Madura bukan hanya dikenal dengan karapan sapi dan garamnya, tetapi juga dengan kisah-kisah jawara yang melegenda. Dari sekian banyak nama, satu yang selalu muncul di cerita rakyat adalah Sakerah. Ia dikenal sebagai sosok pemberani, keras kepala, dan tak mau tunduk pada ketidakadilan. Walaupun hidupnya berakhir tragis, namanya terus dikenang sebagai simbol harga diri orang Madura.
Siapakah Sakerah?
Sakerah diyakini hidup di abad ke-19, pada masa kolonial Belanda. Ia berasal dari daerah Sampang, Madura. Sejak muda, Sakerah dikenal jago silat dan mahir menggunakan celurit, senjata khas Madura yang selalu ia bawa ke manapun pergi. Dalam banyak kisah lisan, ia disebut memiliki kesaktian dan nyali yang besar.
Namun, di balik keberaniannya, ia juga dikenal mudah marah. Bagi Sakerah, tidak ada yang lebih penting daripada kehormatan. Sedikit saja ia merasa dilecehkan atau rakyat kecil ditindas, amarahnya bisa meledak.
Perlawanan terhadap Belanda
Saat Belanda menancapkan kuku kekuasaan di Madura, rakyat dipaksa membayar pajak tinggi dan tunduk pada aturan kolonial. Sakerah menolak. Ia melawan dengan caranya sendiri: menyerang aparat penjajah dan siapa pun yang dianggap berkhianat kepada rakyat.
Dari sini, ia menjadi legenda. Rakyat melihatnya sebagai pahlawan yang membela mereka. Sebaliknya, Belanda menganggapnya sebagai pemberontak berbahaya yang harus ditumpas.
Akhir yang Tragis
Namun keberanian Sakerah tak bisa bertahan selamanya. Ia akhirnya ditangkap dengan tipu daya Belanda. Menurut cerita rakyat, ia dibawa ke alun-alun Sampang untuk dieksekusi gantung.
Konon, bahkan ketika tali sudah menjerat lehernya, tatapan Sakerah masih menyala penuh perlawanan. Ia tidak meminta ampun, tidak menangis, tidak tunduk. Ia mati berdiri sebagai seorang jawara.
Sakerah dalam Budaya Madura
Nama Sakerah terus hidup dalam ingatan masyarakat. Kisahnya sering dipentaskan dalam ludruk Madura, syair rakyat, dan cerita tutur dari orang tua kepada anak cucu. Ia bukan hanya seorang manusia, tetapi sudah menjelma menjadi simbol: simbol keberanian, harga diri, dan pantang tunduk pada penindasan.
Penutup
Bagi orang Madura, Sakerah bukan hanya cerita lama. Ia adalah cermin watak yang diwariskan turun-temurun
No comments:
Post a Comment