Monday, November 3, 2025

Keseimbangan sikap

Jadilah kuat tapi tidak kasar, bersikap baik tapi tidak lemah, berani tapi tidak menggeretak, bersikap rendah hati tapi tidak malu-malu, percaya diri tapi tidak sombong.

Kalimat ini bukan sekadar nasihat; ini adalah jalan tengah yang sulit dijalani oleh kebanyakan manusia. Di dunia yang penuh dengan kebisingan ego dan kepalsuan citra, menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan hati adalah ujian sejati. Banyak orang ingin terlihat tangguh, tapi dalam proses itu mereka kehilangan rasa. Ada pula yang ingin menjadi baik, namun akhirnya menjadi lemah karena takut disalahpahami. Maka, keseimbangan adalah kuncinya dan keseimbangan itu hanya lahir dari kesadaran diri. Almarhum guru selalu mengingatkan saya soal "jalan tengah" yang maknanya serupa seperti di atas (yang saya petik ini adalah kata kata umum aka pepatah yang sering muncul di socmed user Indonesia).

Kalau di fikir-fikirkan, kita sering menghubungkaitkan persilatan dan beladiri dengan hal hal beratribut keras, kasar dalam rangka ketanguhan tapi lupa pada sisi lain, dalam setiap perjalanan hidup seorang pesilat, ada dua arus yang saling bertemu kekuatan dan kelembutan, keberanian dan kebijaksanaan. Keduanya bukan musuh, melainkan saudara kembar yang harus berdamai di dalam diri. Terlalu condong ke satu sisi, maka hilanglah harmoni. Di sinilah letak ujian sejati: bagaimana menyeimbangkan tenaga kasar dan tenaga halus, agar langkah kita tidak hanya meninggalkan jejak di tanah, tapi juga gema di dalam jiwa.

Kita tidak sedang berlomba menjadi yang paling gagah, atau yang paling suci. Yang kita cari sebenarnya adalah ketenangan di tengah badai, kemampuan untuk tetap berdiri tanpa harus menjatuhkan siapa pun. Silat mengajarkan hal ini dengan sangat halus yakni tangan bisa menangkis, tapi hati harus tetap jernih. Ilmu bela diri sejati bukan soal memukul, tapi mengenal diri sendiri: kapan harus maju, kapan harus diam, kapan harus melepaskan.

Di dalam diam yang penuh kendali (control), di dalam keputusan yang tidak impulsif, di sanalah seseorang menemukan kekuatan sejati bukan untuk menguasai orang lain, tapi untuk menaklukkan dirinya sendiri.

Setiap gerak, setiap kata, setiap napas yang kita ambil adalah cermin dari keadaan batin kita. Jika engkau ingin menjadi pesilat sejati, yang mumpuni bukan saja di gelanggang, tapi dalam kehidupan maka belajarilah seni menjadi kuat tanpa kehilangan kasih, dan menjadi lembut tanpa kehilangan keberanian. 

No comments:

Post a Comment