tidak kira apa pun alirannya, setiap perguruan silat menggabungkan seni pertempuran dengan pemahaman geometri untuk mencipta pergerakan yang berkesan dan harmoni dan ini membuat dunia Silat tempur dan aliran buah pukul sangat unik dan menarik.

taken from my own post  @Dunia Pencak Silat fb group\



Permainan Silat Pukul Hilang

 Raden Panji Soetjipto adalah tokoh penting dalam sejarah bela diri Indonesia, khususnya dalam aliran silat Madura. Beliau dikenal sebagai salah satu guru yang mengajarkan jurus-jurus silat kepada Maha Guru Cipto Moh. Hasan, pendiri perguruan Joko Tole dan aliran Pukul Hilang.

Raden Panji Soetjipto lahir pada 3 November 1893 di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Beliau dikenal sebagai seorang tokoh beladiri yang sangat disegani di Jawa Timur. Meskipun informasi mengenai kehidupan pribadi dan kontribusinya dalam dunia silat tidak banyak terdokumentasi secara luas, pengaruhnya dalam pewarisan ilmu silat kepada generasi berikutnya sangat signifikan.

Aliran Pukul Hilang yang diajarkan oleh Raden Panji Soetjipto memiliki ciri khas teknik pukulan yang terasa "menghilang" atau tidak tampak jelas, memberikan keunikan tersendiri dalam dunia pencak silat. Meskipun aliran ini tidak sepopuler aliran silat lainnya, keberadaannya tetap dihormati oleh komunitas pencak silat sebagai bagian dari warisan budaya bela diri Indonesia.

Hingga kini, meskipun tidak banyak informasi yang tersedia mengenai Raden Panji Soetjipto, dedikasi dan kontribusinya dalam dunia silat tetap dikenang melalui ajaran-ajaran yang diwariskannya kepada murid-muridnya, termasuk kepada Maha Guru Cipto Moh. Hasan.

Di Chakra-V, beberapa hal berbeda dibanding perguruan tradisional. Misalnya, kami hanya mengajarkan 5 jurus dasar secara langsung kepada siswa; jurus 6–19 tersimpan rapi, namun  keputusan ini dilakukan untuk menyesuaikan dengan konsep modern dan dakwah menghilangkan ritual-ritual tradisional yang bisa menimbulkan penolakan dari kalangan non-Muslim atau kelompok Islam yang menentang praktik mistik. Pendekatan ini terbukti efektif: Chakra-V HQ menerima siswa dari berbagai latar agama dan status sosial, serta berhasil mencetak 27 muallaf baru dalam dua tahun terakhir (Artikel ini ditulis beberapa tahun lepas).

 

Monday, September 29, 2025

Different pathways that we pursue

My work within silat can be considered a niche, focused on a specific area of expertise. Some may ask why I do not fully pursue the traditional or sporting branches of silat. The answer is straightforward: many established schools are already dedicated to those paths. Rather than competing with them, I prefer collaboration.. sharing resources and supporting one another within the community.

My personal inclination has always been toward close-quarters combat (CQC), part of it largely influenced by the Control and Restraint (CNR) training I received during my National Service. When combined with silat, this proved to be highly effective. I was later guided by my late teacher, who emphasized practical self-defense. By nature I am pragmatic, so I pursued this knowledge with full commitment.

During my time in Surabaya, our activities centered on seminars and self-defense instruction. However, my teacher entrusted me with the responsibility of overseeing the Singapore branch. Inevitably, this required me to study the full breadth of the school’s curriculum. Representing a perguruan also meant learning its cultural and artistic aspects. It would not have been proper to stand as a teacher while being unfamiliar with the traditions of the school, especially when invited to formal gatherings. Thus, I resolved to learn the complete system.

After several years of training, I underwent the necessary selection, completed my khatam (final testing), and was given the responsibility of carrying forward my teacher’s mandate. This process formed part of my tarbiyah—a structured development that began with a focus on self-defense and gradually nurtured an appreciation for the artistic dimensions of silat as well. At one stage, I even expressed interest in taking a tariqah (formal spiritual path), but my teacher firmly reminded me: “Your duty is this: teaching!, and this is your path. Be a good teacher, and do not complicate matters unnecessarily.” It was a sharp lesson, yet one delivered with care. His philosophy was consistent: the foundation must always be self-defense, and only after that can other elements be integrated.

Thus has been my journey.. a progression from personal interest in practical application toward a fuller responsibility as a teacher and custodian. From this experience, I have drawn several lessons:

  1. The study of silat is not solely about martial skill; it often imparts valuable lessons for life itself.

  2. Every practitioner’s path is unique; not all journeys follow the standardized PERSILAT format. One’s direction is a matter of personal calling and providence.

  3. Each of us contributes to silat in our own way, according to our strengths and responsibilities.



This photo shows a hand-drawn diagram in the shape of an open palm, used as a framework to represent the broad domains of Silat. Each finger corresponds to a major aspect: Seni (art) highlighting solo, massal, and cultural expression; Sports including one on one, fitness, conditioning, and regulated competition; Combat/Tempur focusing on buah pukul, beladiri, and applied drills; Senjata (weapons) covering pisau, golok, kerambit, and other traditional arms; and Ketenangan (spiritual and mental aspects) encompassing perseverance, discipline, mental development, religion, and healer or consciousness training. The open hand symbolizes how silat integrates multiple branches.. physical, cultural, martial, and spiritual all of which makes out into a single living art.


Saturday, September 27, 2025

Kyai Kholil Bangkalan: Guru Para Ulama Nusantara

 Di tanah pesisir Madura, tepatnya di Demangan, Bangkalan, lahirlah seorang bayi yang kelak akan menjadi cahaya bagi dunia pesantren Nusantara. Bayi itu diberi nama Muhammad Kholil, putra dari seorang keluarga sederhana tapi taat beragama. Sejak kecil, tanda-tanda kecerdasan dan keberkahan sudah terlihat darinya. Al-Qur’an ia lahap dengan cepat, dan kitab-kitab agama ia tekuni dengan semangat yang tak pernah padam.

Seperti lazimnya santri Madura, Kholil muda mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain, menimba ilmu dari banyak guru. Perjalanannya membawanya hingga ke tanah suci Mekkah, tempat ia menekuni ilmu fiqih, tauhid, dan tasawuf dengan penuh ketekunan. Setelah bertahun-tahun menimba ilmu di sana, ia pulang ke Madura dan mendirikan pesantren di Bangkalan. Dari sinilah namanya dikenal sebagai Kyai Kholil Bangkalan.

Guru Para Ulama

Pesantren Kiai Kholil bukanlah pesantren besar dengan gedung megah, tetapi aura keilmuannya menarik santri dari berbagai penjuru. Dari gubuk sederhana itu lahirlah tokoh-tokoh besar seperti KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, dan KH. Wahab Hasbullah, pejuang pergerakan bangsa. Banyak ulama besar lainnya lahir dari bimbingannya.

Karena itulah, orang-orang menyebut beliau sebagai “Guru para ulama Nusantara.” Tidak berlebihan, sebab melalui murid-muridnya, ajaran Kiai Kholil mengalir ke jutaan umat Islam di Indonesia hingga hari ini.

Karomah yang Melegenda

Selain dikenal dengan ilmunya yang luas, Kiai Kholil juga diyakini memiliki karomah. Kisah-kisah tentangnya dituturkan dari mulut ke mulut, membentuk legenda yang semakin meneguhkan kewaliannya.

Dikisahkan, suatu malam pesantrennya gelap gulita karena pelita padam. Para santri kebingungan. Tiba-tiba tongkat Kiai Kholil yang beliau tancapkan ke tanah memancarkan cahaya, menerangi seisi ruangan.

Ada pula kisah saat beliau memberikan sebuah tasbih kepada KH. Hasyim Asy’ari. Tasbih itu bukan sembarang pemberian, melainkan isyarat gaib bahwa kelak sang murid harus mendirikan organisasi besar yang menjadi benteng umat. Dari isyarat itu, lahirlah Nahdlatul Ulama.

Wafat dan Warisan

Kiai Kholil wafat pada tahun 1925 di Bangkalan. Kepergiannya tidak memadamkan cahaya, justru menyalakan obor keilmuan yang lebih besar melalui murid-muridnya. Makam beliau di Bangkalan kini menjadi salah satu pusat ziarah penting di Nusantara, tempat orang datang membawa doa, harapan, dan penghormatan.

Warisan beliau bukan hanya berupa pesantren, tapi juga tradisi keilmuan pesantren yang berpadu dengan jiwa Madura—keras sekaligus lembut, tegas sekaligus penuh kasih.

Penutup

Kisah Kyai Kholil Bangkalan mengajarkan kita bahwa kebesaran tidak selalu lahir dari istana, melainkan bisa muncul dari gubuk sederhana di kampung pesisir. Dari tanah Madura yang keras, lahirlah seorang ulama yang lembut hatinya, luas ilmunya, dan tinggi wibawanya.

Sebagaimana pepatah Madura berkata:
“Orèng pote mata, èntar bisa èlang, tapeh orèng pote tolang, tak bisa èbali.”
(Orang yang kehilangan harta bisa dicari kembali, tapi kalau kehilangan martabat, tak akan bisa kembali.)

Martabat itulah yang dijaga Kiai Kholil seumur hidupnya, dan kini menjadi teladan bagi generasi setelahnya.


Suspend Certainty

Real learning begins when we let go of the certainty of “I already know.” That phrase, though comforting, often becomes a wall that blocks fresh understanding. The mind that is too full cannot receive; just as a cup brimming with water cannot hold more, so too does a rigid mind fail to welcome new insights. The first step, therefore, is humility.. the willingness to admit there is always more to learn.

When we loosen our grip on fixed beliefs, curiosity comes alive. Every lesson, every experience, becomes an opportunity to discover new layers of meaning. What once seemed ordinary now feels alive with possibility. This openness allows us to recognize connections we might have missed, to break old patterns, and to see ourselves and the world with renewed clarity. True growth is not in adding more facts, but in reshaping the way we perceive and engage with what is before us.

In silat, this principle is vital because the moment a practitioner believes “I already know,” growth stops and the art becomes rigid. Every movement, from the simplest stance to the most advanced jurus, has layers of meaning that only reveal themselves when approached with humility and curiosity. By emptying the cup, the student allows each correction, each repetition, and each encounter with an opponent to become a source of fresh insight transforming from mere technique into a lifelong journey of refinement and self-discovery.

I once thought my sports silat knowledge was decent enough, that mastering competition techniques and physical conditioning gave me a wothy understanding of the art. But when I stepped into the traditional route, I realized there was a deeper world waiting one that wove philosophy, culture, and subtle principles of movement into every jurus. What I had considered “good enough” was only the surface; through the traditional path, I began to see silat not just as a sport, but as a living wisdom that shapes character, discipline, and a lifelong way of being.

In practice, this means entering each learning space with the posture of a student rather than an expert. Whether reading a book, listening to a teacher, or facing a challenge in daily life, approach it as if it has something vital to reveal. Ask, “What can this teach me?” instead of “Do I already know this?” By applying this mindset, we transform ordinary encounters into moments of growth, making every day a chance to expand, refine, and deepen our understanding.

As cliche as it sounds, the wisdom "To empty your cup" is to stay real—open, humble, and unpretentious. It means never letting pride or the illusion of mastery block new lessons, no matter how much you think you know. By keeping space within, you remain authentic, adaptable, and always ready to grow.

Friday, September 26, 2025

Silat and FMA

Filipino Martial Arts (FMA) and Silat both come from the maritime world of the Malay Archipelago and can be seen as related traditions. Some even describe them as sister arts. Influenced by trade, migration, and warfare, these martial arts developed in ways that are different but complementary. FMA focuses on smooth weapon movements, tactical flow, and precise blade control. Silat, on the other hand, emphasizes grounded body movement, deceptive footwork, and cultural philosophy. When studied together, they strengthen each other, helping practitioners improve their skills and gain a deeper understanding of Southeast Asia’s shared martial heritage.

Both Silat and FMA share roots in the culture of the Austronesian seafaring peoples. Long before modern nations existed, the ancestors of the Malay Archipelago carried blades, boats, and belief systems across islands and coasts. Their martial arts developed through this shared experience. Silat grew with ritualized movements, grounded stances, and clever entries, while FMA focused on weapon flow, angle awareness, and tactical techniques. These arts are not separate inventions but different expressions of the same ancient maritime warrior tradition.

At their core, Silat and FMA are both weapon-based systems. They were created from the use of knives, sticks, and swords. Empty-hand techniques are built on the principles of weapon movement, not the other way around. This makes the connection between Silat and FMA undeniable, and it shows why understanding weapons is essential to fully grasping either art.

The Srivijaya Empire, which flourished from the 7th to 13th centuries, was an important center of trade and culture in Southeast Asia. Evidence shows that Silat was practiced during this time, particularly in the Srivijaya kingdom in Sumatra and the Malay Peninsula. This early form of Silat laid the foundation for martial traditions that would develop later.

After the decline of Srivijaya, the Majapahit Empire rose in the 13th century, bringing much of the Indonesian archipelago under its rule. Silat reached its peak during this period. It was used not only for fighting but also to teach loyalty, discipline, and spiritual strength. Silat was part of military strategy and governance, showing its importance in shaping Southeast Asia’s culture and martial arts.

At the same time, the Philippine islands, connected through these same maritime networks, developed their own martial traditions that evolved into FMA. The movement of people and ideas across the seas allowed martial knowledge to spread, creating arts that, while different, share common principles rooted in the region’s maritime culture.

Silat and FMA are not separate traditions. They are deeply connected and reflect the shared heritage of Southeast Asia. Their common roots allow practitioners to improve their skills and understanding, linking culture, history, and martial arts in a meaningful way.

As for the question whether at that point of time their (the Filipinos) fighting art is already called silat or they go by another name?

My answer is that from what I’ve seen and know, the southern Philippines especially Mindanao silat exponent and masters (excluding eskrimadors), still use the term silat. They’re really part of the same cultural family as us if you look at the artifacts, history, and movement styles. In the northern and central Philippines, they use terms like kali, eskrima, and arnis for similar arts, likely because of Spanish influence and the knowledge that came with it. The Spanish added fencing elements to their weapons training, and later the Americans added boxing into the empty-hand techniques, which developed into panantukan basically boxing, kuntau, and silat without the flowery parts. 

In mainstream eskrima circles, silat is officially not seen as part of FMA (Filipino Martial Arts). This is clear in the views of many pro-colonial historians and practitioners. However, some Muslim practitioners in Mindanao were aware of this exclusion but still remained loyal to the Philippines, creating their own systems that combined FMA, kuntau, and silat.

Still, you can’t deny what Guro Dan Inosanto said: “We are all the same people; it’s just tribal ego that keeps us divided.” Senior silat practitioners who disagree with this can argue about it endlessly, but maybe they just haven’t seen the evidence yet.

Personally, I lean toward a unified Nusantara narrative and as a pesilat. (answers have been streamlined to observe grammar - slightly different from what I had typed in forum posting ) 
 

Nuances to consider:
  Silat as practiced in Mindanao is part of the “Malay world” martial system, sharing DNA with Malaysian Silat and Indonesian Pencak Silat, while adapting to local context.
  FMA’s claim of “ancient warrior arts” often does not acknowledge pre-colonial or Islamic influences in detail, partly due to nationalism and colonial narrative simplification.
 
In practice, FMA and Silat overlap significantly:
Stances, footwork (triangular), and weapon angles often align.
Kuntaw itself is a bridge art (Chinese Kuntao + Silat) that predates some organized FMA systems.
Personally in practice, It is not wise to say you can't put it together.    As long as its not a baseless knowledge.

Wednesday, September 24, 2025

Tokoh Majapahit dan hubungan dengan madura : Raden Wijaya

Rise of the Majapahit Empire

 The late 13th century in Java was a period of extraordinary upheaval and political intrigue. At the height of Singhasari’s power, King Kertanegara had extended his influence across East Java, waged campaigns in Sumatra, and even subjugated Bali, bringing its king back in chains as a display of conquest. In 1292, the Yuan Dynasty, under Kublai Khan, sent emissaries demanding submission from Java. Kertanegara responded with defiance: the envoys were humiliated, mutilated, and sent back to China—a bold act that invited retribution from one of the most powerful empires in the world.

Raden Wijaya, a nobleman trained from birth in warfare, strategy, and leadership, emerged during this volatile period. Renowned for his martial prowess, he quickly gained prominence in the Singhasari court and was granted command of military forces, as well as four of Kertanegara’s daughters as wives. His career as a warrior was marked by extraordinary feats: campaigns in Sumatra, confrontations with Bali, and a reputation for fearless leadership on the battlefield.

However, the political landscape shifted dramatically when Jayakatwang, a resentful and ambitious vassal, rebelled against Singhasari. He led a coalition of dissatisfied nobles and rebel forces, ultimately capturing the capital and killing Kertanegara and his ministers. Raden Wijaya, pursued by enemy forces and facing near-certain death, fled westward across Java. His escape coincided with the arrival of the Mongol fleet, bringing tens of thousands of troops intent on punishing Java for Kertanegara’s defiance.

Displaying remarkable strategic acumen, Raden Wijaya approached the Mongol commander and pledged nominal loyalty, offering tribute in exchange for assistance against the usurper Jayakatwang. The Mongols, confident in their superiority, agreed. Raden Wijaya provided precise intelligence and navigated them through the countryside, guiding them toward Jayakatwang’s stronghold while minimizing harm to local settlements. The Mongols crushed the rebel army, securing the palace, but in a decisive maneuver, Raden Wijaya later turned on the Mongols. In a coordinated assault with Javanese forces, he defeated the Mongols, inflicting heavy casualties and forcing the remainder to retreat. The Mongol commander returned to China disgraced, marking the last major expedition of Kublai Khan in the region.

Raden Wijaya’s subsequent coronation on 12 November 1293 established the Majapahit Kingdom. He consolidated power by suppressing dissent and rebellions, laying the foundations for an empire that would dominate Java, Bali, and Sumatra for more than two centuries. Under his rule, Majapahit oversaw a period of cultural, political, and economic flourishing, constructing monumental Hindu temples, forging trade relations across Southeast Asia, and cultivating a sophisticated court culture.

Raden Wijaya’s life exemplifies the fusion of martial skill, diplomatic cunning, and strategic vision. He successfully navigated internal rebellion, foreign invasion, and complex political alliances to establish one of the most influential kingdoms in Southeast Asian history. Today, he is remembered not only as a heroic figure in Indonesian history but also as a symbol of shrewd leadership and audacious strategy—a ruler whose tactical brilliance allowed him to survive and thrive amid extraordinary adversity.

Madura Links to Majapahit Empire

What was not so discussed oftenly enough is that, during the rise of Majapahit in the late 13th and early 14th centuries, Madura was a strategically important island northeast of Java. The island’s rulers, often known as Adipati Madura, maintained a semi-independent status but were tied to Java through alliances, tribute, and military cooperation. Madura provided manpower, ships, and strategic support for Majapahit campaigns, especially during periods of expansion into eastern Java and the nearby islands. After the fall of Singhasari and the rebellion of Jayakatwang, Raden Wijaya fled eastward across Java to escape the usurper’s forces. During this retreat, he sought refuge in Madura, an island northeast of Java, which at the time was governed by local rulers who maintained a semi-independent status but had ties to Javanese polities.

Madura provided Raden Wijaya with strategic sanctuary and logistical support. Its local leaders, recognizing his claim as heir of Singhasari and the potential benefits of aligning with him, offered shelter and troops. This alliance was critical: it allowed Raden Wijaya to regroup and consolidate forces before he approached the Mongol army. With the support from Madurese allies, he was able to negotiate with the Mongols, turning their forces against Jayakatwang and eventually reclaiming control over East Java.

Thus, Madura served as a safe base and strategic ally during one of the most pivotal periods in Raden Wijaya’s rise to power. The island’s resources, manpower, and local knowledge contributed indirectly to the success of his campaigns and the establishment of Majapahit.

To this day culturally, Madura shared linguistic, artistic, and religious influences with Java, particularly Javanese court culture. Although Madura had its own local elites and traditions, the Majapahit hegemony shaped governance structures, titles, and ceremonial practices on the island. For instance, many Madurese noble families adopted the Javanese-style court hierarchy, and the island became integrated into Majapahit’s network of vassal territories.

Politically, the alliance with Majapahit also allowed Madura to maintain a degree of autonomy. While local rulers pledged allegiance to the Majapahit king, they retained control over internal administration, local taxation, and maritime trade. This relationship endured for centuries, helping Madura become a conduit for Majapahit influence in eastern Java and the islands beyond.

In short, Madura was not fully incorporated into Majapahit as a directly governed province but functioned as a vassal ally, providing military, economic, and cultural support while retaining local autonomy. This link also helped the island absorb and transmit Javanese court culture, which would influence Madura’s later historical and artistic developments. 

Tuesday, September 23, 2025

Tokoh Madura : Arya Wiraraja

Ketika orang berbicara tentang Majapahit, sering yang disebut adalah Raden Wijaya, Gajah Mada, atau Hayam Wuruk. Namun di balik berdirinya kerajaan besar itu, ada sosok dari tanah Madura yang perannya sangat menentukan: Arya Wiraraja. Namanya mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh Majapahit lainnya, tetapi jejaknya begitu penting sehingga tanpa dia, Majapahit mungkin tidak pernah lahir.

Asal-Usul dan Kiprah di Singhasari

Arya Wiraraja berasal dari Sumenep, Madura Timur. Sejak muda ia dikenal sebagai bangsawan yang cerdas, berwibawa, dan memiliki jaringan luas dengan pelaut serta pedagang. Kemampuannya membuat Raja Kertanegara dari Singhasari mengangkatnya sebagai Patih di Sumenep. Dari Madura, ia tidak hanya menjaga wilayah, tetapi juga mengembangkan perdagangan dan hubungan diplomatik dengan daerah lain.

Penolong Raden Wijaya

Tahun 1292 menjadi titik balik. Singhasari digulingkan oleh Jayakatwang dari Kediri. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Dalam pelariannya, ia menuju Madura dan bertemu Arya Wiraraja. Di sinilah kebesaran hati dan kecerdikan seorang Madura terlihat: Arya Wiraraja memberi perlindungan, pasukan, dan strategi kepada Wijaya. Ia tidak hanya sekadar menolong, tetapi juga merancang jalan agar Wijaya bisa bangkit kembali.

Strategi yang Melahirkan Majapahit

Dengan dukungan Arya Wiraraja, Raden Wijaya membuka hutan Tarik yang kemudian menjadi cikal bakal Majapahit. Saat pasukan Mongol tiba untuk menghukum Jawa, Wijaya dan Wiraraja dengan cerdik memanfaatkan mereka untuk menjatuhkan Jayakatwang. Setelah Kediri runtuh, pasukan Mongol pun diusir keluar dari Jawa. Dari kemenangan inilah, Majapahit berdiri pada tahun 1293. Dalam naskah Pararaton, Arya Wiraraja disebut sebagai “Patih Besar Madura” yang perannya tak terbantahkan.

Warisan Seorang Visioner

Sebagai imbalan, Arya Wiraraja diberi wilayah luas di Jawa Timur dan tetap memimpin Madura. Lebih dari sekadar pejabat, ia adalah arsitek politik yang menjembatani runtuhnya Singhasari dengan lahirnya Majapahit. Bagi masyarakat Madura, ia adalah simbol kebanggaan: bukti bahwa orang Madura bukan hanya keras di medan perang, tetapi juga cerdas dalam diplomasi dan berperan dalam sejarah besar Nusantara.

Madura dalam Cermin Majapahit

Kisah Arya Wiraraja adalah cermin watak Madura: berani, setia, dan visioner. Ia menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya pada pedang, tetapi juga pada kecerdikan strategi. Dari kampung pesisir di Sumenep, namanya kini terpatri dalam sejarah Nusantara sebagai tokoh kunci yang melahirkan salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Ia menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya pada pedang, tetapi juga pada kecerdikan strategi. Dari kampung pesisir di Sumenep, namanya kini terpatri dalam sejarah Nusantara sebagai tokoh kunci yang melahirkan salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Bagi orang Madura, ia bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan teladan bahwa harga diri dan kejayaan bisa diraih lewat keberanian mengambil sikap dan kebijaksanaan membaca zaman.

Sebagaimana pepatah Madura mengatakan:
“Mèngko’ bisa ta’ bisa, sèngko’ è Madura.”
(Apalagi bisa atau tidak bisa, aku tetap orang Madura.)

Pepatah ini menggambarkan jiwa pantang menyerah, berpegang pada kehormatan, dan setia pada asal-usul. Nilai itulah yang hidup dalam diri Arya Wiraraja, dan tetap mengalir dalam darah orang Madura hingga hari ini.

 

Tokoh-tokoh silat Madura (Susunan chat GPT)

 Kalau kita bicara tokoh-tokoh silat Madura, sebenarnya banyak nama yang mewarnai perjalanan sejarah pencak silat di tanah garam ini. Madura memang terkenal dengan watak keras, tegas, tapi penuh adab. Silat di Madura pun punya dua wajah: silat sebagai bela diri tradisi dan silat sebagai jalan hidup (terikat dengan budaya, agama, dan harga diri).

Beberapa tokoh dan aliran yang layak disebut antara lain:

Tokoh & Pendekar Silat Madura

  1. Pendekar H. Maskur – dikenal di Bangkalan, membesarkan perguruan Pagar Nusa di Madura, banyak mendidik generasi santri agar silat tidak lepas dari akhlak.

  2. Pendekar Kiai Kholil Bangkalan – meskipun lebih dikenal sebagai ulama, beliau juga menjaga tradisi silat dan tenaga dalam, sehingga banyak muridnya menggabungkan ilmu agama dengan silat.

  3. Guru Ali Wafa (Sampang) – tokoh silat yang sering dikaitkan dengan aliran Khodam dan ilmu pernapasan khas Madura.

  4. Mas Mochamad Amien (Surabaya-Madura) – beliau salah satu tokoh Madura yang merombak silat olahraga ke arah teknik cepat (Chakra V).

  5. Pendekar Hasan Basri (Sumenep) – tokoh yang menekankan jurus Madura gaya pesisir, keras tapi tetap lentur.

 Aliran & Perguruan Silat Madura

  • Silat Kera Sakti Madura – terkenal dengan jurus lompat dan kelincahan.

  • Silat Tapak Suci cabang Madura – banyak menyebar melalui Muhammadiyah.

  • Silat Pagar Nusa Madura – paling kuat kaitannya dengan pesantren.

  • Silat tradisional "Kembang Sore" – biasanya ditampilkan dalam upacara adat dan karapan sapi, sebagai simbol kehormatan.

  • Silat Blater Madura – ilmu silat yang dipraktikkan para blater (jawara), sering dikaitkan dengan karisma dan keberanian.

 Ciri Khas Silat Madura

  • Jurusnya sederhana tapi efektif dan mematikan.

  • Mengandalkan pukulan dan sabetan cepat, sesuai karakter keras orang Madura.

  • Ada pengaruh islamisasi, sehingga banyak jurus dinamai dengan doa atau ayat.

  • Hubungan erat dengan blater (jawara) yang jadi penjaga kampung dan simbol harga diri.

ERA PESANTREN (abad 18–awal abad 20)

Silat di Madura erat dengan pesantren. Pendekar bukan sekadar jago pukul, tapi juga ahli agama.

  1. Kiai Kholil Bangkalan (1835–1925)

    • Ulama besar, guru para tokoh NU.

    • Dikenal menguasai ilmu hikmah, tenaga dalam, dan silat.

    • Murid-murid beliau banyak yang kemudian mendirikan perguruan silat di pesantren Jawa & Madura.

  2. Para Kiai Pesantren Pamekasan & Sumenep

    • Silat dijadikan latihan fisik santri.

    • Biasanya berupa jurus sederhana untuk menjaga diri saat bepergian.

    • Banyak jurus dikaitkan dengan doa, zikir, atau ayat Qur’an.

  3. Silat Santri dan Blater

    • Santri belajar silat untuk pertahanan diri.

    • Blater (jawara Madura) belajar silat sebagai wibawa dan penjaga kehormatan desa.

    • Hubungan antara santri & blater kadang tegang, tapi sering juga saling melengkapi.


 ERA MODERN (abad 20–sekarang)

Silat Madura mulai melebur ke organisasi nasional dan bentuk olahraga.

  1. H. Maskur (Bangkalan)

    • Tokoh Pagar Nusa di Madura.

    • Membesarkan silat di pesantren agar santri punya benteng fisik & spiritual.

  2. Mas Mochamad Amien

    • Berdarah Madura, besar di Surabaya.

    • Merubah silat olahraga menjadi lebih cepat dengan teknik Chakra-V.

    • Memberikan warna modern dalam metode latihan.

  3. Perguruan Pagar Nusa Madura

    • Resmi berdiri di bawah NU.

    • Banyak kiai & ustadz terlibat untuk menjaga warisan silat Madura.

  4. Tapak Suci Muhammadiyah (cabang Madura)

    • Membawa silat ke arah olahraga nasional.

    • Jurus-jurus keras Madura melebur dengan teknik Tapak Suci.

  5. Blater Madura Modern

    • Dulu dikenal keras & kasar, kini sebagian menjadi pelindung sosial.

    • Masih menguasai ilmu silat tradisi Madura, tetapi juga ikut organisasi resmi IPSI.

 Inti Perbedaan

  • Pesantren: silat dipakai untuk menjaga diri, dekat dengan doa, wirid, adab.

  • Modern: silat masuk ke organisasi resmi, lebih sistematis, juga jadi cabang olahraga & seni bela diri.

**NOTA BENE dari penulis : Sudah pasti ada banyak lagi perguruan di Madura tetapi tidak ditampilkan chat GPT .  

Saturday, September 20, 2025

Ajal

Kemaren apabila ditanya soal insiden video pukul curi yang tersebar di soc media. Teringat pesan guru-guru.. hampir semua pesanan nya sama.. Social awareness, environmental scan dan tak lupa.. kita sebagai muslim, selalu berdoa atas keselamatan diri. 

Di hampir semua aliran sama ada beladiri/Buah pukul ataupun kesenian para murid diajarkan : ujung ujungnya, sehebat mana pun kita berlatih, merancang, seteliti mana pun kita bertindak, jika tersilap langkah atau terlalai walau seketika, maut tetap datang menjemput tanpa disadari. Inilah hakikat takdir yang tidak mengenal pangkat, kekuatan, atau kelebihan manusia. Ia mengajarkan bahawa segala sesuatu akhirnya kembali kepada urusan antara kita dan Tuhan ..usaha adalah kewajiban kita, tetapi hasil akhir tetap dalam genggamannya. "Badan berlatih, Ruh juga harus dilatih" (Riyadhoh Amalan, Wirid, doa keselamatan)..ia bukan untuk menambahkan hal baru di dalam agama, tapi menyematkan agama di dalam apa yang ia lakukan...Apalagi dalam keadadaan dimana nyawa menjadi taruhan.   

 Maka, pelajaran paling dalam tentang takdir adalah menerima bahawa hidup ini bukan tentang kawalan mutlak, tetapi tentang ikhtiar yang jujur dan penyerahan yang redha.

Pisang emas dibawa belayar, Masak sebiji di atas peti.

Kalau ajal sudah terhampar, Ikhtiar pun sampai di situ nanti.


taken from my own post 13th may 2025 @Dunia Pencak Silat fb group

Thursday, September 18, 2025

Manfaat drill

Drill dalam konteks latihan adalah metode latihan berulang yang bertujuan memperkuat jalur saraf/Neural pathway melalui proses Neuroplasticity, yakni kemampuan otak untuk beradaptasi dan membentuk koneksi baru akibat stimulus yang konsisten.

Dengan melakukan drill secara rutin, otak dan tubuh membangun long-term memory yang memungkinkan respons menjadi lebih cepat, reaksi otomatis, dan pergerakan efisien tanpa perlu banyak berfikirberpikir. Proses ini sangat berguna dalam meningkatkan performa motorik, kognitif, dan emosional baik dalam konteks belajar, olahraga, terapi, hingga seni pertahankan diri.

 

Tafakur

"Sometimes ...we forget to breathe" Latihan Pernafasan, Tafakur dan Taddabur.

Pernafasan untuk mendatangkan ketenangan, fokus supaya boleh mencapai tingkat konsentrasi yang baik untuk Taffakur dan Taddabur (Belum lagi kita bahaskan soal zikrullah)

Tafakkur adalah kegiatan berfikir atau merenungkan segala fenomena yang terjadi di alam semesta dari suatu kejadian ataupun dari suatu pengalaman

Tadabbur adalah perenungan yang menyeluruh untuk mengetahui maksud dan makna dari suatu ungkapan secara mendalam.

Tafakur dan Tadabur itulah akan mengantarkan manusia pada tasyakur. Hasilnya, manusia akan pandai bersyukur dengan memanfa’atkan nikmat yang diberikan padanya di jalan yang benar.

** sudah tentunya hal hal ini di sertakan dengan landasan agama yang benar

sebagai orang islam.


 

Wednesday, September 17, 2025

Rasa

 Drill dapat mengajarkan tentang harmoni antara tubuh dan pikiran.. dari ini timbul lah ketajaman "Rasa" yaitu kemampuan tubuh untuk merasakan posisi, arah, tekanan, dan keseimbangan tanpa harus melihat. mata membaca gerak, telinga membaca bunyi, justru sebahagian drill  membuat kulit membaca rasa. 


Stackable lessons

 Modular and stackable lessons for adults. 

Modular means each lesson is self-contained, focusing on a single concept, skill, or practice.

Stackable means learners can combine modules in different sequences, depending on their goals.

Progressive layering means advanced lessons build on earlier ones, yet because each module is independent, they can be re-ordered or remixed without breaking the flow.

Application-oriented means this approach is often used in adult learning, skill certifications, or therapies, where people need just-in-time knowledge rather than rigid syllabi.

Even then, all training starts with you being motivated committed first,and tahan kena "arah" waktu latihan.  Drill based arts dosent require a lot of memorisation but does not mean we dont memorise anything at all. We are talking being proficient here.. so some drills, we have to repeat until it becomes muscle memory. Ini biasa bro and sis. Stackable lessons ni artinya kita start with small lessons and work it up slowly.. bukan kata takder system and lesson plan. Ini la system yang dipakai leluhur kita kita di sebagian silat tradisi (modern times we call it stackables) .. it helps skillsets to build upon itself over time.  As an adult learner, not many can handle pedagogy bro (hafal a b,c,d system like singapore and japanese style learning) 

Masalahnya kadang kadang sudah bikin senang ada yang nak minta institutionalised training la pulak. Apa saja lah.. 

Bicara keilmuan

Asma Sunge Rajeh (ada juga yang menyebutnya Asma Sunge Raja atau Asma Sungai Rajeh) merupakan salah satu ilmu ghaib agung yang diyakini berasal dari warisan Nabi Khidir. Ilmu ini bukan sekadar mantra, melainkan sebuah kunci batin yang telah diturunkan lintas generasi kepada para wali pilihan. Tercatat, Mbah Kuwu Cakrabuana dari Cirebon yang masih paman dari Sunan Gunung Jati pernah menerima asma ini. Begitu pula Waliyullah Bujuk Tumpeng dari Pamekasan Madura, yang kemudian mewariskan kepada dua putra beliau: Syekh Abu Syamsudin dan Syekh Damanhuri di Batu Ampar, Madura, Jawa Timur. Ilmu ini kemudian menjadi pakaian kyai-kyai madura. 

Kedudukan asma ini begitu tinggi karena sifatnya multi guna.. disebut orang yang paham yakni sama nilainya dengan menguasai sepuluh hizib unggulan sekaligus sepuluh ilmu kesaktian besar. Dengan kata lain, siapa yang menguasai Asma Sunge Rajeh seakan memiliki gudang energi metafisik yang bisa diarahkan untuk berbagai keperluan: perlindungan, kewibawaan, penyembuhan, bahkan membuka jalan rezeki dan keberhasilan.

Keunikan asma ini terletak pada kemudahannya artinya tidak perlu tirakat berat, tidak harus melalui puasa panjang atau ritual rumit. Cukup diamalkan dengan lafadz singkat, sewaktu diperlukan, dan dengan izin Allah maka hajat itu bisa terwujud. Bagi sebagian kalangan, inilah rahasia kenapa ilmu ini dianggap sebagai "simpul besar" dari warisan para wali. Harus saya tekankan di sini.. dari pengalaman saya, amalan ini bagusnya dihafal langsung dan tidak ditulis untuk dihafal. 

Namun, jangan salah memahami kemudahannya. Asma Sunge Rajeh bukan sekadar bacaan kosong. Ia bekerja ketika pembacanya hadir dengan niat bersih, keyakinan teguh, dan keterhubungan kepada Yang Maha Kuasa. Tanpa itu, lafadznya hanyalah suara. Dengan itu, ia menjadi gelombang kekuatan yang mampu menembus batas kasat mata.

Orang Madura Utara meyakini, siapa yang benar-benar menjaga asma ini akan memancarkan aurat kesaktian seperti disegani kawan, ditakuti lawan, dan dihormati orang banyak. Bahkan dalam tradisi lisan, ada yang mengatakan asma ini bisa “menundukkan” kondisi alam dan makhluk halus sekalipun.

Pada akhirnya, Asma Sunge Rajeh bukan hanya tentang kekuatan ghaib, melainkan juga tentang kesadaran bahwa segala daya hanyalah pinjaman dari Allah. Ia adalah pintu kecil untuk mengingatkan manusia bahwa di balik tirai realitas ada arus besar yang terus mengalir, sebagaimana Sungai Rajeh itu sendiri abadi, deras, dan penuh rahasia.... 

Sama ada cerita seputar amalan ini benar manjur atau tidak maka kita segalanya kepada Allah. Tujuan sharing tentang amalan kyai dan pendekar Madura bukan lah untuk bangga-bagga diri kecuali untuk memberikan sedikit pencerahan tentang kayanya khazanah keilmuan para kyai,guru dan pendekar-pendekar madura. 


Riyadah diri

 Meditation and breathwork helps sharpen the "blade within" (our mind) in silence... and master the inner storm (emotion) while in motion..

Orang silat dulukala bukan suka-suka tambah tambah pekara baru dalam agama tapi meletak kan agama dalam apa-apa hal yang mereka lakukan. 

muraqobah,tu'manimah dan tafakkur concept dapat di selaraskan menjadi satu riyadah diri. Yang kemudiannya mebuat mindset kita lebih terpandu bila bersilat.

Catatan pereng sabreng. 




Monday, September 15, 2025

Perpaduan

Tidak bijaklah kita jika melaungkan perpaduan tapi bertindak berbuat perpecahan

Perpaduan bukan sekadar slogan yang dilaungkan di khalayak, tetapi harus hadir dalam setiap tindakan, tutur kata, dan keputusan yang kita buat. Kata-kata yang indah akan kosong jika tidak disokong dengan sikap saling menghormati, menghargai perbezaan, dan meletakkan kepentingan bersama melebihi kepentingan diri. Hakikatnya, orang yang benar-benar bijaksana ialah yang mampu menjahit luka, bukan menambah retak di antara sesama.”

Sunday, September 14, 2025

Sadar diri

Puncak tertinggi pengetahuan adalah "sadar diri".. yakni kemampuan  untuk menempatkan pendapat pada tempatnya. Kapan diucapkan, kapan disimpan, dan kapan diakui bahwa mungkin pendapat itu tak begitu penting. Bukan soal selalu benar.

Saturday, September 13, 2025

Indepth

Dan memanglah sebahgian soal beladiri itu harus di ajarkan dengan cepat serta padat supaya dapat di manfaatkan untuk pertahankan nayawa dan maruah. Tapi sebahgian lagi daripadanya perlu ketelatenan (indepth) kalau kita berbicara tentang "Penguasaan ilmu".


 

     

Friday, September 12, 2025

Tu'maninah

 In martial arts, mindfulness becomes a powerful tool for sharpening both body and mind. When a practitioner is fully present, every movement, breath, and stance is executed with clarity and intention rather than mechanical repetition. This heightened awareness allows one to sense internal states such as tension, fear, or hesitation and transform them into focus, calm, and precision.

Mindfulness cultivates self-control, helping a martial artist respond rather than react impulsively, and fostering a deeper understanding of personal strengths and weaknesses. Ultimately, it turns training into a journey of self-mastery rather than just physical skill. Mindfulness helps us listen with full attention, making others feel genuinely heard. It allows us to pause before reacting, choosing calmer and wiser responses. By being aware of our own emotions, we can better empathize with the feelings of others.

For Muslims who are not keen on  mindfulness due to its buddhist undertones - it is worth stating that mindfulness is a universal concept  discussed in humanistic and behavorial psychology and stripped off its buddhist attributes - the closest parallel to mindfulness is tumaʾninah, the state of inner calm and tranquility of the heart that arises from presence with Allah. Just as mindfulness invites us to be fully aware of the present moment, tumaninah calls us to be still, focused, and at peace in our worship and daily life. In martial arts or interpersonal relations, practicing tu'maninah helps a person act with clarity, patience, and balance reflecting both inner strength and spiritual grounding. 

In hindsight,  "tuma’ninah" in jurus is that little pause when you settle or complete your stance,  1-2-3-4-5 breathe, and allow the movement to “land” with full presence before flowing into the next. It’s not just a break it is the moment where body, mind, and intention align, ensuring the technique carries balance, strength, and meaning. Without tuma’ninah, a jurus becomes rushed and empty; with it, every motion is alive, deliberate, and filled with inner calm. 

"Tidak tergopoh gapah dan gegabah dalam pergerakan kita. "

taken from my own post @Dunia Pencak Silat fb group

Thursday, September 11, 2025

In and out

 “The outer fight" is brief, no matter how long it is.. the "inner fight" is lifelong nomatter how short it is... because the enemy before you sharpens the blade. The enemy within you sharpens the soul. 

perlawanan zahir macam mana lama pun berdepan dengan musuh adalah sementara'. tapi perlawanan batin (bukan soal tazkiyatun nafs saja tapi termasuk amarah dan gelisah) macam mana pendek sekalipun saat itu, adalah hal berpanjangan. 



Ilmu pisau

 Mon masok kodhoe akalambih,mon masok kodhoe deddih..Mon tak deddih,pamasok pole

kalau nak masukkan (pisau serta jurus serang) mesti kasi habis, masuk mesti "jadi". Seandainya Tak jadi, ya masuk lagi..

- mengajarkan erti keteguhan mental penyerang-


Dalam dunia pencak silat (setidaknya kalau di hemat saya), pisau merupakan salah satu senjata tradisional yang memiliki nilai praktikal dan simbolik. Ringkasan tentang pisau dalam konteks pencak silat:

1• Latihan teknik: Untuk melatih pertahanan dan serangan dalam jarak dekat.

2• Kepekaan: Melatih refleks, timing, dan kepekaan energi lawan serta "daya tactile" yakni mempertajamkan kemampuan deria sentuhan serta "rasa" (knife flipping, kerambit flip dsb).

3• Simbolik: Kadang mewakili keberanian, ketajaman akal, atau kehormatan dalam budaya silat tertentu. Di dalam beberapa ritual simbolik di persilatan yang dipelajari saya, 3 pisau yakni belati, tanto jepun dan pisau dapur cap garfu merupakan barangan yang "perlu ada" di perkhatman ilmu tersebut.

Dalam banyak aliran silat, penggunaan pisau diajarkan bersama nilai tanggungjawab dan pengendalian diri. Apapun ceritanya, pisau bukan untuk menakutkan atau mencederakan secara sembarangan, tapi sebagai alat bela diri terakhir.

Tak dinafikan, Penggunaan pisau dalam konteks persekitaran "urban" perlu dilihat dari sudut realistik, sah dari segi undang-undang, dan kesedaran situasi. Atas alasan ini sendiri, ilmu pisau melewati beberapa perubahan dari sudut applikasi dan defensif (sewing machine stab and defence)



taken from my own post  @Dunia Pencak Silat fb group

Reviving this blog

I’ve decided to bring this blog back to life it feels like the most cost-effective way to share updates without running a full website. I’ll be jotting down my thoughts here so they’re easy to revisit whenever needed. I have wasted many resources noting down all thoughts and then losing it in the process. 

One of the benefits of having a blog is that I will be able to impart some of my thoughts systematically with regards to this martial arts to all course participants, regular students and the general public because there is only so much i can teach in the class. 

The last tim ive updated is around 2017. Surely, many things have changed since then even for my writing style and outlook on life as a pesilat. 

Blogging in my humble opinion will never truly go out of style because at its core, it is about authentic voice and long-form expression.. things that quick social media posts can’t replace. While platforms rise and fall, a blog remains a space you own, where ideas can live longer than a fleeting algorithm. It offers depth, context, and continuity, making it more like a personal archive than just a broadcast. In an age of endless noise and short attention spans, the relevance of blogging lies in its ability to slow things down, give nuance, and preserve thoughts in a way that’s both personal and timeless.

Anyway do visit often. Drop me a message if you so wish.