Dalam perjalanan panjang Kuntao, tiap daerah memberi warnanya sendiri semacam air sungai yang tetap sama tapi rasanya beda di hulu dan hilir. Kuntau Dayak misalnya, dikenal dengan gaya yang membumi, gerakan pendek dan padat, seolah setiap langkah mengikat roh tanah di bawah kaki. Di Banjar, Kuntau cenderung lebih ringan, ada sentuhan ritme dan keluwesan khas pesisir, dengan permainan tangan yang cepat menyambar seperti ombak kecil yang tiba-tiba naik. Pada komunitas Tionghoa-Indonesia, Kuntao berkembang lewat jalur keluarga, membawa pola pukulan linear, sudut tajam, dan struktur tubuh mirip aliran selatan Tiongkok (China) ringkas tapi menggigit. Sementara di kepulauan Filipina, pengaruh Kuntao bertemu dengan tangkisan dan permainan senjata FMA, melahirkan corak yang kasar tapi cerdas: banyak entry yang memotong garis, disertai jebakan tangan yang membuat lawan seperti “tertelan” sebelum sempat paham apa yang terjadi. Semua ini tetap satu rumpun... beda rasa, tapi satu akar. I may be innaccurate in describing the kuntau variants but this is solely based on my observation only. Tapi inilah sedikit sebanyak apa yang saya tau dan pahami.
No comments:
Post a Comment