Puncak tertinggi pengetahuan adalah "sadar diri".. yakni kemampuan untuk menempatkan pendapat pada tempatnya. Kapan diucapkan, kapan disimpan, dan kapan diakui bahwa mungkin pendapat itu tak begitu penting. Bukan soal selalu benar.
Sunday, September 14, 2025
Saturday, September 13, 2025
Indepth
Dan memanglah sebahgian soal beladiri itu harus di ajarkan dengan cepat serta padat supaya dapat di manfaatkan untuk pertahankan nayawa dan maruah. Tapi sebahgian lagi daripadanya perlu ketelatenan (indepth) kalau kita berbicara tentang "Penguasaan ilmu".
Friday, September 12, 2025
Tu'maninah
In martial arts, mindfulness becomes a powerful tool for sharpening both body and mind. When a practitioner is fully present, every movement, breath, and stance is executed with clarity and intention rather than mechanical repetition. This heightened awareness allows one to sense internal states such as tension, fear, or hesitation and transform them into focus, calm, and precision.
Mindfulness cultivates self-control, helping a martial artist respond rather than react impulsively, and fostering a deeper understanding of personal strengths and weaknesses. Ultimately, it turns training into a journey of self-mastery rather than just physical skill. Mindfulness helps us listen with full attention, making others feel genuinely heard. It allows us to pause before reacting, choosing calmer and wiser responses. By being aware of our own emotions, we can better empathize with the feelings of others.
For Muslims who are not keen on mindfulness due to its buddhist undertones - it is worth stating that mindfulness is a universal concept discussed in humanistic and behavorial psychology and stripped off its buddhist attributes - the closest parallel to mindfulness is tumaʾninah, the state of inner calm and tranquility of the heart that arises from presence with Allah. Just as mindfulness invites us to be fully aware of the present moment, tumaninah calls us to be still, focused, and at peace in our worship and daily life. In martial arts or interpersonal relations, practicing tu'maninah helps a person act with clarity, patience, and balance reflecting both inner strength and spiritual grounding.
In hindsight, "tuma’ninah" in jurus is that little pause when you settle or complete your stance, 1-2-3-4-5 breathe, and allow the movement to “land” with full presence before flowing into the next. It’s not just a break it is the moment where body, mind, and intention align, ensuring the technique carries balance, strength, and meaning. Without tuma’ninah, a jurus becomes rushed and empty; with it, every motion is alive, deliberate, and filled with inner calm.
"Tidak tergopoh gapah dan gegabah dalam pergerakan kita. "
taken from my own post @Dunia Pencak Silat fb group
Thursday, September 11, 2025
In and out
“The outer fight" is brief, no matter how long it is.. the "inner fight" is lifelong nomatter how short it is... because the enemy before you sharpens the blade. The enemy within you sharpens the soul.
perlawanan zahir macam mana lama pun berdepan dengan musuh adalah sementara'. tapi perlawanan batin (bukan soal tazkiyatun nafs saja tapi termasuk amarah dan gelisah) macam mana pendek sekalipun saat itu, adalah hal berpanjangan.
Ilmu pisau
Mon masok kodhoe akalambih,mon masok kodhoe deddih..Mon tak deddih,pamasok pole
kalau nak masukkan (pisau serta jurus serang) mesti kasi habis, masuk mesti "jadi". Seandainya Tak jadi, ya masuk lagi..
- mengajarkan erti keteguhan mental penyerang-
Dalam dunia pencak silat (setidaknya kalau di hemat saya), pisau merupakan salah satu senjata tradisional yang memiliki nilai praktikal dan simbolik. Ringkasan tentang pisau dalam konteks pencak silat:
1• Latihan teknik: Untuk melatih pertahanan dan serangan dalam jarak dekat.
2• Kepekaan: Melatih refleks, timing, dan kepekaan energi lawan serta "daya tactile" yakni mempertajamkan kemampuan deria sentuhan serta "rasa" (knife flipping, kerambit flip dsb).
3• Simbolik: Kadang mewakili keberanian, ketajaman akal, atau kehormatan dalam budaya silat tertentu. Di dalam beberapa ritual simbolik di persilatan yang dipelajari saya, 3 pisau yakni belati, tanto jepun dan pisau dapur cap garfu merupakan barangan yang "perlu ada" di perkhatman ilmu tersebut.
Dalam banyak aliran silat, penggunaan pisau diajarkan bersama nilai tanggungjawab dan pengendalian diri. Apapun ceritanya, pisau bukan untuk menakutkan atau mencederakan secara sembarangan, tapi sebagai alat bela diri terakhir.
Tak dinafikan, Penggunaan pisau dalam konteks persekitaran "urban" perlu dilihat dari sudut realistik, sah dari segi undang-undang, dan kesedaran situasi. Atas alasan ini sendiri, ilmu pisau melewati beberapa perubahan dari sudut applikasi dan defensif (sewing machine stab and defence)
taken from my own post @Dunia Pencak Silat fb group

