Showing posts with label filosofi. Show all posts
Showing posts with label filosofi. Show all posts

Wednesday, December 31, 2025

Pre-emptive self-defence

In traditional silat thinking, pre-emptive self-defence does not mean attacking first out of anger or ego. It means acting early to prevent harm when danger is already forming and avoidance is no longer possible. The old teachers understood something modern law also recognises: waiting too long can be more dangerous than acting decisively. But action must be rooted in necessity, proportionality, and awareness, not impulse.

Pre-emptive self-defence begins long before physical contact. It starts with reading intent from posture, distance, breath, tone of voice, and positioning. Silat trains the eyes and body to notice when space is being closed, exits are blocked, or aggression is escalating. A timely step offline, a firm verbal boundary, or repositioning to safety is already pre-emptive action. When I studied Kali and Kuntau - the cousins of silat -, I realised these two arts sharpen this pre-emptive mindset further (I already had this in Silat) when at close range, where tactile awareness and structure allow one to neutralise danger the moment intent becomes unavoidable.

When physical action is required, traditional silat teaches interruption, not punishment. The goal is to break balance, disrupt coordination, and create a window to disengage and leave. This is why older systems favour angles, off-timing, and simple mechanics over prolonged exchanges. The emphasis is not on “winning,” but on ending the threat quickly with the least force necessary. This aligns closely with modern legal expectations of self-defence.

For today’s practitioner, the application of pre-emptive concept in self-defence must be coupled with maturity. It requires understanding local laws, emotional control, and ethical restraint. Silat and kuntau, when taught properly, develop this judgment alongside physical skill. The old saying applies: cepat bertindak bukan berarti harus kasar ... True pre-emptive defence is calm, measured, and grounded in responsibility.

Ibarat musuh baru masuk, kita sudah serang... Ibarat baru Musuh datang, kita sudah selesai.. 

Monday, November 3, 2025

Keseimbangan sikap

Jadilah kuat tapi tidak kasar, bersikap baik tapi tidak lemah, berani tapi tidak menggeretak, bersikap rendah hati tapi tidak malu-malu, percaya diri tapi tidak sombong.

Kalimat ini bukan sekadar nasihat; ini adalah jalan tengah yang sulit dijalani oleh kebanyakan manusia. Di dunia yang penuh dengan kebisingan ego dan kepalsuan citra, menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan hati adalah ujian sejati. Banyak orang ingin terlihat tangguh, tapi dalam proses itu mereka kehilangan rasa. Ada pula yang ingin menjadi baik, namun akhirnya menjadi lemah karena takut disalahpahami. Maka, keseimbangan adalah kuncinya dan keseimbangan itu hanya lahir dari kesadaran diri. Almarhum guru selalu mengingatkan saya soal "jalan tengah" yang maknanya serupa seperti di atas (yang saya petik ini adalah kata kata umum aka pepatah yang sering muncul di socmed user Indonesia).

Kalau di fikir-fikirkan, kita sering menghubungkaitkan persilatan dan beladiri dengan hal hal beratribut keras, kasar dalam rangka ketanguhan tapi lupa pada sisi lain, dalam setiap perjalanan hidup seorang pesilat, ada dua arus yang saling bertemu kekuatan dan kelembutan, keberanian dan kebijaksanaan. Keduanya bukan musuh, melainkan saudara kembar yang harus berdamai di dalam diri. Terlalu condong ke satu sisi, maka hilanglah harmoni. Di sinilah letak ujian sejati: bagaimana menyeimbangkan tenaga kasar dan tenaga halus, agar langkah kita tidak hanya meninggalkan jejak di tanah, tapi juga gema di dalam jiwa.

Kita tidak sedang berlomba menjadi yang paling gagah, atau yang paling suci. Yang kita cari sebenarnya adalah ketenangan di tengah badai, kemampuan untuk tetap berdiri tanpa harus menjatuhkan siapa pun. Silat mengajarkan hal ini dengan sangat halus yakni tangan bisa menangkis, tapi hati harus tetap jernih. Ilmu bela diri sejati bukan soal memukul, tapi mengenal diri sendiri: kapan harus maju, kapan harus diam, kapan harus melepaskan.

Di dalam diam yang penuh kendali (control), di dalam keputusan yang tidak impulsif, di sanalah seseorang menemukan kekuatan sejati bukan untuk menguasai orang lain, tapi untuk menaklukkan dirinya sendiri.

Setiap gerak, setiap kata, setiap napas yang kita ambil adalah cermin dari keadaan batin kita. Jika engkau ingin menjadi pesilat sejati, yang mumpuni bukan saja di gelanggang, tapi dalam kehidupan maka belajarilah seni menjadi kuat tanpa kehilangan kasih, dan menjadi lembut tanpa kehilangan keberanian. 

Sedulur Papat Lima Pancer dalam Silat: Filosofi dan Praktiknya

Dalam tradisi Jawa, manusia selalu ditemani oleh empat saudara gaib yang disebut sedulur papat: Kakang Kawah (air ketuban), Adi Ari-ari (plasenta), Getih (darah), dan Puser (tali pusar). Keempatnya selalu menyertai manusia sepanjang hidup, mengelilingi Pancer, yaitu inti jiwa atau pusat kesadaran diri. Konsep ini memiliki makna yang sangat dalam dalam silat, bukan hanya sebagai seni bertarung, tetapi juga sebagai jalan pembentukan manusia seutuhnya.

Pertama, filosofi sedulur papat menekankan kesadaran tubuh. Tubuh bukan hanya wadah untuk berkelahi, tetapi rumah bagi keempat sedulur. Ketika tubuh dirawat dan dijaga, keseimbangan keempat unsur ini tetap harmonis, sehingga tenaga menjadi kuat dan gerakan pesilat lebih sinkron. Kedua, kesadaran rasa sangat penting. Keempat sedulur mewakili empat arah emosi manusia: senang, sedih, takut, dan marah. Seorang pesilat belajar mengenali, menerima, dan mengendalikan emosi tersebut. Jika emosi tertentu menguasai Pancer, gerakan silat bisa menjadi tidak terkendali.

Selain itu, kesadaran alam juga diajarkan. Silat menempatkan manusia sebagai bagian dari semesta, dan sedulur papat mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sendirian. Unsur bumi, air, api, dan angin hadir sebagai penjaga yang ikut memengaruhi gerakan. Gerakan silat pun mencerminkan harmoni keempat unsur ini. Terakhir, kesadaran ruhani menjadi inti dari latihan silat. Pancer, pusat kesadaran, menentukan bagaimana pesilat bertindak dalam menghadapi situasi. Bila sedulur papat selaras dengan Pancer, pesilat memiliki insting tajam, pikiran jernih, dan gerakan yang menyatu dengan keadaan.

Dalam menyerang, setiap unsur sedulur papat memiliki karakteristik sendiri. 

  • Kakang Kawah (Air) melambangkan serangan yang lentur dan mengalir – konsep ‘flowing’-, mengikuti celah lawan tanpa terlihat kaku. 
  • Adi Ari-ari (Bumi) melambangkan serangan yang mantap dan berakar, memberi bobot penuh pada tendangan atau bantingan – konsep ‘groundedness’. 
  • Getih (Api) melambangkan serangan cepat dan penuh semangat, memberi nyawa pada gerakan, tetapi harus dikendalikan agar tidak merugikan diri sendiri – konsep ‘energy’. 
  • Puser (Angin) melambangkan serangan halus dan cepat yang mengguncang keseimbangan lawan – konsep - leverage. 

Semua serangan diarahkan ke Pancer, pusat kesadaran, sehingga gerakan menjadi hidup, selaras, dan efektif.

Dalam pertahanan pula, filosofi sedulur papat juga diterapkan. 

  • Kakang Kawah menjadi benteng yang lentur dan adaptif, mengalirkan tenaga lawan sambil menjaga jarak. 
  • Adi Ari-ari menjadi benteng stabil, menahan serangan dengan tubuh yang kokoh dan berakar. 
  • Getih menghadirkan benteng cepat, langsung membalas lawan untuk mematahkan niat serangan mereka. 
  • Puser hadir dalam pertahanan yang halus dan cepat, menghindari garis serang lawan dan mengganggu keseimbangan mereka. 
Semua pertahanan ini harus bermuara pada Pancer, sehingga setiap tindakan bukan sekadar reaksi mekanis, tetapi keputusan bijak yang menghemat tenaga dan memaksimalkan hasil.

Dengan demikian, sedulur papat lima pancer bukan sekadar mitologi atau cerita kuno, tetapi panduan hidup dan silat. Tubuh dijaga, emosi dikendalikan, alam dihargai, dan jiwa disadari. Serangan dan pertahanan yang selaras dengan Pancer membuat pesilat bukan hanya kuat dan lincah, tetapi juga bijak dan harmonis. Silat, melalui filosofi ini, menjadi jalan pembentukan manusia paripurna, bukan sekadar seni bela diri.

As Above, So Below: Keselarasan Alam dan Manusia

Frasa “As above, so below” mengajarkan bahwa apa yang terjadi di alam semesta atau dunia yang lebih tinggi tercermin di dunia manusia dan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pola, hukum, dan keseimbangan yang berlaku di tingkat besar juga muncul di tingkat kecil.

Contohnya, tubuh manusia adalah cermin dari alam semesta. Organ dan sistem tubuh bekerja selaras seperti alam yang luas. Pikiran dan kesadaran batin juga tercermin dalam perilaku nyata kita. Dalam filosofi silat atau sedulur papat, keseimbangan internal Pancer memengaruhi gerakan, pertahanan, dan serangan. Jika Pancer selaras, tubuh dan jiwa bergerak harmonis. Jika tidak, tindakan menjadi kacau dan tidak efektif.

Makna inti dari “As above, so below” adalah pentingnya keselarasan antara dunia batin dan dunia nyata, antara prinsip besar dan praktik sehari-hari. Dengan memahami hal ini, manusia belajar menyeimbangkan diri, menjaga keharmonisan, dan bertindak bijak dalam setiap langkah hidupnya.

Bagi pesilat, memahami filosofi bukan sekadar membaca teori atau modal bahan termenung, melainkan menyelaraskan tubuh, pikiran, dan jiwa agar gerakan menjadi efektif dan bijak. Filosofi mengajarkan  menyerang, menahan, dan bagaimana memanfaatkan tenaga lawan dengan tepat dimana hal tersebut yang tidak bisa dipelajari hanya dari latihan fisik. Dengan kata lain, berfilosofi membuat pesilat tidak sekadar “bergaduh”, tetapi bertindak dengan kesadaran, efisiensi, dan kendali penuh, sehingga setiap pukulan, tangkisan, atau langkah bukan hanya kuat, tetapi juga selaras dengan pusat kesadaran atau Pancer. Tanpa filosofi, bela diri hanyalah otot tanpa arah; dengan filosofi, bela diri menjadi seni dan jalan hidup.


Saturday, November 1, 2025

Kisah Burung Pipit dan Pelajaran dari Alam

Pada awal tahun 1950-an, Mao Zedong di China melancarkan satu kempen besar untuk meningkatkan hasil makanan dan membina masyarakat yang dianggap sempurna. Salah satu sasarannya ialah burung pipit, kerana burung ini dikatakan makan terlalu banyak biji padi.

Kerajaan pun menyeru rakyat membunuh burung pipit secara besar-besaran : dengan merosakkan sarang, memukul burung dengan alat sederhana, dan mengepung pohon supaya burung tidak dapat berehat.

Pada mulanya, jumlah burung pipit berkurang dengan cepat. Namun tidak lama kemudian, masalah besar muncul: tanpa burung pipit yang memakan serangga, jumlah serangga perosak meningkat dengan mendadak dan merosakkan tanaman padi.

Ironinya, usaha untuk menambah makanan akhirnya menyebabkan kebuluran besar, kerana hasil padi jatuh teruk.

Kisah ini menjadi contoh klasik tentang tindakan tanpa memikirkan keseimbangan alam yaitu  sesuatu yang nampak logik pada permukaan, tetapi membawa akibat yang tidak dijangka dan lebih buruk.

Daripada kisah ini, kita boleh ambil beberapa pengajaran penting:

  1. Setiap tindakan ada akibatnya – Kadang-kadang kita terlalu fokus pada satu masalah kecil tanpa nampak kesannya pada perkara lain. Keputusan yang tergesa-gesa boleh menimbulkan masalah baru.
  2. Jangan terlalu percaya pada logik mudah – Fikiran “hapuskan musuh tanaman supaya panen baik” nampak betul, tetapi sebenarnya sempit. Dalam hidup, kita perlu lihat gambaran besar, bukan hanya penyelesaian cepat.
  3. Keseimbangan itu kunci – Alam mempunyai harmoni sendiri. Jika satu unsur terganggu, sistem lain turut terjejas. Begitu juga dalam hidup: keseimbangan antara kerja, rehat, hubungan dan diri sendiri penting untuk ketenangan jiwa.
  4. Kesabaran lebih berkuasa daripada kekerasan – Kempen itu dilakukan dengan tergesa-gesa dan penuh paksaan, akhirnya membawa rugi. Dalam hidup, pendekatan yang lembut, sabar, dan bijaksana selalunya lebih berhasil.
  5. Berhati-hati dengan niat baik yang berlebihan – Niat untuk hasil lebih banyak memang baik, tetapi bila dilakukan tanpa pertimbangan, ia boleh membawa bencana. Niat baik mesti disertai kebijaksanaan dan kesedaran akan risikonya.

Bagi seorang pesilat, kisah burung pipit ini mengingatkan bahawa setiap tindakan mesti disertai dengan kesedaran dan pertimbangan yang mendalam. Dalam silat kita diajar untuk tidak menyerang secara membuta tuli kerana gerak tanpa faham keadaan boleh memakan diri. Begitu juga dalam hidup, pesilat sejati belajar membaca keseimbangan antara niat, tenaga, dan akibat. Bila alam diganggu, tenaga jadi kacau; bila manusia bertindak tanpa waspada, musibah datang. Maka dari kisah ini, pesilat diajar bahawa kekuatan sebenar bukan pada pukulan, tetapi pada kebijaksanaan membaca gerak sebelum bertindak.

Friday, October 31, 2025

Jurus tak terlihat

Dalam dunia silat, tak semua pertarungan layak disambut dengan pukulan. Ada jurus yang lebih halus dari gerak tangan, lebih dalam dari langkah kaki yang disebut jurus tak terlihat. Jurus ini tak meninggalkan bekas pada tubuh lawan, tapi mengubah arah niatnya. Ia bukan berasal dari tenaga dalam, melainkan dari ketenangan dalam. Di sinilah lahir seni bicara yang menundukkan amarah, bukan menumpahkannya. Pendekar sejati tahu kapan lidahnya harus berbicara dan kapan diamnya menjadi perisai

Kalau di dunia beladiri, umumnya hal ini di istilahkan sebagai 'Verbal jiujitsu' dimana ia  bukan sekadar seni berkata, tapi seni membaca hati. Seorang pendekar yang benar mampu meredakan api tanpa menyentuh bara. Ia tidak membalas hinaan dengan balasan, tetapi dengan senyum yang menenangkan. Ia tahu, dalam setiap pertengkaran, yang dicari bukan kemenangan, melainkan keselamatan. Bila kata-kata bisa menjadi air yang memadamkan api, mengapa harus memilih menjadi angin yang meniupkannya lebih besar? Inilah taktik halus yang  membelokkan serangan tanpa melawan, mengendalikan arah tanpa terlihat menguasai.

Mengalah bukan kalah. Itu pelajaran yang sulit bagi mereka yang masih terikat oleh ego. Mengalah berarti memberi ruang bagi takdir untuk bekerja. Kadang mundur selangkah bukan tanda takut, tapi tanda tahu ke mana arus akan membawa kita. Pendekar yang bijak tidak mencari kemegahan dari pertarungan, tapi mencari ketepatan waktu untuk tidak bertarung. Ia hidup hari ini bukan karena lemah, tapi karena tahu bahwa esok masih banyak kebenaran yang perlu ditegakkan dengan kepala yang utuh dan hati yang jernih.

Dan pada tingkat yang lebih halus, jurus tak terlihat adalah kemampuan mendorong orang lain berbuat sesuai dengan niat mereka sendiri. Seperti angin yang membuat daun jatuh tanpa terlihat mendorongnya. Pendekar yang telah menempuh jalan batin tahu bagaimana membisikkan ilham tanpa memaksa, mengarahkan tanpa menuntun. Ia menanam niat baik di hati orang lain tanpa menuntut pujian. Itulah seni sejati, bukan mengalahkan lawan, tapi membuat dunia berputar menuju kebaikan tanpa seorang pun sadar bahwa dialah yang telah menggerakkannya.

“The supreme art of war is to subdue the enemy without fighting.”
kemenangan sejati adalah mengalahkan konflik sebelum ia terjadi, melalui strategi, diplomasi, dan pengendalian diri.

Thursday, October 30, 2025

“Peta Bukanlah Wilayah” (The map is not the territory)

Dalam ilmu NLP, ungkapan “peta bukanlah wilayah” (the map is not the territory) mengajarkan bahwa apa yang kita pahami tentang dunia hanyalah gambaran mental dan bukan kenyataan itu sendiri. Pikiran manusia bekerja seperti pembuat peta: ia menggambar jalan berdasarkan pengalaman, bahasa, keyakinan, dan emosi. Maka, setiap orang memiliki “peta” yang berbeda, walau berjalan di “wilayah” yang sama. Coba anda mengajak beberapa teman untuk mendeskripsi kan apa yang mereka tahu dengan diri anda dan anda evaluasikan sendiri tentang apa yang anda tahu tentang diri anda sendiri.. you will find different answers that will uprise you!! sama lah juga dengan silat.

Justru kesadaran ini melatih kita untuk tidak menganggap pandangan kita paling benar, melainkan memahami bahwa setiap orang hidup dalam versinya sendiri dari dunia yang nyata.

Dalam dunia silat, makna ini terasa lebih dalam. Jurus, langkah, dan bentuk adalah peta dimana ia membantu kita mengenal arah dan pola. Namun ketika menghadapi lawan, medan berubah, angin berpindah, dan niat manusia tak dapat diprediksi. Di situlah pesilat sejati belajar membaca wilayah: bukan sekadar menghafal jurus, tapi memahami rasa dari setiap gerak. Ia menyesuaikan diri, seperti air mengikuti wadahnya. Jurus hanya petunjuk; rasa adalah kenyataan.

Di dunia silat kata kata ini boleh di selaraskan dengan konsep “Jangan terikat pada bentuk, tapi pahami napas di baliknya.” Dalam latihan, peta itu penting, tetapi dalam kehidupan nyata, wilayahlah yang menentukan arah langkahmu. Begitu pula dalam perjalanan batin atau spiritual yakni pengetahuan hanyalah peta, pengalamanlah yang membawamu pada kebijaksanaan sejati. Pesilat yang bijak tahu bila membaca jurus, dan memberi response.

Effective transfer of knowledge

Effective transfer of knowledge happens when the giver does not just hand over information but shapes it so the receiver can truly understand, absorb, and apply it. This requires clarity, structure, and relevance, speaking in a way that connects to the learner’s background and current capacity. A teacher, mentor, or master must adapt the flow of knowledge, using examples, stories, and demonstrations that touch both the intellect and the feeling. Without this bridge, knowledge remains abstract, floating, and easily forgotten.

The receiver has an equal role in making the transfer effective. Openness, humility, and active practice are key. Knowledge is not merely collected, it is cultivated by questioning, testing, and living it. True transfer happens when the learner transforms knowledge into wisdom, something alive, usable, and embodied. In this way, the process is not one-directional but a living exchange, where both teacher and student are refined through the act of sharing.Just as the blade sharpens against the stone and the stone gains purpose from shaping the blade.

I see the effective transfer of knowledge as important because knowledge by itself has little value if it is not understood, applied, and carried forward. When ideas, skills, and wisdom are passed on clearly and meaningfully, they do not die with one person but continue to shape others and grow across generations. It ensures that what has been learned through effort, struggle, and experience does not remain hidden but becomes a living legacy that can guide, protect, and empower those who come after. Long gone are those days where 30 langkah (equivalent katas) that must be memorised "do-and-done-the-same-day-or-else".. Fine if you can commit to large data but what about those who cant? but yet, it is also not about babying your students but to accomadate various learning challenges to make other people's journey meaningful and bearable. DRILL BASED arts by us, solves this issue if you want to lean self defence and weapons.(but for sure it cannot solve other things like athlethic pursuit, kemantapan kesenian dll). 

But alas, i feel intentions nomatter how noble can be mistranslated and misconstrued. It will take time for people to understand the intent of pelajaran buah pukul-drill based art.     


Tuesday, October 28, 2025

Filosofi Nerimo

Nerimo (menerima) bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi sikap bijak untuk menerima hidup apa adanya dengan hati yang bersyukur. Bagi orang Jawa, kesempurnaan bukan sumber bahagia, karena hidup justru indah lewat kekurangan dan perubahan. Orang yang nerimo tahu bahwa segalanya punya waktunya sendiri contohnya, ada datang, ada pergi, ada tumbuh, ada layu  dan semua itu bagian dari keseimbangan alam. Dengan hati yang nerimo, manusia berhenti melawan kenyataan dan mulai berjalan seirama dengannya, menemukan damai dalam keterbatasan dan bahagia dalam kesederhanaan.

Pentingnya nerimo terletak pada kemampuannya menjaga ketenangan batin di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan. Saat manusia tidak bisa menerima keadaan, pikirannya terus melawan realitas maka munculah keadaan hati yang gelisah, marah, iri, dan kecewa. Secara idealnya, ketika seseorang nerimo, ia tidak lagi terjebak dalam keinginan yang tak ada habisnya. Ia bisa melihat hidup dengan lebih jernih, memilih tindakan dengan tenang, dan tidak mudah dikendalikan oleh emosi. Dalam falsafah Jawa, nerimo bukan berarti menyerah, tapi cara untuk hidup selaras dengan alam dan diri sendiri, agar hati tetap ringan meski hidup tak selalu sempurna.

Nerimo adalah pelajaran yang tidak pernah selesai ia sebuah latihan batin yang terus berjalan seumur hidup. Saya pun masih manusia biasa, kadang bisa menerima, kadang masih melawan keadaan. Namun justru di situlah maknanya: setiap kali kita belajar nerimo, kita belajar sedikit lebih dalam tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang cara berdamai dengan hidup. Tidak ada yang langsung sempurna; yang penting adalah terus mengingat bahwa ketenangan tidak datang dari dunia luar, tapi dari hati yang mau belajar menerima dengan tulus.

Ketika usia muda, kita sering ingin mengubah dunia; ketika agak berumur, kita belajar bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah pada menguasai keadaan, tapi pada menerima apa adanya dengan hati tenang. Penuaan membawa kesedaran bahawa tidak semua perkara perlu diperjuangkan.. ada yang cukup untuk diterima, difahami, dan dilepaskan.

Dengan bertambah usia (at the rate im feeling now), nerimo bukan lagi tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan jiwa, hasil dari pengalaman panjang antara harapan, kehilangan, dan penemuan makna sebenar kehidupan.

Dalam hidup, nerimo adalah jalan yang mengajarkan kita lebih dari sekadar sabar. Ia melatih hati menjadi ikhlas, menerima hasil tanpa penyesalan berlebihan. Ia mengajarkan rasa syukur, menghargai apa yang dimiliki, dan menumbuhkan keteguhan saat menghadapi cobaan. Dari nerimo, lahir kebijaksanaan untuk melihat hikmah di balik kesulitan, kesederhanaan hidup yang menenangkan, dan kedamaian batin yang tidak mudah terguncang. Ia mengajarkan hadir sepenuhnya pada saat ini, menahan gelisah masa lalu dan takut masa depan, serta mengendalikan emosi agar hati tetap ringan. Seperti sungai yang tenang, nerimo mengalirkan kehidupan dengan damai, mengajarkan kita menari seirama dengan arus dunia, tanpa memaksakan kehendak, namun selalu selaras dengan rasa dan nurani.Hal ini adalah filosopi yang diterapkan sambil mempelajari meditasi untuk mendapatkan perubahan optimal.  


Monday, October 27, 2025

Filosofi Bertenun

In silat, bertenun, menenun or in English we say weaving, the method where we sew by interlacing two sets of threads at right angles In silat sense, it is the art of binding motion, timing, lineage, and spirit into one living fabric: the stance is the warp and the langkah the weft, interlacing masuk–keluar, kanan–kiri, atas–bawah so the fighter flows rather than moves in lines; timing and energy are woven like a loom’s rhythm, keras–lembut, cepat–lambat, creating strength and deception; each jurus and each teacher is a thread.

Weaving in silat can be seen as the subtle interplay between jurus, langkah, punch, and parry, where each element is like a thread crossing the other like as if the jurus provides the design, langkah lays the foundation, the punch drives force like the shuttle through the loom, and the parry is the counter-thread that locks and balances the weave and together forming a seamless fabric of motion where attack and defense, advance and retreat, hardness and softness, flow into one continuous pattern rather than isolated techniques.

Weaving as a mindset

Weaving is also not confined to the physical skills but also a matter of mindset. With the Guru as the weaver who ties past to present so the ‘kain of silat’ endures; and just as a cloth shows its pattern outwardly while hiding its knots within, silat too weaves zahir and batin, outer technique and inner doa, into harmony thus weaving is not just movement but the very principle that makes silat whole.In this way, weaving becomes more than a metaphor as it is the very principle of how silat breathes, how attack and defense are never truly separate, and how the art remains resilient, supple, and whole, just as woven cloth gains its strength from the crossing of many threads into one enduring fabric.

when we say weaving in silat, it means not just the act of moving, but the skillful interplay of jurus, langkah, punch, and parry, making them flow into one fabric of motion... strong, flexible, and continuous.

 

Saturday, October 25, 2025

Menguak Konsep lama pengeras/Mahar dalam ilmu silat traditional

Mahar bukan berarti "jual beli ilmu", tapi sering di jadikan ujian awal murid – apakah serius atau hanya lip service.

Dalam tradisi tertentu (terutama silat yang terhubung dengan tasawuf dan tarekat), ilmu tidak boleh dimahar secara uang, tapi melalui khidmat dan pegabdian terhadap Syeikh/Guru.

Sebagian guru zaman sekarang menyederhanakan mahar menjadi seikhlasnya, atau sekadar syarat administratif.

Zaman moderen sering dikaitkan dengan “Fees” untuk kesinambungan dan survival Sang Guru atau perguruan. Di sini pemaknaan “Fees” hanya sebatas konsep ilmu ekonomi moderen dimana hukum supply-demand, kelangsungan pelajaran (teachers transport fees, sewa tempat dan duit penat), dan “cari makan” Namun di pendapat penulis.. ini tak begitu sama dengan Pengeras/Mahar dalam artikata tradisional. Fees can give you the access to training sementara Pengeras adalah spesifik (But that is just my opinion).

Bentuknya

1. Wang/uang: nominalnya tetap atau seikhlasnya, kadang dengan angka ganjil atau keramat (786, 111,79 dsb..) nombor yang terhubung dengan numerology arab (another topic for another time)

2. Barang simbolik: keris kecil, batu akik, minyak tertentu, bunga.

3. Tirakat: puasa, wirid, tapa, semedi sebagai bagian dari mahar non-materi tebus ilmu dengan lelaku spiritual.

4. Buah tangan Barang Harian: Kopi, Beras, Ayam. Makanan

Mindset orang dulukala

Biasanya, pengeras ini dipercaya untuk “mengunci” atau “mengaktifkan” energi dari ilmu tersebut, supaya tidak luntur atau mudah hilang.

Mencari barokahmemudahkan urusan guru. Logiknya di sini, jika seseorang guru senang hati dengan murid, maka perjalanan pelajaran pun lancar. Senang hatinya kerana menandakan murid datang bukan dengan tangan kosong dan penuh adab

Di Nusantara (even Philippines), mahar ilmu adalah sebuah bentuk penghargaan, syarat, atau persembahan yang diberikan oleh murid kepada guru sebagai pengganti atau pelengkap dalam proses pewarisan ilmu.

On a personal sidenote, di konteks moderen sebagai doctor, hal ini didapati juga didalam beberapa segmen masyarakat Indonesia di Singapura tak kira PR, Work Permit, EPass.. “yang penting ada buah tangan sebelum Perawatan” (kalau after tu ‘Reward’ la kan..) kerana menganggap “Dokter sebagai wasilah” lucunya, Kadang bukan saja duit tapi bentuk Rendang dan buah buahan . Bahkan Chindo-Sing (Cina Indonesia-Singaporean) pun masih ada yang percaya konsep semacam ini, memegang kepada : "Adat menghormati" sosok Guru, Ustaz, Guru Silat dan Doctor ..Maka dapat disimpulkan, dalam tradisi keilmuan silat dan waemah kebatinan dan perobatan pun, Mahar menjadi medium simbolik yang menguatkan penerimaan ilmu.

Catatan Pereng Sabreng

Monday, October 20, 2025

Legowo

Meskipun akar silat saya berasal dari Madura, saya pernah menekuni filosofi Jawa yang kaya dengan kearifan batin. Dari Madura saya belajar keberanian, keteguhan, dan kekuatan tubuh yang nyata. Dari filosofi Jawa saya belajar menenangkan hati, membaca gerak dan niat, serta menghargai keselarasan antara ego dan alam semesta. Perpaduan ini mengajarkan bahwa seorang pendekar tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga bijak dalam jiwa, mampu bergerak dengan penuh kesadaran dan menerima kenyataan dengan lapang dada. Dalam pengalaman saya, ini adalah pelajaran dualisme “Hard and Soft” yang dibawa oleh Mas Mochamad Amien, yaitu kemampuan bertindak sesuai situasi. Orang Madura terkenal keras, orang Jawa lembut. Manusia matang tidak harus terus-menerus keras atau selalu lemah lembut, tetapi tahu kapan harus menegaskan diri dan kapan harus menundukkan ego.

Legowo bukan sekadar kata. Ia adalah keadaan hati yang menerima, tanpa menolak kenyataan, tanpa harus menang dalam setiap perselisihan. Dalam silat, seorang pendekar yang legowo tidak berarti pasif atau lemah. Ia memahami bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, dan energi yang dihabiskan untuk menolak kenyataan seringkali lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk menerima dan bertindak bijaksana. Filosofi legowo menuntun kita untuk melihat kekalahan bukan sebagai aib, tetapi sebagai guru. Saat rencana tidak berjalan sesuai kehendak, saat manusia lain bertindak melawan harapan kita, legowo muncul sebagai kekuatan batin yang menyeimbangkan ego. Inilah seni menahan diri dari amarah, iri, atau kekecewaan yang berlebihan.

Dari sudut psikologi modern, legowo sejalan dengan konsep emotional regulation, yaitu kemampuan mengelola emosi agar tidak menguasai tindakan kita. Seorang pendekar yang legowo mampu menyadari kelemahan dan kekuatan diri, memahami batas kemampuan, dan menyesuaikan langkahnya dengan bijaksana. Dengan kesadaran ini, gerakan tubuh dan hati selaras, keputusan menjadi tepat, dan diri tidak terguncang oleh hasil yang tidak sesuai harapan.

Dalam perspektif Islam, legowo dapat didekati melalui sabar, tawakkul, dan ridha. Sabar tercermin saat seseorang mampu menahan diri dari amarah, kecewa, atau dendam ketika menghadapi cobaan. Tawakkul mengajarkan kita melakukan usaha terbaik, namun menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Ridha adalah keadaan hati yang menerima takdir Allah dengan lapang dada. Kombinasi ketiganya menjadikan legowo sebagai kemampuan menerima kenyataan, mengendalikan ego, dan tetap bersikap baik dalam setiap kondisi.

Legowo juga mengajarkan bahwa hidup adalah aliran, bukan pertarungan terus-menerus. Seorang pendekar yang legowo tetap bertindak, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya di tangannya. Hatinya tidak terguncang oleh pujian atau celaan. Ia berjalan dengan ringan, tetapi tegas. Ia menyadari bahwa melepaskan bukan berarti kalah, tetapi memberi ruang bagi pertumbuhan, kebijaksanaan, dan kedamaian yang sejati. Inilah inti dari jalan pendekar: menguasai tubuh, menenangkan hati, dan menyelaraskan diri dengan dunia tanpa kehilangan diri sendiri.

Maka di akhir tulisan ini, saya ajak pembaca untuk berhenti sejenak. Renungkan langkah anda hari ini, gerak hati dan tindakan anda. Di tengah kerasnya dunia dan lembutnya hati, di mana kita berdiri? Apakah kita menegaskan diri terlalu kaku, atau melunak tanpa arah? Apakah kita menerima kenyataan dengan bijak, atau terus menolak dengan sia-sia? Sebab kesadaran itu, seperti jurus silat yang sempurna, baru lahir ketika kita mampu menatap diri sendiri tanpa menipu diri, dan memahami posisi kita di tengah aliran kehidupan.

Saturday, October 18, 2025

Beyond Perfection: The Way of Harmony in Silat

Every silat journey begins with a question: what are we truly seeking? Some say victory, others say mastery, and some even say perfection. Yet the deeper we train, the more we see that perfection is not a destination but a shadow on the horizon. The closer we walk toward it, the further it seems to move away. Still, we must not stop striving. The effort itself sharpens our movements, steadies our breathing, and strengthens our spirit. If we stop seeking to improve, we begin to weaken. If we continue, even while knowing perfection cannot be caught, we keep growing without end.

Silat also teaches us to remain humble. There are moments in training when we must pause, not from weakness, but from awareness. In those still moments we reflect on what we already know: a strike we have learned, a step we have mastered, or a mistake that has taught us a lesson. Then we hold it against what we do not yet know.. the deeper wisdom passed down through generations. This awareness does not make us small. It grounds us, for true strength lies not in claiming complete knowledge, but in recognizing how much still lies beyond reach.

The seeker of knowledge must never claim to have reached its end, for knowledge has no shore. What we hold is only a drop, while the ocean stretches beyond sight. To keep walking the path is better than to boast of arrival, for the one who walks is alive in his learning, while the one who thinks he has arrived is already lost.

Here we are reminded of the words of Imam Zarnuji in Alim muta'lim, who said: “Knowledge is not attained except through six things: intelligence, desire, patience, sufficiency, the guidance of a teacher, and length of time.” The path of silat follows the same law. Without desire, we cannot endure hardship. Without patience, we cannot overcome struggle. Without a teacher, we lose direction. Without time, our roots remain shallow.

When we train with this awareness, we see that what we know will always be smaller than what remains hidden. This humility does not weaken us but it completes us. It is in the balance between striving and stillness, between knowledge and mystery, that we move past perfection. Perfection is stiff and unchanging, but harmony is alive. Harmony is when body, mind, and spirit move as one. It is when the silat player no longer fights against the world but flows with it. In that state we are not perfect, but we are whole. And in silat, wholeness is greater than perfection, for it is unity with the rhythm of life itself.

Friday, October 17, 2025

Kecenderungan Murid

Dalam dunia silat memang terdapat bermacam-macam kecenderungan murid, ibarat aliran sungai yang banyak cabangnya tetapi berpunca dari satu sumber yang sama yaitu niat untuk mempertahankan diri dan menegakkan martabat insan.

Antara kecenderungan yang sering terlihat:

Kecenderungan Tempur dan beladiri – Fokus kepada teknik bertempur, kecekapan gerak, kekuatan fizikal, dan strategi perlawanan. Biasanya ini lahir dari keperluan mempertahankan diri atau sistem keamanan zaman dahulu.*

Kecenderungan Olahraga (Sportif) – Menjadikan silat sebagai sukan, dengan peraturan, sistem markah, dan pertandingan. Di sini silat menjadi medium disiplin, kesihatan, dan semangat juang.*

Kecenderungan Tari dan Adat (Estetik dan Budaya) – Menekankan keindahan gerak, irama langkah, dan makna simbolik dalam bunga silat. Ini mencerminkan nilai seni, budaya, dan jati diri bangsa.*

Kecenderungan Kerohanian (Tasawuf dan Kebatinan) – Melihat silat sebagai jalan pembersihan diri dan penyatuan antara jasmani, rohani, dan alam. Di sini gerak menjadi zikir, dan diam menjadi tafakur.*

Kecenderungan Perobatan dan Tenaga Dalam (Penyembuhan) Ada juga di beberapa perguruan di mana silat menjadi alat memahami tubuh, tenaga, dan keseimbangan. Ada sebahagian guru silat yang juga tabib kerana faham “gerak” di dalam dan di luar diri. Mengingat kembali di zaman kampung, guru silat juga dianggap sebagai ahli perobatan dan tak sedikit juga dari mereka itu guru agama.*

Harus saya tegaskan, menurut almarhum guru kami, di konteks murid dewasa tidak ada kecenderungan yang salah, yang salah itu apabila sang guru :

1. Tidak menempatkan bakat murid di tempat yang benar.

2. Memaksa murid untuk "Supaya harus bisa". (mengingatkan tak semua murid lahir cerdas). Bagaimana pula kalau muridnya kelahiran serba kekurangan upaya (bukan soal OKU 100% tapi tidak dapat membuat tendangan kerana cedera atau kelahiran 'congenital' menurut beliau seperti itu juga layak mendapat pelajaran silat). 

3. Memaksa diri untuk meberikan materi ke murid luar dari jangkauan ilmu nya sendiri (tidak jujur).

*pecahan yang lebih mendetail di atas boleh di lihat di post saya yang lalu  

Tugas seorang guru sebenarnya lebih dari sekadar mengajar. Guru yang baik bukan hanya mahu muridnya pandai, tetapi mahu mereka menjadi diri sendiri dengan cara yang terbaik. Setiap murid mempunyai bakat dan kecenderungan yang berbeza. Ada yang cepat memahami gerak, ada yang sabar dan tekun, ada juga yang kuat semangat tetapi lembut hatinya. Di sinilah peranan guru, iaitu mengenal kekuatan setiap murid dan membimbing mereka ke arah yang sesuai.

Dalam silat, hal ini sangat penting. Ada murid yang lebih sesuai dengan latihan tenaga dan ketangkasan, sementara yang lain lebih menonjol dalam seni bunga atau kefahaman makna gerak. Jika guru tersalah menempatkan murid, pelajaran itu akan menjadi berat bagi mereka. Tetapi jika guru tahu menyesuaikan cara mengajar dengan watak murid, maka pelajaran itu akan menjadi ringan dan menyenangkan. Murid belajar dengan semangat, bukan kerana terpaksa.

Seorang guru sejati tidak mengharapkan semua muridnya menjadi sama. Sebaliknya, dia mahu setiap murid berkembang dengan cara masing-masing. Itulah tanda guru yang benar, yang mampu melihat potensi dan membimbingnya dengan sabar.

Namun untuk melahirkan pesilat yang benar-benar menyeluruh, guru juga perlu menggalakkan murid agar berani keluar dari zon selesa mereka. Walaupun seseorang sudah mahir dalam satu bidang seperti tempur, tari, atau tenaga dalam, dia tetap perlu menerokai pelajaran lain untuk melengkapkan diri. Dengan cara itu, murid bukan sahaja kuat pada satu sisi, tetapi juga seimbang dari segi fizikal, mental, dan rohani.

Seperti pesan guru saya yang lebih kurang intinya, "jangan terlalu terikat pada kecenderungan, tetapi fahami asasnya, cabangnya, dan akhirnya tetap harus kembali kepada inti. Silat hanyalah wadah, bukan tujuan". Apabila murid memahami makna ini, mereka akan belajar bukan semata-mata untuk kuat atau menang, tetapi untuk mengenal diri dan hidup dalam keseimbangan.

Dari pengalaman saya pula, ketika mula mengajar dahulu saya memiliki sekitar enam puluh orang murid. Pada waktu itu, saya pernah ditegur kerana terlalu berfokus pada hasil dan angka, seolah-olah mengajar itu sekadar mengejar KPI. Pendekatan saya menurut beliau menjadi kaku dan penuh tekanan, hingga akhirnya saya sendiri merasa lelah dan kehilangan makna sebenar dalam mendidik. Padahal, arwah guru saya dahulu tidak pernah menuntut apa-apa selain keikhlasan dalam mengajar.

Ketika saya pulang ke padepokan (acara tahuanan), saya “digembleng” semula bukan dalam gerak, tetapi dalam jiwa. Saya diajar untuk lebih empati, lebih berjiwa rakyat, dan memahami watak serta keperluan setiap murid seperti seorang sahabat, bukan sekadar pelatih. Arwah guru sering berpesan kepada saya bahawa murid remaja dan murid dewasa sangat berbeza. Yang muda belajar dengan semangat, yang dewasa belajar dengan memahami konsep serta pengalaman. Maka tugas guru ialah menyesuaikan pendekatan, agar setiap murid merasa difahami dan dihargai dalam perjalanan mereka belajar.

Please understand that I am not here to preach about how to be a teacher to those who are already having your class and teaching, I am here to only share on the wisdom of our grandmaster Almarhum Mas Mochamad Amien   as a silat teacher dan pendakwah (secara "indirect") dimana beliau telah mengislamkan orang (mualaf) melalui jalan sebagai guru silat. Should there be any lapses in any of my teachings that is not at par to my teacher, understand that I am still learning the ways.   



Wednesday, October 15, 2025

Ngala, Ngalle, Ngelaben (Mengalah, Mengalih, Melawan)

 Ngala berarti bahwa sebaiknya kita mengalah kalau dihadapkan konflik ataupun potensi perkelahian. Ini menunjukkan silat tidak diperuntukkan kekerasan dan menggunakannya untuk seenaknya sendiri. Tidak perlu memperkeruh suasana dan memperbesar masalah dan konflik.

Ngalle sebaiknya meninggalkan hal-hal yang bisa mendatangkan permusuhan dan perkelahian. Jika ditantangpun sebaiknya kita meninggalkannya, karena tiada manfaat perkelahian yang didasari emosi dan motif keburukan. Menang atas perkelahian yang justru tidak membuat orang atau bahkan diri kita sendiri bersikap lebih baik, adalah tidak bermanfaat. Kalah atas perkelahian yang justru membuat orang bersikap sombong dan arogan juga tiada manfaatnya. Sehingga meninggalkan perkelahian adalah lebih baik.

Nglaben berarti jika lawan bersikeras melawan dan menyerang kita, padahal kita sudah berusaha ngala dan ngalle, maka seorang pesilat harus mampu nglaben (melawan), karena untuk tujuan itulah silat digunakan, mempertahankan diri, melawan perbuatan keji dan mungkar.



Social Harmony, To do or not to do?

In the context of social harmony..

If it benefits you and benefits them: Do it. 

If it does not benefit them and does not benefit you: Don't do it. 

If it benefits them, and does not benefit you: (Think about it) most likely do it. 

If it benefits you, and does not benefit them: Don't do it.

-My special Thanks to Mas Guru Daniel Prasetya and Mas Guru Brandon Hadisoemarto

These four tenets form a compass for wise action, simple yet profound. They teach that true decision-making is not about advantage but about harmony. When both sides gain, action is righteous. When neither gains, it is waste. When others gain and we do not, it becomes a test of generosity and wisdom, a reminder that service often plants unseen seeds. When only we gain at another’s expense, it stains the heart and breeds imbalance. In essence, these principles remind us that right action is measured not by profit but by balance, benefit, and integrity of intent.

Kadang, diam lebih menenangkan daripada debat, dan kesabaran lebih menyembuhkan daripada pembelaan diri. Hidup bermasyarakat menuntut kepekaan untuk mengetahui kapan harus maju dan kapan harus mundur, kapan memberi suara dan kapan memberi ruang. Dalam timbangan sosial yang halus ini, keharmonisan bukan hasil dari kemenangan satu pihak, melainkan buah dari kesadaran bahwa kebaikan bersama lebih berharga daripada kepuasan pribadi.

Seeing, Pausing, and Acting with Clarity - Lihat, Dengar, Rasa

Knowledge fills your mind with facts, but wisdom fills your heart with understanding. When the heart is guided by wisdom, your actions become thoughtful and kind. 

Knowledge helps you know what can be done, but wisdom helps you know what should be done. It brings balance between thinking, feeling, and doing  so that your hands move not just with skill, but with purpose.

One hallmark of wisdom is the ability to take a step back and see things clearly before acting. It is the calm space between impulse and decision, where understanding grows. When you step back, you give yourself room to see the bigger picture  what is right, what is needed, and what can wait. In that quiet distance, emotion settles, reason returns,undettered by internal and external critics and from there our next move becomes both gentle and precise.

Muraqabah in Sufiism is the practice of watching over oneself, a pause that allows the heart to notice the stirrings of ego, desire, and impulse. In that quiet observation, the mind becomes a witness rather than a slave to emotion, and actions arise from awareness instead of reaction. It is through this inner vigilance that one learns patience, clarity, and the subtle guidance of the soul, turning each choice into a reflection of conscious presence rather than fleeting impulse.

One particular  NLP (Neuro Linguistic Programming) that I will share as an NLP Master, is the technique often called the “Perceptual Positions” exercise  (in line with the concept of what Im reffering to above).

  • First Position – You experience the situation through your own eyes, fully immersed in your own feelings and perspective. Notice your emotions, judgments, and desires. This grounds you before you shift perspective.
  • Second Position – You step into the other person’s shoes, seeing the situation through their eyes, feeling what they feel. "Why does he feel strongly about this?", "how does the statement look from his viewpoint" Avoid projecting your assumptions; focus on empathy.
  • Third Position – You zoom out as an impartial observer, watching the interaction objectively, as a detached witness. "How do I look at myself as a third party person?", How might you respond more wisely, considering both perspectives?

The third position is exactly what we want to gain insight from : it allows us to step back, gain clarity, and respond with wisdom instead of reacting impulsively. It’s very much like the Sufi idea of muraqabah observing the self and the situation before acting.

The benefit of taking a third-person perspective is that it gives us clarity and objectivity. By stepping outside ourself, we can see the full picture without being trapped in emotion, bias, or immediate reaction. It helps us understand both our own motives and those of others, anticipate consequences, and make decisions that are wise rather than impulsive. This perspective fosters empathy, patience, and strategic thinking, turning a moment of tension into an opportunity for insight and calm action. It is easier said then done, but Wallahi (by God) it has saved me from unnecessary problems. The point in all of this is to not only understand our terrain and environment but to also understand ourself in the process to being a wholesome pesilat. 


Tuesday, October 14, 2025

Sharp mind

 Senjata tajam hanya berguna di tangan yang terlatih. Tapi tangan yang terlatih akan tetap berguna walau senjata tumpul.

- A sharp weapon is only useful in trained hands. But trained hands will remain useful even with a dull weapon.

Saturday, October 11, 2025

Everything will have its place

That saying is a cornerstone of why the elders guarded martial arts wisdom so carefully. Knowledge has the right place, at the right time, with the right people.

This means three things.

Right Place.Not every lesson belongs in every space. A secret of combat does not belong in a market square. It belongs in the gelanggang, where the spirit is prepared. Place shapes respect.

Right Time.A teaching given too early is wasted, given too late it becomes useless. The old masters waited for the right moment, when the student’s body, heart, and mind were ready. Timing helps the knowledge settle deeply.

Right People.Not every seeker deserves every secret. Some are reckless, some are arrogant, some only want power. The master chooses the worthy, those who carry responsibility, humility, and loyalty.

From me as a doctor, martial arts is a system of body, mind, and energy that must be understood as one whole. The knowledge given by a master is like a prescription. The wrong dosage can be harmful, the right dosage brings benefit. A doctor-santri understands that the student’s body is a living laboratory. Every movement, every stance, every breath affects muscles, joints, posture, and even hormonal balance.

Knowledge cannot be given carelessly. Poor instruction can cause physical or psychological harm. Beyond the body, the doctor-santri must consider the mind. Learning martial arts requires focus, discipline, and emotional stability. Teaching a student who is not ready is as dangerous as giving strong medicine to a weak patient. Timing, understanding, and readiness must come first, just like diagnosing before therapy.

Just as a physician studies the anatomy of illness, the master of silat studies the anatomy of movement, the cause of imbalance, the flow of energy, the harmony between breath and will. In this way, martial arts becomes a medicine.

The gelanggang becomes a clinic for the silat. Every strike teaches balance. Every fall teaches humility. Every recovery teaches resilience. The doctor understands that health is not only the absence of pain, but the presence of harmony between body and intention, between will and surrender.. THIS is no different from where we see it in the way silat is viewed.

When the elders said that knowledge must have the right place, time, and people, they were not hiding secrets. They were being responsible.

True mastery is not in revealing everything. It is in guiding others until they are ready to understand through experience. A teacher heals through discipline, and a healer teaches through motion. Both must know when to speak, when to wait, and when to let the lesson appear in silence.

Semua hal ada tempatnya, dan semua hal akan indah pada waktunya.

- Alm Guru Mas Mochammad Amien

Friday, October 10, 2025

"universal knowledge"

 We can all agree that "universal knowledge"  like human biomechanics, anatomy, and natural laws of movement transcend styles and of course theres culture and sub-cultural standard. These truths belong to everyone, and any Silat that ignores them risks becoming rigid or ineffective. Simply put to force uniformity of perguruan culture into common culture is wrong, but to respect the universality of the body is essential.

Having said that, nobody can set a litmus test for how Silat should be practiced or organized, no matter how high their level or title may be. The rukun perguruan (the code and values of one school) cannot and should not be used as a measuring stick for another school. Each perguruan has its own history, philosophy, and method shaped by the needs of its people. What is sacred and effective in one tradition may not carry the same meaning in another.





Thursday, October 9, 2025

Safety

I was going through my old photos and found this mark on my hand. I wondered, “What the heck did I do?”

Then I remembered—it was from the beating I got from my grandmaster, after I gave in to my student’s challenge to spar without a helmet.


The sparring itself went fine, nothing serious happened. But the next day, something went wrong—my student ended up in the hospital. The news went straight to HQ.


A month later, during the annual camp at HQ, it was time for sparring sessions. Deep down, I knew I’d get punished for breaking protocol (helmets are mandatory). And I was right.

“Put on your helmet and grappling gloves,” the master ordered.

“Siap,” I replied.

He assigned one of my seniors, Mas Pen—a local champion famous for his open-hand slaps to the face (allowed in our ChakraV silat). He rained blows on me, but I defended myself as best as I could. Even with my size, I managed to land some jabs on his nose.

Then the master got impatient, stopped the fight, and stepped in himself. That’s when the real beating began—bam, boom, bak, bak, boom—no time to react. Within moments I was flat out. Master-level strikes, no joke.

He looked at me and said:

“Now do you see how severe the blows are, even with a helmet? What more without it? Your student ended up in the hospital because of your ego. Never accept such challenges in vain.”


I looked down at my forearm, feeling the friction burns from his gloves. The next morning, it burned like hell when I showered.

Still, I had no hard feelings. Memories like this are priceless. It was tough love. I miss him, even though things were not always easy between us. You only truly understand your teacher’s lessons when you become a teacher yourself.

Al-Fatihah to you, Mas Guru. If I could turn back time, I’d redeem myself. 

In the picture, the bruises don’t look too obvious, but God knows how bad it was, haha. So if I whack you guys, don’t take it personally, hahaha.


Taken from my fb post. Reviving the lesson on student safety.