Dalam
tradisi Jawa, manusia selalu ditemani oleh empat saudara gaib yang disebut sedulur papat: Kakang Kawah (air ketuban), Adi Ari-ari (plasenta), Getih (darah), dan
Puser (tali pusar). Keempatnya selalu menyertai manusia sepanjang hidup,
mengelilingi Pancer, yaitu inti jiwa atau pusat kesadaran diri. Konsep ini
memiliki makna yang sangat dalam dalam silat, bukan hanya sebagai seni
bertarung, tetapi juga sebagai jalan pembentukan manusia seutuhnya.
Pertama, filosofi
sedulur papat menekankan kesadaran tubuh. Tubuh bukan hanya wadah untuk
berkelahi, tetapi rumah bagi keempat sedulur. Ketika tubuh dirawat dan dijaga,
keseimbangan keempat unsur ini tetap harmonis, sehingga tenaga menjadi kuat dan
gerakan pesilat lebih sinkron. Kedua, kesadaran rasa sangat penting. Keempat
sedulur mewakili empat arah emosi manusia: senang, sedih, takut, dan marah.
Seorang pesilat belajar mengenali, menerima, dan mengendalikan emosi tersebut.
Jika emosi tertentu menguasai Pancer, gerakan silat bisa menjadi tidak
terkendali.
Selain itu,
kesadaran alam juga diajarkan. Silat menempatkan manusia sebagai bagian dari
semesta, dan sedulur papat mengingatkan bahwa manusia tidak pernah sendirian.
Unsur bumi, air, api, dan angin hadir sebagai penjaga yang ikut memengaruhi
gerakan. Gerakan silat pun mencerminkan harmoni keempat unsur ini. Terakhir,
kesadaran ruhani menjadi inti dari latihan silat. Pancer, pusat kesadaran,
menentukan bagaimana pesilat bertindak dalam menghadapi situasi. Bila sedulur
papat selaras dengan Pancer, pesilat memiliki insting tajam, pikiran jernih,
dan gerakan yang menyatu dengan keadaan.
Dalam menyerang, setiap unsur sedulur papat memiliki karakteristik sendiri.
- Kakang
Kawah (Air) melambangkan serangan yang lentur dan mengalir – konsep ‘flowing’-,
mengikuti celah lawan tanpa terlihat kaku.
- Adi Ari-ari (Bumi) melambangkan
serangan yang mantap dan berakar, memberi bobot penuh pada tendangan atau
bantingan – konsep ‘groundedness’.
- Getih (Api) melambangkan serangan cepat dan
penuh semangat, memberi nyawa pada gerakan, tetapi harus dikendalikan agar
tidak merugikan diri sendiri – konsep ‘energy’.
- Puser (Angin)
melambangkan serangan halus dan cepat yang mengguncang keseimbangan lawan –
konsep - leverage.
Semua serangan diarahkan ke Pancer, pusat kesadaran,
sehingga gerakan menjadi hidup, selaras, dan efektif.
Dalam pertahanan
pula, filosofi sedulur papat juga diterapkan.
- Kakang Kawah menjadi benteng yang
lentur dan adaptif, mengalirkan tenaga lawan sambil menjaga jarak.
- Adi Ari-ari
menjadi benteng stabil, menahan serangan dengan tubuh yang kokoh dan berakar.
- Getih menghadirkan benteng cepat, langsung membalas lawan untuk mematahkan niat
serangan mereka.
- Puser hadir dalam pertahanan yang halus dan cepat, menghindari
garis serang lawan dan mengganggu keseimbangan mereka.
Semua pertahanan ini
harus bermuara pada Pancer, sehingga setiap tindakan bukan sekadar reaksi
mekanis, tetapi keputusan bijak yang menghemat tenaga dan memaksimalkan hasil.
Dengan demikian,
sedulur papat lima pancer bukan sekadar mitologi atau cerita kuno, tetapi
panduan hidup dan silat. Tubuh dijaga, emosi dikendalikan, alam dihargai, dan
jiwa disadari. Serangan dan pertahanan yang selaras dengan Pancer membuat
pesilat bukan hanya kuat dan lincah, tetapi juga bijak dan harmonis. Silat,
melalui filosofi ini, menjadi jalan pembentukan manusia paripurna, bukan
sekadar seni bela diri.
As Above, So Below: Keselarasan Alam dan
Manusia
Frasa “As above, so below” mengajarkan bahwa apa
yang terjadi di alam semesta atau dunia yang lebih tinggi tercermin di dunia
manusia dan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pola, hukum, dan
keseimbangan yang berlaku di tingkat besar juga muncul di tingkat kecil.
Contohnya, tubuh
manusia adalah cermin dari alam semesta. Organ dan sistem tubuh bekerja selaras
seperti alam yang luas. Pikiran dan kesadaran batin juga tercermin dalam
perilaku nyata kita. Dalam filosofi silat atau sedulur papat, keseimbangan
internal Pancer memengaruhi gerakan, pertahanan, dan serangan. Jika Pancer
selaras, tubuh dan jiwa bergerak harmonis. Jika tidak, tindakan menjadi kacau
dan tidak efektif.
Makna inti dari “As above, so below” adalah pentingnya
keselarasan antara dunia batin dan dunia nyata, antara prinsip besar dan
praktik sehari-hari. Dengan memahami hal ini, manusia belajar menyeimbangkan
diri, menjaga keharmonisan, dan bertindak bijak dalam setiap langkah hidupnya.
Bagi pesilat, memahami filosofi
bukan sekadar membaca teori atau modal bahan termenung, melainkan menyelaraskan tubuh,
pikiran, dan jiwa agar gerakan menjadi efektif dan bijak. Filosofi mengajarkan menyerang, menahan, dan bagaimana memanfaatkan tenaga lawan dengan
tepat dimana hal tersebut yang tidak bisa dipelajari hanya dari latihan fisik. Dengan kata
lain, berfilosofi membuat pesilat tidak sekadar “bergaduh”, tetapi bertindak
dengan kesadaran, efisiensi, dan kendali penuh, sehingga setiap pukulan,
tangkisan, atau langkah bukan hanya kuat, tetapi juga selaras dengan pusat
kesadaran atau Pancer. Tanpa filosofi, bela diri hanyalah otot tanpa arah;
dengan filosofi, bela diri menjadi seni dan jalan hidup.