Tuesday, October 28, 2025

Surabaya kota pahlawan

Surabaya memiliki peranan penting dalam sejarah dan perkembangan silat di Nusantara, terutama di Jawa Timur. Kota ini dikenal bukan hanya sebagai pusat perdagangan dan perjuangan kemerdekaan, tetapi juga sebagai tempat bertemunya berbagai budaya dan aliran bela diri. Dari Jawa, Madura, Bugis, Tionghoa hingga Arab, semua memiliki pengaruh yang membentuk corak silat Surabaya yang khas. Letaknya yang strategis di pelabuhan besar menjadikan Surabaya sebagai tempat percampuran teknik, filosofi, dan karakter dalam dunia silat.

Banyak pendekar besar lahir atau pernah berkiprah di Surabaya. Di kawasan Ampel dan Kembang Jepun, silat tumbuh beriringan dengan dakwah Islam yang dibawa oleh para kiai dan santri pejuang. Gerak silat dianggap bukan sekadar seni bertarung, tetapi juga jalan spiritual untuk membentuk akhlak dan ketahanan diri. Sementara di pesisir seperti Kenjeran, Peneleh, dan Tambak, berkembang gaya silat yang keras dan cepat, dipengaruhi oleh kehidupan para pelaut dan suasana pelabuhan yang keras dan dinamis.

Bagi masyarakat Surabaya, silat bukan hanya alat pertahanan diri. Ia adalah simbol harga diri, keberanian, dan ketegasan. Watak arek Suroboyo yang keras kepala namun jujur dan setia tampak dalam gaya bertarung mereka. Pada masa penjajahan, para pesilat turut menjadi tulang punggung perjuangan rakyat, mengajarkan bela diri untuk mempertahankan tanah air. Semangat pantang mundur dan keberanian menghadapi siapa pun telah menjadi napas silat Surabaya hingga kini.

Selain itu, Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai pusat dakwah Islam di Jawa Timur. Kawasan Ampel menjadi tempat tinggal para ulama dan santri yang menyebarkan pendidikan agama serta nilai-nilai sosial kepada masyarakat kota. Tradisi pesantren, pengajian, dan zikir kolektif sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu, menjadikan Surabaya sebagai salah satu kota yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan politik, tetapi juga kaya secara spiritual. Peran ini sering terlupakan karena publik lebih fokus pada sejarah perang dan perlawanan, padahal kontribusi budaya dan agama inilah yang membentuk karakter kota hingga hari ini.

Hari ini, Surabaya tetap diakui sebagai salah satu pusat silat terbesar di Indonesia. Berbagai perguruan besar seperti PSHT, Pagar Nusa, Perisai Diri, dan Tapak Suci tumbuh subur di kota ini. Dari Surabaya, silat terus berkembang bukan hanya sebagai seni bertarung, tetapi juga sebagai jalan pembentukan watak, kedisiplinan, dan kehormatan diri.

Tradisi Madura di Surabaya

Budaya Madura memiliki pengaruh yang kuat di Surabaya. Kedekatan geografis dan sejarah panjang hubungan antara Pulau Madura dan pesisir timur Jawa menjadikan masyarakat Madura bagian penting dari wajah sosial Surabaya. Sejak berabad-abad lalu, banyak orang Madura datang ke Surabaya untuk berdagang, bekerja, dan menetap. Dari pertemuan itu lahirlah perpaduan yang menarik antara ketegasan dan keberanian orang Madura dengan semangat terbuka dan keras kepala khas arek Suroboyo.

Banyak pendekar Madura menetap di Surabaya dan membuka perguruan silat. Mereka memperkenalkan gaya silat Madura yang cepat, keras, dan penuh keberanian. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai kehormatan, solidaritas, dan kejujuran orang Madura juga ikut mewarnai karakter masyarakat Surabaya.

Selain silat, masyarakat Madura membawa tradisi keagamaan dan kesenian yang kuat. Peringatan Maulid Nabi, pembacaan sholawat diba’, hadrah, dan ratib kini menjadi bagian dari kehidupan spiritual kota ini. Kawasan seperti Ampel, Tambak Wedi, dan Kenjeran masih mempertahankan suasana religius yang mengingatkan pada kampung halaman di Madura.

Dalam hal kuliner, pengaruh Madura tampak jelas. Sate Madura, soto Madura, dan lontong kupang bukan lagi sekadar makanan khas, melainkan identitas kuliner Surabaya. Bahkan gaya bicara masyarakatnya, dengan logat yang tegas namun bersahabat, banyak dipengaruhi oleh bahasa Madura.

Tradisi Madura telah menjadi bagian dari jiwa Surabaya. Ia membentuk karakter masyarakatnya yang keras tapi setia, berani namun jujur, tegas tapi hangat. Nilai-nilai inilah yang membuat Surabaya bukan hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga sebagai kota dengan semangat Madura yang hidup dan menyatu dalam denyut kehidupannya.

Saya merasa amat bersyukur diberi peluang untuk berlatih di tanah leluhur, tempat di mana setiap langkah, setiap gerak, dan setiap napas terasa mengalir bersama sejarah dan energi para pendahulu. Di sini, bukan sekadar teknik yang saya pelajari, tetapi juga nilai, filosofi, dan semangat yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap sudut tanah ini seolah menyimpan kisah para pendekar dan guru yang membimbing generasi demi generasi, dan saya diberi kesempatan untuk menyerapnya, memahami jejak mereka, serta menumbuhkan keberanian dan ketenangan di dalam diri.

Sebagai anak diaspora berketurunan Indonesia - meskipun bukan orang Madura -, berlatih di tanah leluhur setelah sekian lamanya membuat saya menyadari bahwa ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara saya dan leluhur yang telah berjuang, berdoa, dan membentuk identitas budaya ini. Kesempatan ini adalah hadiah yang tidak ternilai, yang mengajarkan saya rasa hormat, kesabaran, dan rasa syukur yang mendalam setiap kali melangkah, mempraktikkan, dan meresapi setiap ajaran yang telah diwariskan ke saya sebagai penerus.

 






No comments:

Post a Comment