Showing posts with label Budaya. Show all posts
Showing posts with label Budaya. Show all posts

Thursday, October 30, 2025

“Peta Bukanlah Wilayah” (The map is not the territory)

Dalam ilmu NLP, ungkapan “peta bukanlah wilayah” (the map is not the territory) mengajarkan bahwa apa yang kita pahami tentang dunia hanyalah gambaran mental dan bukan kenyataan itu sendiri. Pikiran manusia bekerja seperti pembuat peta: ia menggambar jalan berdasarkan pengalaman, bahasa, keyakinan, dan emosi. Maka, setiap orang memiliki “peta” yang berbeda, walau berjalan di “wilayah” yang sama. Coba anda mengajak beberapa teman untuk mendeskripsi kan apa yang mereka tahu dengan diri anda dan anda evaluasikan sendiri tentang apa yang anda tahu tentang diri anda sendiri.. you will find different answers that will uprise you!! sama lah juga dengan silat.

Justru kesadaran ini melatih kita untuk tidak menganggap pandangan kita paling benar, melainkan memahami bahwa setiap orang hidup dalam versinya sendiri dari dunia yang nyata.

Dalam dunia silat, makna ini terasa lebih dalam. Jurus, langkah, dan bentuk adalah peta dimana ia membantu kita mengenal arah dan pola. Namun ketika menghadapi lawan, medan berubah, angin berpindah, dan niat manusia tak dapat diprediksi. Di situlah pesilat sejati belajar membaca wilayah: bukan sekadar menghafal jurus, tapi memahami rasa dari setiap gerak. Ia menyesuaikan diri, seperti air mengikuti wadahnya. Jurus hanya petunjuk; rasa adalah kenyataan.

Di dunia silat kata kata ini boleh di selaraskan dengan konsep “Jangan terikat pada bentuk, tapi pahami napas di baliknya.” Dalam latihan, peta itu penting, tetapi dalam kehidupan nyata, wilayahlah yang menentukan arah langkahmu. Begitu pula dalam perjalanan batin atau spiritual yakni pengetahuan hanyalah peta, pengalamanlah yang membawamu pada kebijaksanaan sejati. Pesilat yang bijak tahu bila membaca jurus, dan memberi response.

Tuesday, October 28, 2025

Surabaya kota pahlawan

Surabaya memiliki peranan penting dalam sejarah dan perkembangan silat di Nusantara, terutama di Jawa Timur. Kota ini dikenal bukan hanya sebagai pusat perdagangan dan perjuangan kemerdekaan, tetapi juga sebagai tempat bertemunya berbagai budaya dan aliran bela diri. Dari Jawa, Madura, Bugis, Tionghoa hingga Arab, semua memiliki pengaruh yang membentuk corak silat Surabaya yang khas. Letaknya yang strategis di pelabuhan besar menjadikan Surabaya sebagai tempat percampuran teknik, filosofi, dan karakter dalam dunia silat.

Banyak pendekar besar lahir atau pernah berkiprah di Surabaya. Di kawasan Ampel dan Kembang Jepun, silat tumbuh beriringan dengan dakwah Islam yang dibawa oleh para kiai dan santri pejuang. Gerak silat dianggap bukan sekadar seni bertarung, tetapi juga jalan spiritual untuk membentuk akhlak dan ketahanan diri. Sementara di pesisir seperti Kenjeran, Peneleh, dan Tambak, berkembang gaya silat yang keras dan cepat, dipengaruhi oleh kehidupan para pelaut dan suasana pelabuhan yang keras dan dinamis.

Bagi masyarakat Surabaya, silat bukan hanya alat pertahanan diri. Ia adalah simbol harga diri, keberanian, dan ketegasan. Watak arek Suroboyo yang keras kepala namun jujur dan setia tampak dalam gaya bertarung mereka. Pada masa penjajahan, para pesilat turut menjadi tulang punggung perjuangan rakyat, mengajarkan bela diri untuk mempertahankan tanah air. Semangat pantang mundur dan keberanian menghadapi siapa pun telah menjadi napas silat Surabaya hingga kini.

Selain itu, Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai pusat dakwah Islam di Jawa Timur. Kawasan Ampel menjadi tempat tinggal para ulama dan santri yang menyebarkan pendidikan agama serta nilai-nilai sosial kepada masyarakat kota. Tradisi pesantren, pengajian, dan zikir kolektif sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu, menjadikan Surabaya sebagai salah satu kota yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan politik, tetapi juga kaya secara spiritual. Peran ini sering terlupakan karena publik lebih fokus pada sejarah perang dan perlawanan, padahal kontribusi budaya dan agama inilah yang membentuk karakter kota hingga hari ini.

Hari ini, Surabaya tetap diakui sebagai salah satu pusat silat terbesar di Indonesia. Berbagai perguruan besar seperti PSHT, Pagar Nusa, Perisai Diri, dan Tapak Suci tumbuh subur di kota ini. Dari Surabaya, silat terus berkembang bukan hanya sebagai seni bertarung, tetapi juga sebagai jalan pembentukan watak, kedisiplinan, dan kehormatan diri.

Tradisi Madura di Surabaya

Budaya Madura memiliki pengaruh yang kuat di Surabaya. Kedekatan geografis dan sejarah panjang hubungan antara Pulau Madura dan pesisir timur Jawa menjadikan masyarakat Madura bagian penting dari wajah sosial Surabaya. Sejak berabad-abad lalu, banyak orang Madura datang ke Surabaya untuk berdagang, bekerja, dan menetap. Dari pertemuan itu lahirlah perpaduan yang menarik antara ketegasan dan keberanian orang Madura dengan semangat terbuka dan keras kepala khas arek Suroboyo.

Banyak pendekar Madura menetap di Surabaya dan membuka perguruan silat. Mereka memperkenalkan gaya silat Madura yang cepat, keras, dan penuh keberanian. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai kehormatan, solidaritas, dan kejujuran orang Madura juga ikut mewarnai karakter masyarakat Surabaya.

Selain silat, masyarakat Madura membawa tradisi keagamaan dan kesenian yang kuat. Peringatan Maulid Nabi, pembacaan sholawat diba’, hadrah, dan ratib kini menjadi bagian dari kehidupan spiritual kota ini. Kawasan seperti Ampel, Tambak Wedi, dan Kenjeran masih mempertahankan suasana religius yang mengingatkan pada kampung halaman di Madura.

Dalam hal kuliner, pengaruh Madura tampak jelas. Sate Madura, soto Madura, dan lontong kupang bukan lagi sekadar makanan khas, melainkan identitas kuliner Surabaya. Bahkan gaya bicara masyarakatnya, dengan logat yang tegas namun bersahabat, banyak dipengaruhi oleh bahasa Madura.

Tradisi Madura telah menjadi bagian dari jiwa Surabaya. Ia membentuk karakter masyarakatnya yang keras tapi setia, berani namun jujur, tegas tapi hangat. Nilai-nilai inilah yang membuat Surabaya bukan hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga sebagai kota dengan semangat Madura yang hidup dan menyatu dalam denyut kehidupannya.

Saya merasa amat bersyukur diberi peluang untuk berlatih di tanah leluhur, tempat di mana setiap langkah, setiap gerak, dan setiap napas terasa mengalir bersama sejarah dan energi para pendahulu. Di sini, bukan sekadar teknik yang saya pelajari, tetapi juga nilai, filosofi, dan semangat yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap sudut tanah ini seolah menyimpan kisah para pendekar dan guru yang membimbing generasi demi generasi, dan saya diberi kesempatan untuk menyerapnya, memahami jejak mereka, serta menumbuhkan keberanian dan ketenangan di dalam diri.

Sebagai anak diaspora berketurunan Indonesia - meskipun bukan orang Madura -, berlatih di tanah leluhur setelah sekian lamanya membuat saya menyadari bahwa ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara saya dan leluhur yang telah berjuang, berdoa, dan membentuk identitas budaya ini. Kesempatan ini adalah hadiah yang tidak ternilai, yang mengajarkan saya rasa hormat, kesabaran, dan rasa syukur yang mendalam setiap kali melangkah, mempraktikkan, dan meresapi setiap ajaran yang telah diwariskan ke saya sebagai penerus.

 






Saturday, October 25, 2025

Menguak Konsep lama pengeras/Mahar dalam ilmu silat traditional

Mahar bukan berarti "jual beli ilmu", tapi sering di jadikan ujian awal murid – apakah serius atau hanya lip service.

Dalam tradisi tertentu (terutama silat yang terhubung dengan tasawuf dan tarekat), ilmu tidak boleh dimahar secara uang, tapi melalui khidmat dan pegabdian terhadap Syeikh/Guru.

Sebagian guru zaman sekarang menyederhanakan mahar menjadi seikhlasnya, atau sekadar syarat administratif.

Zaman moderen sering dikaitkan dengan “Fees” untuk kesinambungan dan survival Sang Guru atau perguruan. Di sini pemaknaan “Fees” hanya sebatas konsep ilmu ekonomi moderen dimana hukum supply-demand, kelangsungan pelajaran (teachers transport fees, sewa tempat dan duit penat), dan “cari makan” Namun di pendapat penulis.. ini tak begitu sama dengan Pengeras/Mahar dalam artikata tradisional. Fees can give you the access to training sementara Pengeras adalah spesifik (But that is just my opinion).

Bentuknya

1. Wang/uang: nominalnya tetap atau seikhlasnya, kadang dengan angka ganjil atau keramat (786, 111,79 dsb..) nombor yang terhubung dengan numerology arab (another topic for another time)

2. Barang simbolik: keris kecil, batu akik, minyak tertentu, bunga.

3. Tirakat: puasa, wirid, tapa, semedi sebagai bagian dari mahar non-materi tebus ilmu dengan lelaku spiritual.

4. Buah tangan Barang Harian: Kopi, Beras, Ayam. Makanan

Mindset orang dulukala

Biasanya, pengeras ini dipercaya untuk “mengunci” atau “mengaktifkan” energi dari ilmu tersebut, supaya tidak luntur atau mudah hilang.

Mencari barokahmemudahkan urusan guru. Logiknya di sini, jika seseorang guru senang hati dengan murid, maka perjalanan pelajaran pun lancar. Senang hatinya kerana menandakan murid datang bukan dengan tangan kosong dan penuh adab

Di Nusantara (even Philippines), mahar ilmu adalah sebuah bentuk penghargaan, syarat, atau persembahan yang diberikan oleh murid kepada guru sebagai pengganti atau pelengkap dalam proses pewarisan ilmu.

On a personal sidenote, di konteks moderen sebagai doctor, hal ini didapati juga didalam beberapa segmen masyarakat Indonesia di Singapura tak kira PR, Work Permit, EPass.. “yang penting ada buah tangan sebelum Perawatan” (kalau after tu ‘Reward’ la kan..) kerana menganggap “Dokter sebagai wasilah” lucunya, Kadang bukan saja duit tapi bentuk Rendang dan buah buahan . Bahkan Chindo-Sing (Cina Indonesia-Singaporean) pun masih ada yang percaya konsep semacam ini, memegang kepada : "Adat menghormati" sosok Guru, Ustaz, Guru Silat dan Doctor ..Maka dapat disimpulkan, dalam tradisi keilmuan silat dan waemah kebatinan dan perobatan pun, Mahar menjadi medium simbolik yang menguatkan penerimaan ilmu.

Catatan Pereng Sabreng

Thursday, October 23, 2025

Tari Gambu - Tarian Perajurit

Ketika orang berbicara tentang Majapahit, sering yang disebut adalah Raden Wijaya, Gajah Mada, atau Hayam Wuruk. Namun di balik berdirinya kerajaan besar itu, ada sosok dari tanah Madura yang perannya sangat menentukan: Arya Wiraraja. Namanya mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh Majapahit lainnya, tetapi jejaknya begitu penting sehingga tanpa dia, Majapahit mungkin tidak pernah lahir.

Asal-Usul dan Kiprah di Singhasari

Arya Wiraraja berasal dari Sumenep, Madura Timur. Sejak muda ia dikenal sebagai bangsawan yang cerdas, berwibawa, dan memiliki jaringan luas dengan pelaut serta pedagang. Kemampuannya membuat Raja Kertanegara dari Singhasari mengangkatnya sebagai Patih di Sumenep. Dari Madura, ia tidak hanya menjaga wilayah, tetapi juga mengembangkan perdagangan dan hubungan diplomatik dengan daerah lain.

Penolong Raden Wijaya

Tahun 1292 menjadi titik balik. Singhasari digulingkan oleh Jayakatwang dari Kediri. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Dalam pelariannya, ia menuju Madura dan bertemu Arya Wiraraja. Di sinilah kebesaran hati dan kecerdikan seorang Madura terlihat: Arya Wiraraja memberi perlindungan, pasukan, dan strategi kepada Wijaya. Ia tidak hanya sekadar menolong, tetapi juga merancang jalan agar Wijaya bisa bangkit kembali.

Strategi yang Melahirkan Majapahit

Dengan dukungan Arya Wiraraja, Raden Wijaya membuka hutan Tarik yang kemudian menjadi cikal bakal Majapahit. Saat pasukan Mongol tiba untuk menghukum Jawa, Wijaya dan Wiraraja dengan cerdik memanfaatkan mereka untuk menjatuhkan Jayakatwang. Setelah Kediri runtuh, pasukan Mongol pun diusir keluar dari Jawa. Dari kemenangan inilah, Majapahit berdiri pada tahun 1293. Dalam naskah Pararaton, Arya Wiraraja disebut sebagai “Patih Besar Madura” yang perannya tak terbantahkan.

Warisan Seorang Visioner

Sebagai imbalan, Arya Wiraraja diberi wilayah luas di Jawa Timur dan tetap memimpin Madura. Lebih dari sekadar pejabat, ia adalah arsitek politik yang menjembatani runtuhnya Singhasari dengan lahirnya Majapahit. Bagi masyarakat Madura, ia adalah simbol kebanggaan: bukti bahwa orang Madura bukan hanya keras di medan perang, tetapi juga cerdas dalam diplomasi dan berperan dalam sejarah besar Nusantara.

Madura dalam Cermin Majapahit

Kisah Arya Wiraraja adalah cermin watak Madura: berani, setia, dan visioner. Ia menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya pada pedang, tetapi juga pada kecerdikan strategi. Dari kampung pesisir di Sumenep, namanya kini terpatri dalam sejarah Nusantara sebagai tokoh kunci yang melahirkan salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Ia menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya pada pedang, tetapi juga pada kecerdikan strategi. Dari kampung pesisir di Sumenep, namanya kini terpatri dalam sejarah Nusantara sebagai tokoh kunci yang melahirkan salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Bagi orang Madura, ia bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan teladan bahwa harga diri dan kejayaan bisa diraih lewat keberanian mengambil sikap dan kebijaksanaan membaca zaman.

Sebagaimana pepatah Madura mengatakan:
“Mèngko’ bisa ta’ bisa, sèngko’ è Madura.”
(Apalagi bisa atau tidak bisa, aku tetap orang Madura.)

Pepatah ini menggambarkan jiwa pantang menyerah, berpegang pada kehormatan, dan setia pada asal-usul. Nilai itulah yang hidup dalam diri Arya Wiraraja, dan tetap mengalir dalam darah orang Madura hingga hari ini.

 

Monday, October 13, 2025

Perbedaan

Pernah tak terlintas di fikiran, mengapa setiap perguruan mempunyai cara tersendiri dalam mengajarkan Silat? Sebenarnya, hal ini berpunca daripada tumpuan dan falsafah guru utama serta pengasas sistem itu sendiri. Setiap perguruan lahir daripada konteksnya yaitu zaman, masyarakat, dan keperluan yang melahirkan ilmunya.

Pertama, ia bergantung kepada kebolehan murid. Seorang guru yang bijaksana akan menilai tahap fizikal, mental, dan spiritual anak muridnya sebelum menentukan bentuk pengajaran. Ada murid yang cepat menangkap gerak, tetapi lambat memahami makna. Ada pula yang kelihatan lembab di gelanggang, tetapi tajam hatinya. Maka guru akan sesuaikan pendekatannya agar setiap murid berkembang mengikut fitrahnya.

Kedua, strategi mengajar memainkan peranan besar. Ada perguruan yang menekankan disiplin keras dan latihan berulang untuk membentuk daya tahan serta jiwa juang. Ada pula yang menggunakan pendekatan lembut dan falsafah, menanam kefahaman dahulu sebelum gerak. Cara ini bukan sekadar soal teknik, tetapi cara menyampaikan warisan  supaya bukan hanya tangan yang bergerak, tetapi hati juga hidup bersama ilmu itu.

Ketiga, keperluan strategis pada waktu itu turut menentukan bentuk sistem. Pada zaman kuno dan juga zaman penjajahan, misalnya, banyak perguruan membentuk sistem yang ringkas tetapi berkesan untuk mempertahankan diri dalam keadaan genting. Pada zaman moden, ada perguruan yang menyesuaikan diri dengan cabaran baru  dari pengiktirafan seni warisan, ke pengajian akademik dan terapi tubuh. Maka setiap perubahan zaman menuntut strategi baru tanpa mengorbankan akar tradisi.

Kerana itu, setiap perguruan membawa roh tersendiri. Ia bukan semata-mata soal gerak atau jurus, tetapi bagaimana satu ilmu diturunkan kepada jiwa yang lain.

Setiap perguruan lahir dari tanahnya sendiri, dari pengalaman hidup dan cabaran zamannya. Justeru, cara yang berbeza bukan bererti salah, tetapi menunjukkan jalan-jalan yang beragam menuju tujuan yang sama: pembentukan insan yang seimbang lahir dan batin.

Apabila kita belajar menghormati perbezaan, kita sebenarnya sedang memperluas pandangan. Seorang pendekar sejati tidak akan cepat menilai cara orang lain, kerana dia tahu setiap langkah ada sejarahnya, setiap gerak ada sebabnya. Dalam perbezaan itulah kita dapat saling belajar sambil mencari makna yang lebih dalam daripada sekadar bentuk luaran.

Silat bukan hanya tentang siapa paling kuat atau paling pantas, tetapi siapa yang paling mampu memahami diri dan alam. Maka, apabila kita meraikan perbezaan, kita sedang menjaga roh silaturahim antara perguruan, antara guru, antara murid. Itulah semangat sebenar warisan  bukan untuk bersaing, tetapi untuk menyempurnakan satu sama lain.

 

Monday, October 6, 2025

Amalan secara umumnya di dunia silat

Kalau kita renungkan, orang-orang terdahulu  terutama para ulama, wali, dan leluhur Nusantara mereka tidak pernah berniat menambahkan sesuatu yang asing ke dalam agama. Mereka justru berusaha menghadirkan agama dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari, sehingga ajaran ilahi menjadi bagian dari perilaku, kebiasaan, dan kebudayaan.

Misalnya, cara mereka bertani, berdagang, berperang, atau bahkan seni dan silat, semuanya dijalankan dengan kesadaran bahwa ada aturan Tuhan yang harus dijaga dan memahami di atas langit masih ada langit. Tidak ada yang sekadar ritual formal di masjid atau musholla, tetapi agama hadir dalam cara mereka berbicara, bersikap, dan menghormati sesama.

Itulah sebabnya banyak tradisi lokal Nusantara kalau kita lihat, dari wirid, doa, mantera, hingga seni bela diri  sangat  terlihat menyatu dengan budaya. Bukan karena menambah agama, tapi karena agama dijadikan pedoman hidup dalam setiap gerak dan napas. Dengan cara ini, agama bukan hanya teori atau kata-kata di kitab, tapi menjadi nyata dalam keseharian masyarakat. Amalan ini di rungkai dan di persiapkan utuk pesilat sebagai disiplin diri (mengingatkan kebanyakan ilmu silat pada zaman dulu adalah lebih kepada ilmu keperajuritan untuk menjaga keamanan).  

1  Doa adalah permohonan seorang hamba kepada Tuhan. Melalui doa, seseorang menyampaikan isi hati, meminta pertolongan, keselamatan, rezeki, atau pengampunan. Doa bisa dibaca kapan saja dan dalam bahasa apa saja, baik Arab, Melayu, Jawa, Sunda, maupun bahasa sehari-hari. Contohnya termasuk doa sebelum tidur, doa syukur, atau apapun. Doa boleh khusus dan boleh juga umum. Doa juga sering dijadikan kebiasaan membuka gelangang dan penutup gelangang.

2     Wirid adalah bacaan dzikir atau doa yang diulang secara rutin. Fungsinya untuk menjaga hati tetap dekat dengan Tuhan sekaligus melatih ketekunan dan fokus. Wirid bisa berupa ayat Al-Qur’an, istighfar, shalawat, atau doa pendek, dan biasanya dibaca berulang-ulang, misalnya wirid istighfar 100 kali atau wirid ayat kursi setiap selesai sholat. Guru-guru juga kadang memberikan amalan wirid yang diperkirakan sesuai untuk murid. Misalan untuk mendawamkan murid yang perwatakan kerasa maka diberikan “Yaa Latif” (Wahai yang maha lembut) sebagai pengamalan seharian.

3    Awrad/Awrod merupakan jamak dari wird, yaitu kumpulan wirid atau bacaan doa yang dibaca secara rutin dan biasanya diwariskan oleh guru tarekat. Awrad membantu murid melatih disiplin rohani dan menjaga hati tetap terhubung dengan Tuhan. Bacaan awrād terikat dengan aturan tertentu, seperti jumlah pengulangan, waktu, dan cara membaca, sesuai petunjuk guru. Contohnya termasuk awrad tarekat Syadziliyah, Qadiriyah, atau Awrad Imam Nawawi. Ada beberapa jenis silat yang bersangkutan dengan Tarikat namun tidak kita diskusikan di penulisan blog yang terbatas ini.

4   Hizib dan Ratib adalah susunan doa, ayat Al-Qur’an, atau dzikir tertentu yang dikumpulkan oleh ulama yang selalunya bertarikat. Hizib biasanya dipakai untuk perlindungan, keberanian, keselamatan, atau untuk memenuhi hajat besar. Bacaan hizib lebih “berat” dibanding wirid biasa, dan sering kali memerlukan bimbingan atau ijazah dari guru. Contohnya antara lain Hizib Nashr untuk kemenangan, Hizib Bahr untuk keselamatan di laut, dan Hizib Maghribi untuk perlindungan dari gangguan gaib. Tidak mustahil para para guru mebuat hizib mereka sendiri hasil dari tafakur di atas maslahat ummat (perobatan, hindari dari musuh yang sangat berbahaya). Ratib dan Hizib tidak banyak perbedaan. Walaupun itu, Hizib terkenal Keras sementara Ratib terkenal sebagai jalan penyucian (amaliyah yang di sertakan dengan tazkiyatun Nafs).

5    Mantera atau mantra adalah ucapan yang dianggap sacral (sacred) yang diyakini memiliki kekuatan tertentu atau spiritual. Mantera berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “getaran pikiran” atau “ucapan suci”. Kebiasaan ini sudah ada sejak sebelum masuknya Islam di nusantara. Fungsi mantera ada bermacam-macam, seperti untuk pengobatan, perlindungan, penundukan, atau mempengaruhi keadaan. Bahasa yang digunakan biasanya Kawi, Jawa, Sunda, atau campuran lokal, dan tidak selalu bersifat islami. Contohnya adalah mantera tolak bala, mantera pengobatan, dan mantera pasugihan. Di zaman ini, terdapat beberapa kajian yang membahas sebenarnya mantra ciptaan karya dari guru guru di pakai untuk “menaik kan semangat” dan tidak semestinya ada dampingan atau menyeru khodam Jin. Mantra menurut mereka bermaksud Affirmasi yakni sesuatu yang di ulang ulang akan menjadi kepercayaan dan tindakan yang pada akhirnya, kemudian memanifestasi ke atas kehidupan kita. Namun begitu, saya sebagai penulis artikel ini ingin juga mengingatkan untuk anda menyaring apa pun mantra yang anda dapat untuk berhati hati.

Ada catatan bahwa Rasulullah saws tidak menolak penggunaan mantra atau ucapan tertentu selama mengandung pujian kepada Allah dan tidak bertentangan dengan tauhid. Sebagai contoh, seorang sahabat yang sebelumnya bekerja sebagai peruqyah atau ahli penyembuhan dengan mantra-mantra tertentu, ketika menerima Islam, beliau tetap bisa menggunakan bacaan atau ucapan yang mengandung kebaikan dan pujian kepada Tuhan sebagai bagian dari praktiknya, selama niatnya sesuai dengan syariat.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam fleksibel dalam menerima tradisi lokal, selama tradisi itu diarahkan kepada Allah, mengandung kebaikan, dan tidak menyekutukan-Nya. Rasulullah saws lebih menekankan niat dan tujuan di balik amalan, bukan sekadar bentuk lahiriah bacaan. Dengan kata lain, mantra yang digunakan untuk kebaikan, penyembuhan, atau pujian Allah tetap diperbolehkan, dan bahkan bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
     
6    Asma' secara am adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “nama-nama” bentuk jamak dari ismu, yang berarti “nama.”Dalam konteks spiritual atau keagamaan, kata ini sering muncul dalam istilah seperti “Asma’ul Husna”, yang berarti “Nama-nama yang indah (milik Allah)”.Masing-masing nama mencerminkan sifat-sifat ilahi seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih), Al-Hakim (Maha Bijaksana), dan seterusnya.Namun, di luar konteks keagamaan apalagi di Indonesia, “Asma’”  juga berarti identitas, esensi, atau vibrasi dari suatu nama. Dalam tradisi mistik, termasuk dalam sufisme atau ilmu hikmah, setiap asma’ diyakini memiliki energi dan frekuensi tertentu yang bisa mempengaruhi kesadaran, jiwa, dan bahkan realitas di sekitarnya bila dilafalkan dengan niat dan adab yang benar. Contoh populer adalah Asma Sunge Rajeh dan Asma Suryani di dunia keilmuan

Akhir kata

Intinya, semua amalan seperti doa, wirid, hizib, awrad, asma' dan mantera bukan sekadar ritual atau bacaan kosong, tetapi dijadikan latihan batin untuk membentuk kebiasaan spiritual yang konsisten. Melalui latihan ini, hati dan pikiran dilatih agar selalu terhubung dengan Tuhan, kesabaran dan disiplin dibangun, serta kekuatan batin perlahan tumbuh. Sama seperti latihan jasmani yang memperkuat tubuh, latihan batin memperkuat jiwa dan energi spiritual. Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan baik ini akan menjadi bagian alami dari diri seseorang, sehingga setiap tindakan sehari-hari dari berbicara hingga bergerak dilakukan dengan kesadaran dan keselarasan spiritual.

Fadhilat amalan-amalan tersebut bukan tujuan akhir, melainkan jalan untuk membentuk karakter, ketenangan, dan keteguhan hati. Ramai pesilat pada awalnya belajar silat karena ingin terlihat hebat, kuat, atau mampu mengalahkan lawan. Namun sebenarnya, latihan silat bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga membentuk disiplin dan karakter. Tubuh dilatih mengikuti gerakan, hati dilatih bersabar, pikiran dilatih fokus, dan jiwa dilatih bijaksana.

Kekuatan fisik hanyalah hasil sampingan. Tujuan utama adalah latihan batin dan membangun disiplin dalam hidup. Amalan doa, wirid, awrad, bahkan mantera yang menyertai latihan menjadi sarana untuk menanam kebiasaan baik, melatih kendali diri, dan menyadarkan bahwa setiap gerakan memiliki makna. Seiring waktu, pesilat yang awalnya hanya mengejar kekuatan akan belajar menghargai kesabaran, konsistensi, dan keharmonisan batin, yang jauh lebih penting daripada fisik yang tangguh. 

ref :
1.5 Nilai-Nilai Islam dalam Kearifan Lokal dari Berbagai Suku di Indonesia
2. Al-Fasi, Syarhu Hizbil Barr, halaman 63
3. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab "Majmu’atul Fatawa"

*Disclaimer : pendapat yang tertulis di atas adalah hanya dari pengetahuan dan pengalaman pribadi sahaja yang menurut saya harus di jabarkan "as it is" dan dalam rangka "for knowledge only" kepada peminat silat tradisi.  Benar dan salah, saya kembalikan kepada Allah swt. Tapi Insyallah apa yang saya tuliskan dan sampaikan adalah pecobaan saya untuk menulis hal benar seingat apa yang disampaikan ke saya oleh para guru. Segala opini dilandaskan sebagai Guru silat yang telah melibatkan diri dengan perobatan Islam dan Perobatan Tradisional Melayu. Harus ditegaskan lagi, sesungguhnya anda sebagai pembaca harus mencerna informasi seputar keilmuan-keilmuan klasik dengan penuh hati-hati dan dibawah bimbingan orang yang sesuai bidang pengetahuannya. 

 


Sunday, October 5, 2025

Pisau dapur cap garfu - Icon pisau di silat Jawatimuran dan Madura.

Pisau Dapur Cap Garfu adalah sebilah pisau sederhana namun ikonik dari Jawa Timur, dikenal di kalangan rakyat kerana ketajaman dan ketahanannya. Terbuat dari baja biasa dengan cap bergambar garpu pada bilahnya, pisau ini mula-mula digunakan sebagai alat dapur namun kerap pula berperan ganda dalam kehidupan sehari-hari, dari mengolah hasil ladang hingga menjadi senjata darurat di masa genting. Dalam dunia silat, pisau ini melambangkan falsafah bahawa apa saja yang ada di tangan boleh menjadi alat bela diri bila digerakkan dengan ilmu dan kesedaran. Kehadirannya mengingatkan kita bahawa silat tidak terikat pada senjata mewah tetapi berakar pada kehidupan rakyat, di mana ketahanan, kecerdikan, dan kesiapsiagaan adalah mata pisau sejati seorang pendekar. Ia mengajarkan pesilat tentang ketelitian dan rasa hormat terhadap alat. Meskipun sederhana, setiap bilah harus diasah dan dijaga agar tetap tajam, sama seperti tubuh dan jiwa seorang murid silat yang harus dilatih setiap hari. Dalam latihan, pisau ini menjadi simbol bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemewahan senjata (look beyond forms), tetapi dari kemampuan menguasai diri, memahami lingkungan, dan menggunakan apa yang tersedia dengan bijak. Maka dari itu, seorang pesilat yang bijak tidak memandang rendah alat sederhana, karena dalam kehidupan sehari-hari, alat itu bisa menjadi perpanjangan dari tangan, mata, dan hati yang terlatih.

Oh ya..  Orang tua-tua Jawa Timur ada yang menyebut: “Senjata sejati adalah yang dekat dengan tangan dan terbiasa dengan keseharianmu.” Dalam arti, pisau dapur cap garfu menjadi contoh nyata: benda biasa, tapi sarat makna bila dipahami dan digunakan dengan kesadaran.



Friday, September 26, 2025

Silat and FMA

Filipino Martial Arts (FMA) and Silat both come from the maritime world of the Malay Archipelago and can be seen as related traditions. Some even describe them as sister arts. Influenced by trade, migration, and warfare, these martial arts developed in ways that are different but complementary. FMA focuses on smooth weapon movements, tactical flow, and precise blade control. Silat, on the other hand, emphasizes grounded body movement, deceptive footwork, and cultural philosophy. When studied together, they strengthen each other, helping practitioners improve their skills and gain a deeper understanding of Southeast Asia’s shared martial heritage.

Both Silat and FMA share roots in the culture of the Austronesian seafaring peoples. Long before modern nations existed, the ancestors of the Malay Archipelago carried blades, boats, and belief systems across islands and coasts. Their martial arts developed through this shared experience. Silat grew with ritualized movements, grounded stances, and clever entries, while FMA focused on weapon flow, angle awareness, and tactical techniques. These arts are not separate inventions but different expressions of the same ancient maritime warrior tradition.

At their core, Silat and FMA are both weapon-based systems. They were created from the use of knives, sticks, and swords. Empty-hand techniques are built on the principles of weapon movement, not the other way around. This makes the connection between Silat and FMA undeniable, and it shows why understanding weapons is essential to fully grasping either art.

The Srivijaya Empire, which flourished from the 7th to 13th centuries, was an important center of trade and culture in Southeast Asia. Evidence shows that Silat was practiced during this time, particularly in the Srivijaya kingdom in Sumatra and the Malay Peninsula. This early form of Silat laid the foundation for martial traditions that would develop later.

After the decline of Srivijaya, the Majapahit Empire rose in the 13th century, bringing much of the Indonesian archipelago under its rule. Silat reached its peak during this period. It was used not only for fighting but also to teach loyalty, discipline, and spiritual strength. Silat was part of military strategy and governance, showing its importance in shaping Southeast Asia’s culture and martial arts.

At the same time, the Philippine islands, connected through these same maritime networks, developed their own martial traditions that evolved into FMA. The movement of people and ideas across the seas allowed martial knowledge to spread, creating arts that, while different, share common principles rooted in the region’s maritime culture.

Silat and FMA are not separate traditions. They are deeply connected and reflect the shared heritage of Southeast Asia. Their common roots allow practitioners to improve their skills and understanding, linking culture, history, and martial arts in a meaningful way.

As for the question whether at that point of time their (the Filipinos) fighting art is already called silat or they go by another name?

My answer is that from what I’ve seen and know, the southern Philippines especially Mindanao silat exponent and masters (excluding eskrimadors), still use the term silat. They’re really part of the same cultural family as us if you look at the artifacts, history, and movement styles. In the northern and central Philippines, they use terms like kali, eskrima, and arnis for similar arts, likely because of Spanish influence and the knowledge that came with it. The Spanish added fencing elements to their weapons training, and later the Americans added boxing into the empty-hand techniques, which developed into panantukan basically boxing, kuntau, and silat without the flowery parts. 

In mainstream eskrima circles, silat is officially not seen as part of FMA (Filipino Martial Arts). This is clear in the views of many pro-colonial historians and practitioners. However, some Muslim practitioners in Mindanao were aware of this exclusion but still remained loyal to the Philippines, creating their own systems that combined FMA, kuntau, and silat.

Still, you can’t deny what Guro Dan Inosanto said: “We are all the same people; it’s just tribal ego that keeps us divided.” Senior silat practitioners who disagree with this can argue about it endlessly, but maybe they just haven’t seen the evidence yet.

Personally, I lean toward a unified Nusantara narrative and as a pesilat. (answers have been streamlined to observe grammar - slightly different from what I had typed in forum posting ) 
 

Nuances to consider:
  Silat as practiced in Mindanao is part of the “Malay world” martial system, sharing DNA with Malaysian Silat and Indonesian Pencak Silat, while adapting to local context.
  FMA’s claim of “ancient warrior arts” often does not acknowledge pre-colonial or Islamic influences in detail, partly due to nationalism and colonial narrative simplification.
 
In practice, FMA and Silat overlap significantly:
Stances, footwork (triangular), and weapon angles often align.
Kuntaw itself is a bridge art (Chinese Kuntao + Silat) that predates some organized FMA systems.
Personally in practice, It is not wise to say you can't put it together.    As long as its not a baseless knowledge.

Tuesday, June 16, 2015

Are’ Seka’

Are’ Seka’ tercipta pada masa peristiwa bentrokan berdarah Bere’ Temor , yakni antara Madura barat yang diwakili Bangkalan dan Madura timur yang diwakili Sampang. Peristiwa berdarah yang membuat masyarakat kedua kubu tersebut untuk selalu waspada dan berjaga-jaga. Saat itulah Clurit dan pisau cap Garpu sangat popular digunakan kalangan Blateran kedua belah pihak juga masyarakat umum yang merasa was-was dengan kondisi tersebut.

Peristiwa tersebut membuat seorang mantan perwira AD masa Bung Karno, Tekenek Marsidi Djoyotruno yang tinggal di Volker-Tanjung Priok terpaksa kembali pulang menjenguk keluarganya di kampong Bijjanan-Bangkalan. Disitulah ke 3 kakak beradik dan seorang sepupunya berkumpul dan membahas soal perkembangan terkini peristiwa berdarah yang banyak menelan korban jiwa dikedua belah pihak serta memakan waktu yang cukup lama. Berempat mereka membahas tentang berbagai kemungkinan dan senjata clurit yang saat itu semakin popular dari bentuk dan modivikasinya. Tahun 70-an mereka berempat yakni Marsidi, Marsilan dan Din Ajoeh Marsilem (ketiganya adalah putra-putri dari Bindereh Tekene’ Marsuden keturunan trah Ario Ahmad Bijjanan) dan M. Ali Kopok mulai melakukan serenteten penelitian dan modivikasi jurus clurit. Jurus ini tercipta dari bentuk kombinasi beberapa aliran seperti Pukulan Setekel, Akeket Macanan, Todik Bijjanan, Shantung Kuntaw dan jurus Podey Perkembangan selanjutnya, usai peristiwa berdarah tersebut, jurus ini mengalami perubahan dan penambahan khazanah tehnik baru yang di dapat dari permainan Anggar Madura (sejenis ilmu pedang) Permainan ini merupakan sumbangsih dari Mbah Sarip, seorang pendekar sahabat dari Marsidi. Jurus yang terdiri dari 10 bentuk permainan ini memiliki ciri yang sangat khas. Singkat dan praktis dengan sebuah sistim pertahanan yang rapat dan menjauh dengan bentuk serangan mematuk mirip patukan paruh burung Rajawali yang jika diartikan dalam bahasa Madura adalah Mano’ Seka’. Sejak itulah jurus ini lebih dikenal dengan sebutan Are’ Seka’ atau clurit Rajawali.

Pada masa keganasan Gank Air Laut, beberapa kali jurus ini dipakai untuk menyelamatkan dari tindak pemerasan hingga tindak penganiayaan dari mafia yang terbentuk dari orang-orang Madura tersebut. Beberapa kali bentrokan berdarah antara Marsidi dengan beberapa jawara disekitar kampung Ampel, sebuah kampung yang memiliki legenda sebagai kampung Macan juga mewarnai terbentuknya legenda sang pendekar Clurit tersebut. Demikian pula bentrokan yang menewaskan 10 nyawa yang dilakukan oleh M.Ali di sekitar RPH Pegirian, serta bentrokan berdarah yang dilakukan oleh Din Ajoen Marsilem, satu-satunya wanita dalam keluarga tersebut juga merupakan hasil manis dari kerja Are’ Seka’. Perkembangan selanjutnya jurus ini semakin tertutup, sejak munculnya Petrus yang banyak menelan korban mafia dan preman di sekitar surabaya utara, membuat kawasan tersebut aman dan jurus ini kemudian diberikan kepada dua orang penerus mereka., yakni Mas Mochamad Amien Putra tunggal Marsidi dan sepupu dari M.Ali yang bernama Mursyid.

Dari kedua penerus tersebut, hanya Mas Mochamad Amien lah yang meneruskan jejak pendekar-pendekar tersebut. Dan atas saran bibinya Din Ajoeh Marsilem serta kakak sepupunya Mursyid, jurus ini kemudian diperhalus oleh Mas Mochamad Amien dan juga disimpan dan hanya dikeluarkan beberapa bagian saja. Pada tahun 1998 silat ini diperkenalkan pertama kali kepada murid-murid Mas Mochamad Amien dalam bentuk setelen. Tahun 2001 saat lawatannya ke Toronto jurus ini diperkenalkan kepada seorang sahabat wartawannya disana. Tahun 2009 mulai diseminarkan di Surabaya dan Malang lalu pada pertengahan tahun itu, mulai merambah Jakarta

Friday, July 4, 2014