Showing posts with label Pengalaman. Show all posts
Showing posts with label Pengalaman. Show all posts

Wednesday, December 31, 2025

Pre-emptive self-defence

In traditional silat thinking, pre-emptive self-defence does not mean attacking first out of anger or ego. It means acting early to prevent harm when danger is already forming and avoidance is no longer possible. The old teachers understood something modern law also recognises: waiting too long can be more dangerous than acting decisively. But action must be rooted in necessity, proportionality, and awareness, not impulse.

Pre-emptive self-defence begins long before physical contact. It starts with reading intent from posture, distance, breath, tone of voice, and positioning. Silat trains the eyes and body to notice when space is being closed, exits are blocked, or aggression is escalating. A timely step offline, a firm verbal boundary, or repositioning to safety is already pre-emptive action. When I studied Kali and Kuntau - the cousins of silat -, I realised these two arts sharpen this pre-emptive mindset further (I already had this in Silat) when at close range, where tactile awareness and structure allow one to neutralise danger the moment intent becomes unavoidable.

When physical action is required, traditional silat teaches interruption, not punishment. The goal is to break balance, disrupt coordination, and create a window to disengage and leave. This is why older systems favour angles, off-timing, and simple mechanics over prolonged exchanges. The emphasis is not on “winning,” but on ending the threat quickly with the least force necessary. This aligns closely with modern legal expectations of self-defence.

For today’s practitioner, the application of pre-emptive concept in self-defence must be coupled with maturity. It requires understanding local laws, emotional control, and ethical restraint. Silat and kuntau, when taught properly, develop this judgment alongside physical skill. The old saying applies: cepat bertindak bukan berarti harus kasar ... True pre-emptive defence is calm, measured, and grounded in responsibility.

Ibarat musuh baru masuk, kita sudah serang... Ibarat baru Musuh datang, kita sudah selesai.. 

Wednesday, November 26, 2025

Kyusho-jitsu Street combat

Today I earned the Kyusho Jitsu street combat black belt 1st Dan. Kyushojutsu is the art of manipulating the body’s vulnerable points to create specific reactions  whether to control, disable temporarily, or open an opportunity for a follow-up technique.  It blends anatomical knowledge, nerve physiology, angle of attack, direction of pressure, and proper timing. In silat or any martial art, kyushojutsu becomes a subtle layer that makes ordinary techniques far more effective with minimal effort. Once understood, it changes the way you view movement  you stop relying on strength and start relying on structure, timing, and the opponent’s own reactions. But under Dr Sundardas he took it further by aplying the sciences of street combat self defence to the art so it is appropriate to say this is an add on to the earlier blackbelt 1st Dan in Kyushojitsu.



Tuesday, October 28, 2025

Surabaya kota pahlawan

Surabaya memiliki peranan penting dalam sejarah dan perkembangan silat di Nusantara, terutama di Jawa Timur. Kota ini dikenal bukan hanya sebagai pusat perdagangan dan perjuangan kemerdekaan, tetapi juga sebagai tempat bertemunya berbagai budaya dan aliran bela diri. Dari Jawa, Madura, Bugis, Tionghoa hingga Arab, semua memiliki pengaruh yang membentuk corak silat Surabaya yang khas. Letaknya yang strategis di pelabuhan besar menjadikan Surabaya sebagai tempat percampuran teknik, filosofi, dan karakter dalam dunia silat.

Banyak pendekar besar lahir atau pernah berkiprah di Surabaya. Di kawasan Ampel dan Kembang Jepun, silat tumbuh beriringan dengan dakwah Islam yang dibawa oleh para kiai dan santri pejuang. Gerak silat dianggap bukan sekadar seni bertarung, tetapi juga jalan spiritual untuk membentuk akhlak dan ketahanan diri. Sementara di pesisir seperti Kenjeran, Peneleh, dan Tambak, berkembang gaya silat yang keras dan cepat, dipengaruhi oleh kehidupan para pelaut dan suasana pelabuhan yang keras dan dinamis.

Bagi masyarakat Surabaya, silat bukan hanya alat pertahanan diri. Ia adalah simbol harga diri, keberanian, dan ketegasan. Watak arek Suroboyo yang keras kepala namun jujur dan setia tampak dalam gaya bertarung mereka. Pada masa penjajahan, para pesilat turut menjadi tulang punggung perjuangan rakyat, mengajarkan bela diri untuk mempertahankan tanah air. Semangat pantang mundur dan keberanian menghadapi siapa pun telah menjadi napas silat Surabaya hingga kini.

Selain itu, Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai pusat dakwah Islam di Jawa Timur. Kawasan Ampel menjadi tempat tinggal para ulama dan santri yang menyebarkan pendidikan agama serta nilai-nilai sosial kepada masyarakat kota. Tradisi pesantren, pengajian, dan zikir kolektif sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu, menjadikan Surabaya sebagai salah satu kota yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan politik, tetapi juga kaya secara spiritual. Peran ini sering terlupakan karena publik lebih fokus pada sejarah perang dan perlawanan, padahal kontribusi budaya dan agama inilah yang membentuk karakter kota hingga hari ini.

Hari ini, Surabaya tetap diakui sebagai salah satu pusat silat terbesar di Indonesia. Berbagai perguruan besar seperti PSHT, Pagar Nusa, Perisai Diri, dan Tapak Suci tumbuh subur di kota ini. Dari Surabaya, silat terus berkembang bukan hanya sebagai seni bertarung, tetapi juga sebagai jalan pembentukan watak, kedisiplinan, dan kehormatan diri.

Tradisi Madura di Surabaya

Budaya Madura memiliki pengaruh yang kuat di Surabaya. Kedekatan geografis dan sejarah panjang hubungan antara Pulau Madura dan pesisir timur Jawa menjadikan masyarakat Madura bagian penting dari wajah sosial Surabaya. Sejak berabad-abad lalu, banyak orang Madura datang ke Surabaya untuk berdagang, bekerja, dan menetap. Dari pertemuan itu lahirlah perpaduan yang menarik antara ketegasan dan keberanian orang Madura dengan semangat terbuka dan keras kepala khas arek Suroboyo.

Banyak pendekar Madura menetap di Surabaya dan membuka perguruan silat. Mereka memperkenalkan gaya silat Madura yang cepat, keras, dan penuh keberanian. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai kehormatan, solidaritas, dan kejujuran orang Madura juga ikut mewarnai karakter masyarakat Surabaya.

Selain silat, masyarakat Madura membawa tradisi keagamaan dan kesenian yang kuat. Peringatan Maulid Nabi, pembacaan sholawat diba’, hadrah, dan ratib kini menjadi bagian dari kehidupan spiritual kota ini. Kawasan seperti Ampel, Tambak Wedi, dan Kenjeran masih mempertahankan suasana religius yang mengingatkan pada kampung halaman di Madura.

Dalam hal kuliner, pengaruh Madura tampak jelas. Sate Madura, soto Madura, dan lontong kupang bukan lagi sekadar makanan khas, melainkan identitas kuliner Surabaya. Bahkan gaya bicara masyarakatnya, dengan logat yang tegas namun bersahabat, banyak dipengaruhi oleh bahasa Madura.

Tradisi Madura telah menjadi bagian dari jiwa Surabaya. Ia membentuk karakter masyarakatnya yang keras tapi setia, berani namun jujur, tegas tapi hangat. Nilai-nilai inilah yang membuat Surabaya bukan hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga sebagai kota dengan semangat Madura yang hidup dan menyatu dalam denyut kehidupannya.

Saya merasa amat bersyukur diberi peluang untuk berlatih di tanah leluhur, tempat di mana setiap langkah, setiap gerak, dan setiap napas terasa mengalir bersama sejarah dan energi para pendahulu. Di sini, bukan sekadar teknik yang saya pelajari, tetapi juga nilai, filosofi, dan semangat yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap sudut tanah ini seolah menyimpan kisah para pendekar dan guru yang membimbing generasi demi generasi, dan saya diberi kesempatan untuk menyerapnya, memahami jejak mereka, serta menumbuhkan keberanian dan ketenangan di dalam diri.

Sebagai anak diaspora berketurunan Indonesia - meskipun bukan orang Madura -, berlatih di tanah leluhur setelah sekian lamanya membuat saya menyadari bahwa ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara saya dan leluhur yang telah berjuang, berdoa, dan membentuk identitas budaya ini. Kesempatan ini adalah hadiah yang tidak ternilai, yang mengajarkan saya rasa hormat, kesabaran, dan rasa syukur yang mendalam setiap kali melangkah, mempraktikkan, dan meresapi setiap ajaran yang telah diwariskan ke saya sebagai penerus.

 






Friday, October 17, 2025

Kecenderungan Murid

Dalam dunia silat memang terdapat bermacam-macam kecenderungan murid, ibarat aliran sungai yang banyak cabangnya tetapi berpunca dari satu sumber yang sama yaitu niat untuk mempertahankan diri dan menegakkan martabat insan.

Antara kecenderungan yang sering terlihat:

Kecenderungan Tempur dan beladiri – Fokus kepada teknik bertempur, kecekapan gerak, kekuatan fizikal, dan strategi perlawanan. Biasanya ini lahir dari keperluan mempertahankan diri atau sistem keamanan zaman dahulu.*

Kecenderungan Olahraga (Sportif) – Menjadikan silat sebagai sukan, dengan peraturan, sistem markah, dan pertandingan. Di sini silat menjadi medium disiplin, kesihatan, dan semangat juang.*

Kecenderungan Tari dan Adat (Estetik dan Budaya) – Menekankan keindahan gerak, irama langkah, dan makna simbolik dalam bunga silat. Ini mencerminkan nilai seni, budaya, dan jati diri bangsa.*

Kecenderungan Kerohanian (Tasawuf dan Kebatinan) – Melihat silat sebagai jalan pembersihan diri dan penyatuan antara jasmani, rohani, dan alam. Di sini gerak menjadi zikir, dan diam menjadi tafakur.*

Kecenderungan Perobatan dan Tenaga Dalam (Penyembuhan) Ada juga di beberapa perguruan di mana silat menjadi alat memahami tubuh, tenaga, dan keseimbangan. Ada sebahagian guru silat yang juga tabib kerana faham “gerak” di dalam dan di luar diri. Mengingat kembali di zaman kampung, guru silat juga dianggap sebagai ahli perobatan dan tak sedikit juga dari mereka itu guru agama.*

Harus saya tegaskan, menurut almarhum guru kami, di konteks murid dewasa tidak ada kecenderungan yang salah, yang salah itu apabila sang guru :

1. Tidak menempatkan bakat murid di tempat yang benar.

2. Memaksa murid untuk "Supaya harus bisa". (mengingatkan tak semua murid lahir cerdas). Bagaimana pula kalau muridnya kelahiran serba kekurangan upaya (bukan soal OKU 100% tapi tidak dapat membuat tendangan kerana cedera atau kelahiran 'congenital' menurut beliau seperti itu juga layak mendapat pelajaran silat). 

3. Memaksa diri untuk meberikan materi ke murid luar dari jangkauan ilmu nya sendiri (tidak jujur).

*pecahan yang lebih mendetail di atas boleh di lihat di post saya yang lalu  

Tugas seorang guru sebenarnya lebih dari sekadar mengajar. Guru yang baik bukan hanya mahu muridnya pandai, tetapi mahu mereka menjadi diri sendiri dengan cara yang terbaik. Setiap murid mempunyai bakat dan kecenderungan yang berbeza. Ada yang cepat memahami gerak, ada yang sabar dan tekun, ada juga yang kuat semangat tetapi lembut hatinya. Di sinilah peranan guru, iaitu mengenal kekuatan setiap murid dan membimbing mereka ke arah yang sesuai.

Dalam silat, hal ini sangat penting. Ada murid yang lebih sesuai dengan latihan tenaga dan ketangkasan, sementara yang lain lebih menonjol dalam seni bunga atau kefahaman makna gerak. Jika guru tersalah menempatkan murid, pelajaran itu akan menjadi berat bagi mereka. Tetapi jika guru tahu menyesuaikan cara mengajar dengan watak murid, maka pelajaran itu akan menjadi ringan dan menyenangkan. Murid belajar dengan semangat, bukan kerana terpaksa.

Seorang guru sejati tidak mengharapkan semua muridnya menjadi sama. Sebaliknya, dia mahu setiap murid berkembang dengan cara masing-masing. Itulah tanda guru yang benar, yang mampu melihat potensi dan membimbingnya dengan sabar.

Namun untuk melahirkan pesilat yang benar-benar menyeluruh, guru juga perlu menggalakkan murid agar berani keluar dari zon selesa mereka. Walaupun seseorang sudah mahir dalam satu bidang seperti tempur, tari, atau tenaga dalam, dia tetap perlu menerokai pelajaran lain untuk melengkapkan diri. Dengan cara itu, murid bukan sahaja kuat pada satu sisi, tetapi juga seimbang dari segi fizikal, mental, dan rohani.

Seperti pesan guru saya yang lebih kurang intinya, "jangan terlalu terikat pada kecenderungan, tetapi fahami asasnya, cabangnya, dan akhirnya tetap harus kembali kepada inti. Silat hanyalah wadah, bukan tujuan". Apabila murid memahami makna ini, mereka akan belajar bukan semata-mata untuk kuat atau menang, tetapi untuk mengenal diri dan hidup dalam keseimbangan.

Dari pengalaman saya pula, ketika mula mengajar dahulu saya memiliki sekitar enam puluh orang murid. Pada waktu itu, saya pernah ditegur kerana terlalu berfokus pada hasil dan angka, seolah-olah mengajar itu sekadar mengejar KPI. Pendekatan saya menurut beliau menjadi kaku dan penuh tekanan, hingga akhirnya saya sendiri merasa lelah dan kehilangan makna sebenar dalam mendidik. Padahal, arwah guru saya dahulu tidak pernah menuntut apa-apa selain keikhlasan dalam mengajar.

Ketika saya pulang ke padepokan (acara tahuanan), saya “digembleng” semula bukan dalam gerak, tetapi dalam jiwa. Saya diajar untuk lebih empati, lebih berjiwa rakyat, dan memahami watak serta keperluan setiap murid seperti seorang sahabat, bukan sekadar pelatih. Arwah guru sering berpesan kepada saya bahawa murid remaja dan murid dewasa sangat berbeza. Yang muda belajar dengan semangat, yang dewasa belajar dengan memahami konsep serta pengalaman. Maka tugas guru ialah menyesuaikan pendekatan, agar setiap murid merasa difahami dan dihargai dalam perjalanan mereka belajar.

Please understand that I am not here to preach about how to be a teacher to those who are already having your class and teaching, I am here to only share on the wisdom of our grandmaster Almarhum Mas Mochamad Amien   as a silat teacher dan pendakwah (secara "indirect") dimana beliau telah mengislamkan orang (mualaf) melalui jalan sebagai guru silat. Should there be any lapses in any of my teachings that is not at par to my teacher, understand that I am still learning the ways.   



Friday, October 3, 2025

Khataman Wira.. sebuah cerita.

Satu Cerita Sebelum Pengijazahan

Sebelum pengijazahan, ada satu proses yang dijalani oleh siswa silat di tempat saya berlatih. Proses ini dipanggil rukat. Menariknya, “rukat” di sini punya beberapa makna—ada yang mengaitkannya dengan rakaat, ada juga dengan dirawat. Dalam konteks umum, “di rukat” boleh diartikan sebagai proses di mana seorang murid dibacakan doa atau mantra oleh orang pintar, supaya sembuh atau bersih dari gangguan halus. Tetapi dalam latihan ini, rukat bermaksud seleksi—untuk melihat keberadaan murid secara lahir dan batin. Mirip dengan istilah “kecer” di tanah Jawa Barat, tapi ini adalah versi kami. Walaupun dari luar mungkin tampak mistik atau superstisi, sebenarnya ada makna mendalam jika ditinjau dengan mata ilmu.

Caranya begini: setiap murid diarahkan membeli telur bebek/itik, tapi tidak boleh sembarangan. Tidak boleh ramai-ramai, tidak boleh dicatat route-nya, harus dihafal. Misalnya, “sampai perempatan belok kanan, terus jalan depan ada pasar masuk kiri…”—semua harus diingat, tanpa catatan. Saat membeli, tidak boleh tawar-menawar. Hanya gunakan rasa hati, lalu sebutkan kepada penjual bahwa kita murid Mas Amin. Setelah sampai di padepokan, nama ditulis di cangkang, telur direbus tanpa tengok jam, hanya dengan perasaan. Intinya: be mindful and present.

Saya pun ikut. Dalam hati sempat membatin, apa susahnya? Tapi saya lupa, ini bukan Singapura, ini Ampel—tempat besar, sibuk, ramai orang. Bukan walk in the park. Saya sampai nyaris tersesat. Cari pelan-pelan, sambil membaca Ihdinash shirootal mustaqim berulang kali, akhirnya sampai juga. Setelah telur di tangan, gaya ilmuwan saya keluar—saya Google cara merebus telur supaya tidak terlalu matang atau mentah. Semua timed perfectly, “swee swee, very chun” kata orang kita. Tapi waktu presentasi ke guru, alangkah terkejutnya—SALAH TELUR! Nama orang lain tertulis di kulitnya. Guru pun kecewa, wajahnya seolah warrant officer NS yang tengah binget nak tekan kita habis-habisan. Teman sebelah yang telurnya tertukar pun ikut kena getahnya—salah saya juga. Akhirnya saya kena ulang seluruh proses, tertinggal hampir satu jam dari yang lain.

Kali kedua saya jalani dengan pasrah. Tanpa timer, tanpa hitungan. Hanya diri sendiri dan rasa waktu. Jangan terlalu banyak berpikir, jangan terlalu melekat pada hasil. Setelah selesai Asar, kami semua berkumpul menunggu analisa. Gus Amien membacakan doa, lalu satu per satu dipanggil. Katanya, sikap tersirat murid akan terbaca dari bentuk rebusan telur. Ada yang ketika dibelah mengeluarkan bau tak enak—tanda kurang baik. Ada pula yang kuningnya padat berkilau bak intan. Telur saya? Biasa-biasa saja. Kata beliau: “Mas Hadi, lulus. Tapi ingat, jangan gegabah. Kamu sering ngebut kerana apa sih?!” (why are you always in a rush?) Ini ibarat sebuah tamparan lembut—ternyata ini adalah ujian kesabaran, ketelitian, daya ingat, mindfulness, dan ketahanan diri. Bukan sekadar merebus telur.

Dan akhirnya, telur-telur yang tersisa—yang masih elok—dijadikan lauk kenduri bersama. Dari sebuah latihan sederhana, saya belajar: kadang proses yang terlihat remeh menyimpan makna besar tentang siapa diri kita dan bagaimana kita menjalani hidup.