Wednesday, November 26, 2025

Kyusho-jitsu Street combat

Today I earned the Kyusho Jitsu street combat black belt 1st Dan. Kyushojutsu is the art of manipulating the body’s vulnerable points to create specific reactions  whether to control, disable temporarily, or open an opportunity for a follow-up technique.  It blends anatomical knowledge, nerve physiology, angle of attack, direction of pressure, and proper timing. In silat or any martial art, kyushojutsu becomes a subtle layer that makes ordinary techniques far more effective with minimal effort. Once understood, it changes the way you view movement  you stop relying on strength and start relying on structure, timing, and the opponent’s own reactions. But under Dr Sundardas he took it further by aplying the sciences of street combat self defence to the art so it is appropriate to say this is an add on to the earlier blackbelt 1st Dan in Kyushojitsu.



Friday, November 21, 2025

Kerambit course

Asalamualaikum semua, untuk 2025 akhir tahun saya berkenan untuk membuka lagi seminar teknik kerambit basic and intermediate. Untuk mereka yang pernah partisipasi 2023 akan diberikan discount dan dianggap sebagai refreshers.

- certificate of attendance.
- 5-hours course.
- basic/intermediate.
- 80 sgd per pax. But ChakraV students and previous participant irregarless of year pays only 50 sgd.
- location : Studio Fossee @Kallang
- date : 21 Dec 2025
By the end of my seminar, participant will be able to understand the techniques necessary for the deployment of kerambit and also replacement tools that can be used in the absence of the kerambit/karambit for self-defence. MOST IMPORTANTLY! this is meant to be an effort to promote the martial culture of people from the archipelago (Indonesia, Malaysia and The Philippines) and not meant to promote violence. I welcome everyone from all kinds of background with a keen interest to know more about silat. Last but not least, you do not need to commit to my school/perguruan before or after my seminar although this is meant to double up as a promotion of my classes and for networking. do dm if interested. so far 7 have expressed interest.





Asosiasi Pencak Silat Nusantara (APN) Singapore Chapter.

Dalam beberapa tahun terakhir, perjalanan saya dalam dunia silat sering membawa saya bertemu pelbagai insan yang datang dengan niat berbeda, tetapi semuanya punya satu persamaan: keinginan untuk mencari akar dan makna. Dari sesi latihan kecil hingga ke perbualan larut malam tentang budaya dan jati diri, saya pelajari bahawa silat bukan hanya sesuatu yang kita latih, tetapi sesuatu yang hidup bersama kita. Maka ketika sebuah amanah baru datang mengetuk, saya menerimanya dengan rasa syukur dan rendah hati, kerana setiap langkah dalam dunia persilatan selalu membawa tanggungjawab sekaligus kesempatan untuk berbakti.

Menjadi wakil APN di Singapura bukan perkara kecil. Ketika surat itu saya terima, rasanya seperti mendapat peringatan bawasanya Silat bukan sekadar jurus atau teknik, tetapi cerita panjang tentang marwah, adab, dan cara manusia membentuk kekuatan lewat kesabaran. Tugas saya sekarang adalah memastikan ilmu ini tetap hidup, tetap relevan, dan tetap membawa manfaat bagi siapa saja yang ingin mempelajarinya.

Di Singapura, langkah ini juga membuka ruang untuk merapatkan hubungan antara komunitas silat, perguruan, dan masyarakat pencinta budaya. Saya tidak datang membawa gelar atau bendera, tetapi membawa niat untuk menyambung tali dan membangun kegiatan yang menumbuhkan ilmu dan rasa hormat terhadap tradisi. Semoga amanah ini bisa menjadi titik mula yang baik untuk menghidupkan kembali nilai-nilai silat yang sesungguhnya, agar generasi seterusnya tahu bahawa silat bukan sekadar gerakan badan, tetapi cara memupuk jiwa.



Asosiasi Pesilat Nusantara biasanya berdiri sebagai payung besar yang menghubungkan pelbagai aliran, gaya, dan perguruan silat dari seluruh wilayah Nusantara. Fungsinya bukan untuk menyeragamkan ilmu, tetapi untuk menjaga keaslian setiap tradisi, memastikan bahawa warisan gerak, falsafah, dan adab tidak hilang ditelan zaman. Di dalamnya, para guru tua bertindak seperti penjaga api, memastikan bahawa generasi muda menerima ilmu yang benar, bukan versi yang telah tercabut dari akar.

Selain itu, organisasi seperti APN sering menjadi jambatan antara pelestari budaya dan dunia moden. Mereka mendorong program pendidikan, seminar, bengkel, dokumentasi sejarah, hingga hubungan antar-negara. Pada satu sisi mereka menjaga warisan, pada sisi lain mereka membuka pintu untuk pertukaran budaya dan pengembangan profesional, termasuk standard keselamatan latihan, etika pengajaran, dan kerjasama antara perguruan.


Monday, November 3, 2025

Keseimbangan sikap

Jadilah kuat tapi tidak kasar, bersikap baik tapi tidak lemah, berani tapi tidak menggeretak, bersikap rendah hati tapi tidak malu-malu, percaya diri tapi tidak sombong.

Kalimat ini bukan sekadar nasihat; ini adalah jalan tengah yang sulit dijalani oleh kebanyakan manusia. Di dunia yang penuh dengan kebisingan ego dan kepalsuan citra, menjadi kuat tanpa kehilangan kelembutan hati adalah ujian sejati. Banyak orang ingin terlihat tangguh, tapi dalam proses itu mereka kehilangan rasa. Ada pula yang ingin menjadi baik, namun akhirnya menjadi lemah karena takut disalahpahami. Maka, keseimbangan adalah kuncinya dan keseimbangan itu hanya lahir dari kesadaran diri. Almarhum guru selalu mengingatkan saya soal "jalan tengah" yang maknanya serupa seperti di atas (yang saya petik ini adalah kata kata umum aka pepatah yang sering muncul di socmed user Indonesia).

Kalau di fikir-fikirkan, kita sering menghubungkaitkan persilatan dan beladiri dengan hal hal beratribut keras, kasar dalam rangka ketanguhan tapi lupa pada sisi lain, dalam setiap perjalanan hidup seorang pesilat, ada dua arus yang saling bertemu kekuatan dan kelembutan, keberanian dan kebijaksanaan. Keduanya bukan musuh, melainkan saudara kembar yang harus berdamai di dalam diri. Terlalu condong ke satu sisi, maka hilanglah harmoni. Di sinilah letak ujian sejati: bagaimana menyeimbangkan tenaga kasar dan tenaga halus, agar langkah kita tidak hanya meninggalkan jejak di tanah, tapi juga gema di dalam jiwa.

Kita tidak sedang berlomba menjadi yang paling gagah, atau yang paling suci. Yang kita cari sebenarnya adalah ketenangan di tengah badai, kemampuan untuk tetap berdiri tanpa harus menjatuhkan siapa pun. Silat mengajarkan hal ini dengan sangat halus yakni tangan bisa menangkis, tapi hati harus tetap jernih. Ilmu bela diri sejati bukan soal memukul, tapi mengenal diri sendiri: kapan harus maju, kapan harus diam, kapan harus melepaskan.

Di dalam diam yang penuh kendali (control), di dalam keputusan yang tidak impulsif, di sanalah seseorang menemukan kekuatan sejati bukan untuk menguasai orang lain, tapi untuk menaklukkan dirinya sendiri.

Setiap gerak, setiap kata, setiap napas yang kita ambil adalah cermin dari keadaan batin kita. Jika engkau ingin menjadi pesilat sejati, yang mumpuni bukan saja di gelanggang, tapi dalam kehidupan maka belajarilah seni menjadi kuat tanpa kehilangan kasih, dan menjadi lembut tanpa kehilangan keberanian. 

Sedulur Papat Lima Pancer dalam Silat: Filosofi dan Praktiknya

Dalam tradisi Jawa, manusia selalu ditemani oleh empat saudara gaib yang disebut sedulur papat: Kakang Kawah (air ketuban), Adi Ari-ari (plasenta), Getih (darah), dan Puser (tali pusar). Keempatnya selalu menyertai manusia sepanjang hidup, mengelilingi Pancer, yaitu inti jiwa atau pusat kesadaran diri. Konsep ini memiliki makna yang sangat dalam dalam silat, bukan hanya sebagai seni bertarung, tetapi juga sebagai jalan pembentukan manusia seutuhnya.

Pertama, filosofi sedulur papat menekankan kesadaran tubuh. Tubuh bukan hanya wadah untuk berkelahi, tetapi rumah bagi keempat sedulur. Ketika tubuh dirawat dan dijaga, keseimbangan keempat unsur ini tetap harmonis, sehingga tenaga menjadi kuat dan gerakan pesilat lebih sinkron. Kedua, kesadaran rasa sangat penting. Keempat sedulur mewakili empat arah emosi manusia: senang, sedih, takut, dan marah. Seorang pesilat belajar mengenali, menerima, dan mengendalikan emosi tersebut. Jika emosi tertentu menguasai Pancer, gerakan silat bisa menjadi tidak terkendali.

Selain itu, kesadaran alam juga diajarkan. Silat menempatkan manusia sebagai bagian dari semesta, dan sedulur papat mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sendirian. Unsur bumi, air, api, dan angin hadir sebagai penjaga yang ikut memengaruhi gerakan. Gerakan silat pun mencerminkan harmoni keempat unsur ini. Terakhir, kesadaran ruhani menjadi inti dari latihan silat. Pancer, pusat kesadaran, menentukan bagaimana pesilat bertindak dalam menghadapi situasi. Bila sedulur papat selaras dengan Pancer, pesilat memiliki insting tajam, pikiran jernih, dan gerakan yang menyatu dengan keadaan.

Dalam menyerang, setiap unsur sedulur papat memiliki karakteristik sendiri. 

  • Kakang Kawah (Air) melambangkan serangan yang lentur dan mengalir – konsep ‘flowing’-, mengikuti celah lawan tanpa terlihat kaku. 
  • Adi Ari-ari (Bumi) melambangkan serangan yang mantap dan berakar, memberi bobot penuh pada tendangan atau bantingan – konsep ‘groundedness’. 
  • Getih (Api) melambangkan serangan cepat dan penuh semangat, memberi nyawa pada gerakan, tetapi harus dikendalikan agar tidak merugikan diri sendiri – konsep ‘energy’. 
  • Puser (Angin) melambangkan serangan halus dan cepat yang mengguncang keseimbangan lawan – konsep - leverage. 

Semua serangan diarahkan ke Pancer, pusat kesadaran, sehingga gerakan menjadi hidup, selaras, dan efektif.

Dalam pertahanan pula, filosofi sedulur papat juga diterapkan. 

  • Kakang Kawah menjadi benteng yang lentur dan adaptif, mengalirkan tenaga lawan sambil menjaga jarak. 
  • Adi Ari-ari menjadi benteng stabil, menahan serangan dengan tubuh yang kokoh dan berakar. 
  • Getih menghadirkan benteng cepat, langsung membalas lawan untuk mematahkan niat serangan mereka. 
  • Puser hadir dalam pertahanan yang halus dan cepat, menghindari garis serang lawan dan mengganggu keseimbangan mereka. 
Semua pertahanan ini harus bermuara pada Pancer, sehingga setiap tindakan bukan sekadar reaksi mekanis, tetapi keputusan bijak yang menghemat tenaga dan memaksimalkan hasil.

Dengan demikian, sedulur papat lima pancer bukan sekadar mitologi atau cerita kuno, tetapi panduan hidup dan silat. Tubuh dijaga, emosi dikendalikan, alam dihargai, dan jiwa disadari. Serangan dan pertahanan yang selaras dengan Pancer membuat pesilat bukan hanya kuat dan lincah, tetapi juga bijak dan harmonis. Silat, melalui filosofi ini, menjadi jalan pembentukan manusia paripurna, bukan sekadar seni bela diri.

As Above, So Below: Keselarasan Alam dan Manusia

Frasa “As above, so below” mengajarkan bahwa apa yang terjadi di alam semesta atau dunia yang lebih tinggi tercermin di dunia manusia dan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pola, hukum, dan keseimbangan yang berlaku di tingkat besar juga muncul di tingkat kecil.

Contohnya, tubuh manusia adalah cermin dari alam semesta. Organ dan sistem tubuh bekerja selaras seperti alam yang luas. Pikiran dan kesadaran batin juga tercermin dalam perilaku nyata kita. Dalam filosofi silat atau sedulur papat, keseimbangan internal Pancer memengaruhi gerakan, pertahanan, dan serangan. Jika Pancer selaras, tubuh dan jiwa bergerak harmonis. Jika tidak, tindakan menjadi kacau dan tidak efektif.

Makna inti dari “As above, so below” adalah pentingnya keselarasan antara dunia batin dan dunia nyata, antara prinsip besar dan praktik sehari-hari. Dengan memahami hal ini, manusia belajar menyeimbangkan diri, menjaga keharmonisan, dan bertindak bijak dalam setiap langkah hidupnya.

Bagi pesilat, memahami filosofi bukan sekadar membaca teori atau modal bahan termenung, melainkan menyelaraskan tubuh, pikiran, dan jiwa agar gerakan menjadi efektif dan bijak. Filosofi mengajarkan  menyerang, menahan, dan bagaimana memanfaatkan tenaga lawan dengan tepat dimana hal tersebut yang tidak bisa dipelajari hanya dari latihan fisik. Dengan kata lain, berfilosofi membuat pesilat tidak sekadar “bergaduh”, tetapi bertindak dengan kesadaran, efisiensi, dan kendali penuh, sehingga setiap pukulan, tangkisan, atau langkah bukan hanya kuat, tetapi juga selaras dengan pusat kesadaran atau Pancer. Tanpa filosofi, bela diri hanyalah otot tanpa arah; dengan filosofi, bela diri menjadi seni dan jalan hidup.


Saturday, November 1, 2025

Kisah Burung Pipit dan Pelajaran dari Alam

Pada awal tahun 1950-an, Mao Zedong di China melancarkan satu kempen besar untuk meningkatkan hasil makanan dan membina masyarakat yang dianggap sempurna. Salah satu sasarannya ialah burung pipit, kerana burung ini dikatakan makan terlalu banyak biji padi.

Kerajaan pun menyeru rakyat membunuh burung pipit secara besar-besaran : dengan merosakkan sarang, memukul burung dengan alat sederhana, dan mengepung pohon supaya burung tidak dapat berehat.

Pada mulanya, jumlah burung pipit berkurang dengan cepat. Namun tidak lama kemudian, masalah besar muncul: tanpa burung pipit yang memakan serangga, jumlah serangga perosak meningkat dengan mendadak dan merosakkan tanaman padi.

Ironinya, usaha untuk menambah makanan akhirnya menyebabkan kebuluran besar, kerana hasil padi jatuh teruk.

Kisah ini menjadi contoh klasik tentang tindakan tanpa memikirkan keseimbangan alam yaitu  sesuatu yang nampak logik pada permukaan, tetapi membawa akibat yang tidak dijangka dan lebih buruk.

Daripada kisah ini, kita boleh ambil beberapa pengajaran penting:

  1. Setiap tindakan ada akibatnya – Kadang-kadang kita terlalu fokus pada satu masalah kecil tanpa nampak kesannya pada perkara lain. Keputusan yang tergesa-gesa boleh menimbulkan masalah baru.
  2. Jangan terlalu percaya pada logik mudah – Fikiran “hapuskan musuh tanaman supaya panen baik” nampak betul, tetapi sebenarnya sempit. Dalam hidup, kita perlu lihat gambaran besar, bukan hanya penyelesaian cepat.
  3. Keseimbangan itu kunci – Alam mempunyai harmoni sendiri. Jika satu unsur terganggu, sistem lain turut terjejas. Begitu juga dalam hidup: keseimbangan antara kerja, rehat, hubungan dan diri sendiri penting untuk ketenangan jiwa.
  4. Kesabaran lebih berkuasa daripada kekerasan – Kempen itu dilakukan dengan tergesa-gesa dan penuh paksaan, akhirnya membawa rugi. Dalam hidup, pendekatan yang lembut, sabar, dan bijaksana selalunya lebih berhasil.
  5. Berhati-hati dengan niat baik yang berlebihan – Niat untuk hasil lebih banyak memang baik, tetapi bila dilakukan tanpa pertimbangan, ia boleh membawa bencana. Niat baik mesti disertai kebijaksanaan dan kesedaran akan risikonya.

Bagi seorang pesilat, kisah burung pipit ini mengingatkan bahawa setiap tindakan mesti disertai dengan kesedaran dan pertimbangan yang mendalam. Dalam silat kita diajar untuk tidak menyerang secara membuta tuli kerana gerak tanpa faham keadaan boleh memakan diri. Begitu juga dalam hidup, pesilat sejati belajar membaca keseimbangan antara niat, tenaga, dan akibat. Bila alam diganggu, tenaga jadi kacau; bila manusia bertindak tanpa waspada, musibah datang. Maka dari kisah ini, pesilat diajar bahawa kekuatan sebenar bukan pada pukulan, tetapi pada kebijaksanaan membaca gerak sebelum bertindak.