Friday, October 31, 2025

Jurus tak terlihat

Dalam dunia silat, tak semua pertarungan layak disambut dengan pukulan. Ada jurus yang lebih halus dari gerak tangan, lebih dalam dari langkah kaki yang disebut jurus tak terlihat. Jurus ini tak meninggalkan bekas pada tubuh lawan, tapi mengubah arah niatnya. Ia bukan berasal dari tenaga dalam, melainkan dari ketenangan dalam. Di sinilah lahir seni bicara yang menundukkan amarah, bukan menumpahkannya. Pendekar sejati tahu kapan lidahnya harus berbicara dan kapan diamnya menjadi perisai

Kalau di dunia beladiri, umumnya hal ini di istilahkan sebagai 'Verbal jiujitsu' dimana ia  bukan sekadar seni berkata, tapi seni membaca hati. Seorang pendekar yang benar mampu meredakan api tanpa menyentuh bara. Ia tidak membalas hinaan dengan balasan, tetapi dengan senyum yang menenangkan. Ia tahu, dalam setiap pertengkaran, yang dicari bukan kemenangan, melainkan keselamatan. Bila kata-kata bisa menjadi air yang memadamkan api, mengapa harus memilih menjadi angin yang meniupkannya lebih besar? Inilah taktik halus yang  membelokkan serangan tanpa melawan, mengendalikan arah tanpa terlihat menguasai.

Mengalah bukan kalah. Itu pelajaran yang sulit bagi mereka yang masih terikat oleh ego. Mengalah berarti memberi ruang bagi takdir untuk bekerja. Kadang mundur selangkah bukan tanda takut, tapi tanda tahu ke mana arus akan membawa kita. Pendekar yang bijak tidak mencari kemegahan dari pertarungan, tapi mencari ketepatan waktu untuk tidak bertarung. Ia hidup hari ini bukan karena lemah, tapi karena tahu bahwa esok masih banyak kebenaran yang perlu ditegakkan dengan kepala yang utuh dan hati yang jernih.

Dan pada tingkat yang lebih halus, jurus tak terlihat adalah kemampuan mendorong orang lain berbuat sesuai dengan niat mereka sendiri. Seperti angin yang membuat daun jatuh tanpa terlihat mendorongnya. Pendekar yang telah menempuh jalan batin tahu bagaimana membisikkan ilham tanpa memaksa, mengarahkan tanpa menuntun. Ia menanam niat baik di hati orang lain tanpa menuntut pujian. Itulah seni sejati, bukan mengalahkan lawan, tapi membuat dunia berputar menuju kebaikan tanpa seorang pun sadar bahwa dialah yang telah menggerakkannya.

“The supreme art of war is to subdue the enemy without fighting.”
kemenangan sejati adalah mengalahkan konflik sebelum ia terjadi, melalui strategi, diplomasi, dan pengendalian diri.

Thursday, October 30, 2025

“Peta Bukanlah Wilayah” (The map is not the territory)

Dalam ilmu NLP, ungkapan “peta bukanlah wilayah” (the map is not the territory) mengajarkan bahwa apa yang kita pahami tentang dunia hanyalah gambaran mental dan bukan kenyataan itu sendiri. Pikiran manusia bekerja seperti pembuat peta: ia menggambar jalan berdasarkan pengalaman, bahasa, keyakinan, dan emosi. Maka, setiap orang memiliki “peta” yang berbeda, walau berjalan di “wilayah” yang sama. Coba anda mengajak beberapa teman untuk mendeskripsi kan apa yang mereka tahu dengan diri anda dan anda evaluasikan sendiri tentang apa yang anda tahu tentang diri anda sendiri.. you will find different answers that will uprise you!! sama lah juga dengan silat.

Justru kesadaran ini melatih kita untuk tidak menganggap pandangan kita paling benar, melainkan memahami bahwa setiap orang hidup dalam versinya sendiri dari dunia yang nyata.

Dalam dunia silat, makna ini terasa lebih dalam. Jurus, langkah, dan bentuk adalah peta dimana ia membantu kita mengenal arah dan pola. Namun ketika menghadapi lawan, medan berubah, angin berpindah, dan niat manusia tak dapat diprediksi. Di situlah pesilat sejati belajar membaca wilayah: bukan sekadar menghafal jurus, tapi memahami rasa dari setiap gerak. Ia menyesuaikan diri, seperti air mengikuti wadahnya. Jurus hanya petunjuk; rasa adalah kenyataan.

Di dunia silat kata kata ini boleh di selaraskan dengan konsep “Jangan terikat pada bentuk, tapi pahami napas di baliknya.” Dalam latihan, peta itu penting, tetapi dalam kehidupan nyata, wilayahlah yang menentukan arah langkahmu. Begitu pula dalam perjalanan batin atau spiritual yakni pengetahuan hanyalah peta, pengalamanlah yang membawamu pada kebijaksanaan sejati. Pesilat yang bijak tahu bila membaca jurus, dan memberi response.

Effective transfer of knowledge

Effective transfer of knowledge happens when the giver does not just hand over information but shapes it so the receiver can truly understand, absorb, and apply it. This requires clarity, structure, and relevance, speaking in a way that connects to the learner’s background and current capacity. A teacher, mentor, or master must adapt the flow of knowledge, using examples, stories, and demonstrations that touch both the intellect and the feeling. Without this bridge, knowledge remains abstract, floating, and easily forgotten.

The receiver has an equal role in making the transfer effective. Openness, humility, and active practice are key. Knowledge is not merely collected, it is cultivated by questioning, testing, and living it. True transfer happens when the learner transforms knowledge into wisdom, something alive, usable, and embodied. In this way, the process is not one-directional but a living exchange, where both teacher and student are refined through the act of sharing.Just as the blade sharpens against the stone and the stone gains purpose from shaping the blade.

I see the effective transfer of knowledge as important because knowledge by itself has little value if it is not understood, applied, and carried forward. When ideas, skills, and wisdom are passed on clearly and meaningfully, they do not die with one person but continue to shape others and grow across generations. It ensures that what has been learned through effort, struggle, and experience does not remain hidden but becomes a living legacy that can guide, protect, and empower those who come after. Long gone are those days where 30 langkah (equivalent katas) that must be memorised "do-and-done-the-same-day-or-else".. Fine if you can commit to large data but what about those who cant? but yet, it is also not about babying your students but to accomadate various learning challenges to make other people's journey meaningful and bearable. DRILL BASED arts by us, solves this issue if you want to lean self defence and weapons.(but for sure it cannot solve other things like athlethic pursuit, kemantapan kesenian dll). 

But alas, i feel intentions nomatter how noble can be mistranslated and misconstrued. It will take time for people to understand the intent of pelajaran buah pukul-drill based art.     


Wednesday, October 29, 2025

Latihan satu tekel

Latihan satu tekel ini adalah cara untuk melatih agar tidak boros gerak (wasted movement) dan peka ruang (proprioception), karena seorang pesilat sejati mampu menjaga keseimbangan, serangan, dan pertahanan dalam ruang sekecil ubin lantai; di sini kau belajar menanam tapak kuda-kuda yang kuat - (tapi tidak terlalu lebar), mengatur nafas, membaca arah serangan, dan merespons dengan tepat tanpa melangkah keluar, sebab menurut guru "bila kita bisa menguasai satu tekel dengan penuh kesadaran maka gelanggang yang luas pun akan tunduk pada kendali gerak kita". 

Permainan drill satu tekel sangat sesuai untuk Close Quarter Combat (CQC), karena prinsipnya sama: bergerak dalam ruang sempit dengan efisiensi, tanpa membuang tenaga dan langkah. Dalam ruang sempit, musuh bisa datang dari arah depan, samping, atau bahkan dari dalam jarak pelukan. Drill satu tekel melatihmu menjaga kuda-kuda tetap kokoh, menggunakan siku, lutut, kepala, sapuan pendek, serta tangkisan rapat yang bisa dilepaskan tanpa bergeser jauh. Ini menanamkan kesadaran bahwa di jarak dekat, yang menentukan bukan kelincahan berlari, tetapi ketepatan, keluwesan, dan kecepatan refleks. Dengan begitu, satu tekel jadi medan latihan kecil yang memaksa pesilat berfikir seperti sedang di koridor sempit, di dalam kendaraan, atau di ruang kecil, tempat di mana CQC benar-benar terjadi.








Tuesday, October 28, 2025

Filosofi Nerimo

Nerimo (menerima) bukan berarti pasrah tanpa usaha, tapi sikap bijak untuk menerima hidup apa adanya dengan hati yang bersyukur. Bagi orang Jawa, kesempurnaan bukan sumber bahagia, karena hidup justru indah lewat kekurangan dan perubahan. Orang yang nerimo tahu bahwa segalanya punya waktunya sendiri contohnya, ada datang, ada pergi, ada tumbuh, ada layu  dan semua itu bagian dari keseimbangan alam. Dengan hati yang nerimo, manusia berhenti melawan kenyataan dan mulai berjalan seirama dengannya, menemukan damai dalam keterbatasan dan bahagia dalam kesederhanaan.

Pentingnya nerimo terletak pada kemampuannya menjaga ketenangan batin di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan. Saat manusia tidak bisa menerima keadaan, pikirannya terus melawan realitas maka munculah keadaan hati yang gelisah, marah, iri, dan kecewa. Secara idealnya, ketika seseorang nerimo, ia tidak lagi terjebak dalam keinginan yang tak ada habisnya. Ia bisa melihat hidup dengan lebih jernih, memilih tindakan dengan tenang, dan tidak mudah dikendalikan oleh emosi. Dalam falsafah Jawa, nerimo bukan berarti menyerah, tapi cara untuk hidup selaras dengan alam dan diri sendiri, agar hati tetap ringan meski hidup tak selalu sempurna.

Nerimo adalah pelajaran yang tidak pernah selesai ia sebuah latihan batin yang terus berjalan seumur hidup. Saya pun masih manusia biasa, kadang bisa menerima, kadang masih melawan keadaan. Namun justru di situlah maknanya: setiap kali kita belajar nerimo, kita belajar sedikit lebih dalam tentang sabar, tentang ikhlas, dan tentang cara berdamai dengan hidup. Tidak ada yang langsung sempurna; yang penting adalah terus mengingat bahwa ketenangan tidak datang dari dunia luar, tapi dari hati yang mau belajar menerima dengan tulus.

Ketika usia muda, kita sering ingin mengubah dunia; ketika agak berumur, kita belajar bahwa kebijaksanaan sejati bukanlah pada menguasai keadaan, tapi pada menerima apa adanya dengan hati tenang. Penuaan membawa kesedaran bahawa tidak semua perkara perlu diperjuangkan.. ada yang cukup untuk diterima, difahami, dan dilepaskan.

Dengan bertambah usia (at the rate im feeling now), nerimo bukan lagi tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan jiwa, hasil dari pengalaman panjang antara harapan, kehilangan, dan penemuan makna sebenar kehidupan.

Dalam hidup, nerimo adalah jalan yang mengajarkan kita lebih dari sekadar sabar. Ia melatih hati menjadi ikhlas, menerima hasil tanpa penyesalan berlebihan. Ia mengajarkan rasa syukur, menghargai apa yang dimiliki, dan menumbuhkan keteguhan saat menghadapi cobaan. Dari nerimo, lahir kebijaksanaan untuk melihat hikmah di balik kesulitan, kesederhanaan hidup yang menenangkan, dan kedamaian batin yang tidak mudah terguncang. Ia mengajarkan hadir sepenuhnya pada saat ini, menahan gelisah masa lalu dan takut masa depan, serta mengendalikan emosi agar hati tetap ringan. Seperti sungai yang tenang, nerimo mengalirkan kehidupan dengan damai, mengajarkan kita menari seirama dengan arus dunia, tanpa memaksakan kehendak, namun selalu selaras dengan rasa dan nurani.Hal ini adalah filosopi yang diterapkan sambil mempelajari meditasi untuk mendapatkan perubahan optimal.  


Surabaya kota pahlawan

Surabaya memiliki peranan penting dalam sejarah dan perkembangan silat di Nusantara, terutama di Jawa Timur. Kota ini dikenal bukan hanya sebagai pusat perdagangan dan perjuangan kemerdekaan, tetapi juga sebagai tempat bertemunya berbagai budaya dan aliran bela diri. Dari Jawa, Madura, Bugis, Tionghoa hingga Arab, semua memiliki pengaruh yang membentuk corak silat Surabaya yang khas. Letaknya yang strategis di pelabuhan besar menjadikan Surabaya sebagai tempat percampuran teknik, filosofi, dan karakter dalam dunia silat.

Banyak pendekar besar lahir atau pernah berkiprah di Surabaya. Di kawasan Ampel dan Kembang Jepun, silat tumbuh beriringan dengan dakwah Islam yang dibawa oleh para kiai dan santri pejuang. Gerak silat dianggap bukan sekadar seni bertarung, tetapi juga jalan spiritual untuk membentuk akhlak dan ketahanan diri. Sementara di pesisir seperti Kenjeran, Peneleh, dan Tambak, berkembang gaya silat yang keras dan cepat, dipengaruhi oleh kehidupan para pelaut dan suasana pelabuhan yang keras dan dinamis.

Bagi masyarakat Surabaya, silat bukan hanya alat pertahanan diri. Ia adalah simbol harga diri, keberanian, dan ketegasan. Watak arek Suroboyo yang keras kepala namun jujur dan setia tampak dalam gaya bertarung mereka. Pada masa penjajahan, para pesilat turut menjadi tulang punggung perjuangan rakyat, mengajarkan bela diri untuk mempertahankan tanah air. Semangat pantang mundur dan keberanian menghadapi siapa pun telah menjadi napas silat Surabaya hingga kini.

Selain itu, Surabaya memiliki sejarah panjang sebagai pusat dakwah Islam di Jawa Timur. Kawasan Ampel menjadi tempat tinggal para ulama dan santri yang menyebarkan pendidikan agama serta nilai-nilai sosial kepada masyarakat kota. Tradisi pesantren, pengajian, dan zikir kolektif sudah berkembang sejak ratusan tahun lalu, menjadikan Surabaya sebagai salah satu kota yang tidak hanya kuat secara ekonomi dan politik, tetapi juga kaya secara spiritual. Peran ini sering terlupakan karena publik lebih fokus pada sejarah perang dan perlawanan, padahal kontribusi budaya dan agama inilah yang membentuk karakter kota hingga hari ini.

Hari ini, Surabaya tetap diakui sebagai salah satu pusat silat terbesar di Indonesia. Berbagai perguruan besar seperti PSHT, Pagar Nusa, Perisai Diri, dan Tapak Suci tumbuh subur di kota ini. Dari Surabaya, silat terus berkembang bukan hanya sebagai seni bertarung, tetapi juga sebagai jalan pembentukan watak, kedisiplinan, dan kehormatan diri.

Tradisi Madura di Surabaya

Budaya Madura memiliki pengaruh yang kuat di Surabaya. Kedekatan geografis dan sejarah panjang hubungan antara Pulau Madura dan pesisir timur Jawa menjadikan masyarakat Madura bagian penting dari wajah sosial Surabaya. Sejak berabad-abad lalu, banyak orang Madura datang ke Surabaya untuk berdagang, bekerja, dan menetap. Dari pertemuan itu lahirlah perpaduan yang menarik antara ketegasan dan keberanian orang Madura dengan semangat terbuka dan keras kepala khas arek Suroboyo.

Banyak pendekar Madura menetap di Surabaya dan membuka perguruan silat. Mereka memperkenalkan gaya silat Madura yang cepat, keras, dan penuh keberanian. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai kehormatan, solidaritas, dan kejujuran orang Madura juga ikut mewarnai karakter masyarakat Surabaya.

Selain silat, masyarakat Madura membawa tradisi keagamaan dan kesenian yang kuat. Peringatan Maulid Nabi, pembacaan sholawat diba’, hadrah, dan ratib kini menjadi bagian dari kehidupan spiritual kota ini. Kawasan seperti Ampel, Tambak Wedi, dan Kenjeran masih mempertahankan suasana religius yang mengingatkan pada kampung halaman di Madura.

Dalam hal kuliner, pengaruh Madura tampak jelas. Sate Madura, soto Madura, dan lontong kupang bukan lagi sekadar makanan khas, melainkan identitas kuliner Surabaya. Bahkan gaya bicara masyarakatnya, dengan logat yang tegas namun bersahabat, banyak dipengaruhi oleh bahasa Madura.

Tradisi Madura telah menjadi bagian dari jiwa Surabaya. Ia membentuk karakter masyarakatnya yang keras tapi setia, berani namun jujur, tegas tapi hangat. Nilai-nilai inilah yang membuat Surabaya bukan hanya dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga sebagai kota dengan semangat Madura yang hidup dan menyatu dalam denyut kehidupannya.

Saya merasa amat bersyukur diberi peluang untuk berlatih di tanah leluhur, tempat di mana setiap langkah, setiap gerak, dan setiap napas terasa mengalir bersama sejarah dan energi para pendahulu. Di sini, bukan sekadar teknik yang saya pelajari, tetapi juga nilai, filosofi, dan semangat yang diwariskan secara turun-temurun. Setiap sudut tanah ini seolah menyimpan kisah para pendekar dan guru yang membimbing generasi demi generasi, dan saya diberi kesempatan untuk menyerapnya, memahami jejak mereka, serta menumbuhkan keberanian dan ketenangan di dalam diri.

Sebagai anak diaspora berketurunan Indonesia - meskipun bukan orang Madura -, berlatih di tanah leluhur setelah sekian lamanya membuat saya menyadari bahwa ilmu bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara saya dan leluhur yang telah berjuang, berdoa, dan membentuk identitas budaya ini. Kesempatan ini adalah hadiah yang tidak ternilai, yang mengajarkan saya rasa hormat, kesabaran, dan rasa syukur yang mendalam setiap kali melangkah, mempraktikkan, dan meresapi setiap ajaran yang telah diwariskan ke saya sebagai penerus.

 






Monday, October 27, 2025

Filosofi Bertenun

In silat, bertenun, menenun or in English we say weaving, the method where we sew by interlacing two sets of threads at right angles In silat sense, it is the art of binding motion, timing, lineage, and spirit into one living fabric: the stance is the warp and the langkah the weft, interlacing masuk–keluar, kanan–kiri, atas–bawah so the fighter flows rather than moves in lines; timing and energy are woven like a loom’s rhythm, keras–lembut, cepat–lambat, creating strength and deception; each jurus and each teacher is a thread.

Weaving in silat can be seen as the subtle interplay between jurus, langkah, punch, and parry, where each element is like a thread crossing the other like as if the jurus provides the design, langkah lays the foundation, the punch drives force like the shuttle through the loom, and the parry is the counter-thread that locks and balances the weave and together forming a seamless fabric of motion where attack and defense, advance and retreat, hardness and softness, flow into one continuous pattern rather than isolated techniques.

Weaving as a mindset

Weaving is also not confined to the physical skills but also a matter of mindset. With the Guru as the weaver who ties past to present so the ‘kain of silat’ endures; and just as a cloth shows its pattern outwardly while hiding its knots within, silat too weaves zahir and batin, outer technique and inner doa, into harmony thus weaving is not just movement but the very principle that makes silat whole.In this way, weaving becomes more than a metaphor as it is the very principle of how silat breathes, how attack and defense are never truly separate, and how the art remains resilient, supple, and whole, just as woven cloth gains its strength from the crossing of many threads into one enduring fabric.

when we say weaving in silat, it means not just the act of moving, but the skillful interplay of jurus, langkah, punch, and parry, making them flow into one fabric of motion... strong, flexible, and continuous.

 

Saturday, October 25, 2025

Menguak Konsep lama pengeras/Mahar dalam ilmu silat traditional

Mahar bukan berarti "jual beli ilmu", tapi sering di jadikan ujian awal murid – apakah serius atau hanya lip service.

Dalam tradisi tertentu (terutama silat yang terhubung dengan tasawuf dan tarekat), ilmu tidak boleh dimahar secara uang, tapi melalui khidmat dan pegabdian terhadap Syeikh/Guru.

Sebagian guru zaman sekarang menyederhanakan mahar menjadi seikhlasnya, atau sekadar syarat administratif.

Zaman moderen sering dikaitkan dengan “Fees” untuk kesinambungan dan survival Sang Guru atau perguruan. Di sini pemaknaan “Fees” hanya sebatas konsep ilmu ekonomi moderen dimana hukum supply-demand, kelangsungan pelajaran (teachers transport fees, sewa tempat dan duit penat), dan “cari makan” Namun di pendapat penulis.. ini tak begitu sama dengan Pengeras/Mahar dalam artikata tradisional. Fees can give you the access to training sementara Pengeras adalah spesifik (But that is just my opinion).

Bentuknya

1. Wang/uang: nominalnya tetap atau seikhlasnya, kadang dengan angka ganjil atau keramat (786, 111,79 dsb..) nombor yang terhubung dengan numerology arab (another topic for another time)

2. Barang simbolik: keris kecil, batu akik, minyak tertentu, bunga.

3. Tirakat: puasa, wirid, tapa, semedi sebagai bagian dari mahar non-materi tebus ilmu dengan lelaku spiritual.

4. Buah tangan Barang Harian: Kopi, Beras, Ayam. Makanan

Mindset orang dulukala

Biasanya, pengeras ini dipercaya untuk “mengunci” atau “mengaktifkan” energi dari ilmu tersebut, supaya tidak luntur atau mudah hilang.

Mencari barokahmemudahkan urusan guru. Logiknya di sini, jika seseorang guru senang hati dengan murid, maka perjalanan pelajaran pun lancar. Senang hatinya kerana menandakan murid datang bukan dengan tangan kosong dan penuh adab

Di Nusantara (even Philippines), mahar ilmu adalah sebuah bentuk penghargaan, syarat, atau persembahan yang diberikan oleh murid kepada guru sebagai pengganti atau pelengkap dalam proses pewarisan ilmu.

On a personal sidenote, di konteks moderen sebagai doctor, hal ini didapati juga didalam beberapa segmen masyarakat Indonesia di Singapura tak kira PR, Work Permit, EPass.. “yang penting ada buah tangan sebelum Perawatan” (kalau after tu ‘Reward’ la kan..) kerana menganggap “Dokter sebagai wasilah” lucunya, Kadang bukan saja duit tapi bentuk Rendang dan buah buahan . Bahkan Chindo-Sing (Cina Indonesia-Singaporean) pun masih ada yang percaya konsep semacam ini, memegang kepada : "Adat menghormati" sosok Guru, Ustaz, Guru Silat dan Doctor ..Maka dapat disimpulkan, dalam tradisi keilmuan silat dan waemah kebatinan dan perobatan pun, Mahar menjadi medium simbolik yang menguatkan penerimaan ilmu.

Catatan Pereng Sabreng

Friday, October 24, 2025

Tokoh Madura : Sultan R. Abdul Kadirun Cakra Adiningrat II

Sultan R. Abdul Kadirun Cakra Adiningrat II, penguasa Bangkalan pada awal abad ke-19, dikenang sebagai seorang pemimpin bijak yang mengabdikan hidupnya untuk rakyat dan agama. Naik tahta pada tahun 1815, beliau tidak hanya dikenal karena peran militernya dalam berbagai ekspedisi, tetapi juga karena kebijakan sosialnya yang membuka Masjid Kraton agar bisa digunakan masyarakat umum, menjadikannya simbol kebersamaan antara bangsawan dan rakyat. Prinsip kepemimpinan beliau berakar pada falsafah Asta Brata yakni delapan sifat utama seorang raja yang dermawan, tegas, penuh kasih, dan berani sehingga tak heran jika jejaknya masih terasa hingga kini. Makamnya di Pasarean Congkop, Bangkalan, tetap menjadi tempat ziarah dan penghormatan, bukti warisan beliau sebagai sosok yang tidak hanya berkuasa, tapi juga membimbing.

Sultan R. Abdul Kadirun Cakra Adiningrat II bukan sekadar penguasa keraton, tetapi juga teladan spiritual bagi masyarakat Madura. Dengan keberanian yang ditempa lewat peperangan melawan kekuatan asing, ia membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang tidak hanya duduk di singgasana, tetapi juga berdiri di garis depan. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau menjaga kedekatan dengan rakyat, menjadikan istana bukan dinding pemisah, melainkan pusat ilmu, budaya, dan dakwah Islam. Sosoknya mengajarkan bahwa seorang raja sejati bukan hanya ditentukan oleh mahkota di kepalanya, melainkan oleh kemampuannya menyalakan cahaya keadilan, welas asih, dan keberanian di hati rakyatnya. Hingga kini, nama beliau masih disebut dalam sejarah Madura sebagai lambang kepemimpinan yang selaras antara kekuasaan duniawi dan amanah Ilahi.

Memanglah tidak ditemukan catatan tertulis yang secara langsung menyebut beliau sebagai pesilat dalam arti guru atau pendekar silat seperti yang kita pahami sekarang. Tetapi, sebagai seorang bangsawan Madura pada abad ke-18 hingga 19, hampir dapat dipastikan beliau mendapat pendidikan jasmani dan bela diri sejak muda.

Tradisi keraton Madura sangat erat dengan pencak silat, karena silat bukan hanya seni tempur, melainkan juga bagian dari pendidikan kepemimpinan, disiplin, dan pembentukan watak. Seorang calon pemimpin keraton biasanya ditempa dalam olah senjata, kuda, dan silat tangan kosong agar siap memimpin pasukan. Ditambah lagi, Sultan Kadirun pernah memimpin laskar dalam beberapa pertempuran, yang menuntut penguasaan taktik perang sekaligus keterampilan bela diri.

Jadi, walaupun beliau tidak dikenal sebagai “pendekar” dalam tradisi rakyat, bisa diyakini Sultan Kadirun adalah seorang pesilat dalam pengertian keraton: seorang raja prajurit (raja ksatria) yang menguasai silat sebagai bagian dari jati diri kepemimpinannya.





Photo di ambil dari salah satu murid saya yang ke makamnya Cakra Adiningrat II


Thursday, October 23, 2025

Tenaga dalam di aspek Niat dan perbuatan

Dalam tubuh manusia, ada dua jenis tenaga, tenaga kasar dan tenaga halus. Tenaga kasar menggerakkan otot dan tulang, lahir dari makanan, latihan, dan pernapasan. Sedangkan tenaga halus berasal dari niat, dari keinginan batin yang paling dalam. Keduanya berpadu di titik yang disebut rasa, di sanalah ilmu tenaga dalam sejati lahir. Ketika seseorang menyalurkan niat dengan kesadaran penuh, ia menggerakkan sesuatu yang lebih halus dari otot, gelombang batin. Gelombang ini mengalir melalui napas, menyatu dengan aliran darah, lalu keluar lewat pandangan, sentuhan, bahkan diam. Maka, pendekar sejati tak perlu mengeraskan tubuh, cukup mengeraskan niat dan meneguhkan rasa. Tenaga dalam bukanlah soal kuat atau sakti, melainkan soal selaras. Jika niatmu bimbang, tenaga pun tercerai. Jika niatmu lurus dan jernih, tenaga mengalir tanpa hambatan. Seorang guru pernah berkata, ketika niatmu tak lagi untuk menaklukkan, tapi untuk menyatu, barulah tenaga dalammu menjadi kehidupan itu sendiri.

Segala sesuatu di alam bermula dari niat, bahkan sebelum gerak, kata, atau napas. Niat adalah benih energi, dan setiap benih akan menumbuhkan buah sesuai sifatnya. Niat yang lahir dari kasih, welas, dan keikhlasan akan memancar menjadi tenaga murni, bersih, lembut, namun kuat seperti cahaya matahari pagi. Ia menyembuhkan, menenteramkan, dan melindungi. Inilah tenaga yang disebut para guru sebagai daya nurani atau tenaga kasih semesta. Bila benihnya baik, tumbuhlah tenaga murni; bila busuk, lahirlah getaran hitam. Niat yang lahir dari kasih, ikhlas, dan doa akan berubah menjadi tenaga murni yang lembut namun kuat. Ia mengalir sebagai daya penyembuh, penenang, dan pelindung. Tapi niat yang timbul dari iri, dendam, atau kebencian memancar sebagai ‘ain, pandangan berat yang membawa lelah, sakit, dan kesialan. ‘Ain bukan sekadar mata yang jahat, tapi niat yang tercemar dengan harsat buruk yang memancar lewat pandangan, kata, dan rasa.

Namun begitu, niat tidak menghalalkan cara. Banyak yang tersesat karena merasa niatnya baik, padahal caranya menyalahi adab dan tidak sejalan dengan keseimbangan alam. Pesilat sejati tidak hanya menjaga niatnya, tapi juga menimbang langkahnya. Sebab tenaga yang lahir dari niat baik tapi dilakukan dengan cara yang salah akan menjadi bumerang bagi diri sendiri. Maka sejatinya latihan silat bukan sekadar menguatkan jurus, tapi menghaluskan niat dan menuntun cara, agar tenaga yang keluar dari diri kita menjadi cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar. 

Seorang pendekar sejati tidak cukup hanya memiliki niat baik. Niat harus selaras dengan pikiran yang jernih dan budi pekerti yang luhur. Bila niat baik bertemu dengan pikiran yang gelap atau cara yang sembrono, tenaga yang lahir bisa menyesatkan, meski asalnya murni. Begitu pula, budi pekerti menjadi pengikat yang menahan diri dari keserakahan, amarah, dan kesombongan. Ketika niat, pikiran, dan budi pekerti selaras, setiap gerak menjadi doa, setiap tenaga menjadi rahmat, dan setiap langkah menjadi pelindung, bukan hanya bagi diri sendiri, tapi bagi orang lain dan alam semesta. 

Tari Gambu - Tarian Perajurit

Ketika orang berbicara tentang Majapahit, sering yang disebut adalah Raden Wijaya, Gajah Mada, atau Hayam Wuruk. Namun di balik berdirinya kerajaan besar itu, ada sosok dari tanah Madura yang perannya sangat menentukan: Arya Wiraraja. Namanya mungkin tidak sepopuler tokoh-tokoh Majapahit lainnya, tetapi jejaknya begitu penting sehingga tanpa dia, Majapahit mungkin tidak pernah lahir.

Asal-Usul dan Kiprah di Singhasari

Arya Wiraraja berasal dari Sumenep, Madura Timur. Sejak muda ia dikenal sebagai bangsawan yang cerdas, berwibawa, dan memiliki jaringan luas dengan pelaut serta pedagang. Kemampuannya membuat Raja Kertanegara dari Singhasari mengangkatnya sebagai Patih di Sumenep. Dari Madura, ia tidak hanya menjaga wilayah, tetapi juga mengembangkan perdagangan dan hubungan diplomatik dengan daerah lain.

Penolong Raden Wijaya

Tahun 1292 menjadi titik balik. Singhasari digulingkan oleh Jayakatwang dari Kediri. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri untuk menyelamatkan diri. Dalam pelariannya, ia menuju Madura dan bertemu Arya Wiraraja. Di sinilah kebesaran hati dan kecerdikan seorang Madura terlihat: Arya Wiraraja memberi perlindungan, pasukan, dan strategi kepada Wijaya. Ia tidak hanya sekadar menolong, tetapi juga merancang jalan agar Wijaya bisa bangkit kembali.

Strategi yang Melahirkan Majapahit

Dengan dukungan Arya Wiraraja, Raden Wijaya membuka hutan Tarik yang kemudian menjadi cikal bakal Majapahit. Saat pasukan Mongol tiba untuk menghukum Jawa, Wijaya dan Wiraraja dengan cerdik memanfaatkan mereka untuk menjatuhkan Jayakatwang. Setelah Kediri runtuh, pasukan Mongol pun diusir keluar dari Jawa. Dari kemenangan inilah, Majapahit berdiri pada tahun 1293. Dalam naskah Pararaton, Arya Wiraraja disebut sebagai “Patih Besar Madura” yang perannya tak terbantahkan.

Warisan Seorang Visioner

Sebagai imbalan, Arya Wiraraja diberi wilayah luas di Jawa Timur dan tetap memimpin Madura. Lebih dari sekadar pejabat, ia adalah arsitek politik yang menjembatani runtuhnya Singhasari dengan lahirnya Majapahit. Bagi masyarakat Madura, ia adalah simbol kebanggaan: bukti bahwa orang Madura bukan hanya keras di medan perang, tetapi juga cerdas dalam diplomasi dan berperan dalam sejarah besar Nusantara.

Madura dalam Cermin Majapahit

Kisah Arya Wiraraja adalah cermin watak Madura: berani, setia, dan visioner. Ia menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya pada pedang, tetapi juga pada kecerdikan strategi. Dari kampung pesisir di Sumenep, namanya kini terpatri dalam sejarah Nusantara sebagai tokoh kunci yang melahirkan salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Ia menunjukkan bahwa kekuatan bukan hanya pada pedang, tetapi juga pada kecerdikan strategi. Dari kampung pesisir di Sumenep, namanya kini terpatri dalam sejarah Nusantara sebagai tokoh kunci yang melahirkan salah satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara. Bagi orang Madura, ia bukan sekadar tokoh masa lalu, melainkan teladan bahwa harga diri dan kejayaan bisa diraih lewat keberanian mengambil sikap dan kebijaksanaan membaca zaman.

Sebagaimana pepatah Madura mengatakan:
“Mèngko’ bisa ta’ bisa, sèngko’ è Madura.”
(Apalagi bisa atau tidak bisa, aku tetap orang Madura.)

Pepatah ini menggambarkan jiwa pantang menyerah, berpegang pada kehormatan, dan setia pada asal-usul. Nilai itulah yang hidup dalam diri Arya Wiraraja, dan tetap mengalir dalam darah orang Madura hingga hari ini.

 

Monday, October 20, 2025

Legowo

Meskipun akar silat saya berasal dari Madura, saya pernah menekuni filosofi Jawa yang kaya dengan kearifan batin. Dari Madura saya belajar keberanian, keteguhan, dan kekuatan tubuh yang nyata. Dari filosofi Jawa saya belajar menenangkan hati, membaca gerak dan niat, serta menghargai keselarasan antara ego dan alam semesta. Perpaduan ini mengajarkan bahwa seorang pendekar tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga bijak dalam jiwa, mampu bergerak dengan penuh kesadaran dan menerima kenyataan dengan lapang dada. Dalam pengalaman saya, ini adalah pelajaran dualisme “Hard and Soft” yang dibawa oleh Mas Mochamad Amien, yaitu kemampuan bertindak sesuai situasi. Orang Madura terkenal keras, orang Jawa lembut. Manusia matang tidak harus terus-menerus keras atau selalu lemah lembut, tetapi tahu kapan harus menegaskan diri dan kapan harus menundukkan ego.

Legowo bukan sekadar kata. Ia adalah keadaan hati yang menerima, tanpa menolak kenyataan, tanpa harus menang dalam setiap perselisihan. Dalam silat, seorang pendekar yang legowo tidak berarti pasif atau lemah. Ia memahami bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, dan energi yang dihabiskan untuk menolak kenyataan seringkali lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk menerima dan bertindak bijaksana. Filosofi legowo menuntun kita untuk melihat kekalahan bukan sebagai aib, tetapi sebagai guru. Saat rencana tidak berjalan sesuai kehendak, saat manusia lain bertindak melawan harapan kita, legowo muncul sebagai kekuatan batin yang menyeimbangkan ego. Inilah seni menahan diri dari amarah, iri, atau kekecewaan yang berlebihan.

Dari sudut psikologi modern, legowo sejalan dengan konsep emotional regulation, yaitu kemampuan mengelola emosi agar tidak menguasai tindakan kita. Seorang pendekar yang legowo mampu menyadari kelemahan dan kekuatan diri, memahami batas kemampuan, dan menyesuaikan langkahnya dengan bijaksana. Dengan kesadaran ini, gerakan tubuh dan hati selaras, keputusan menjadi tepat, dan diri tidak terguncang oleh hasil yang tidak sesuai harapan.

Dalam perspektif Islam, legowo dapat didekati melalui sabar, tawakkul, dan ridha. Sabar tercermin saat seseorang mampu menahan diri dari amarah, kecewa, atau dendam ketika menghadapi cobaan. Tawakkul mengajarkan kita melakukan usaha terbaik, namun menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Ridha adalah keadaan hati yang menerima takdir Allah dengan lapang dada. Kombinasi ketiganya menjadikan legowo sebagai kemampuan menerima kenyataan, mengendalikan ego, dan tetap bersikap baik dalam setiap kondisi.

Legowo juga mengajarkan bahwa hidup adalah aliran, bukan pertarungan terus-menerus. Seorang pendekar yang legowo tetap bertindak, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya di tangannya. Hatinya tidak terguncang oleh pujian atau celaan. Ia berjalan dengan ringan, tetapi tegas. Ia menyadari bahwa melepaskan bukan berarti kalah, tetapi memberi ruang bagi pertumbuhan, kebijaksanaan, dan kedamaian yang sejati. Inilah inti dari jalan pendekar: menguasai tubuh, menenangkan hati, dan menyelaraskan diri dengan dunia tanpa kehilangan diri sendiri.

Maka di akhir tulisan ini, saya ajak pembaca untuk berhenti sejenak. Renungkan langkah anda hari ini, gerak hati dan tindakan anda. Di tengah kerasnya dunia dan lembutnya hati, di mana kita berdiri? Apakah kita menegaskan diri terlalu kaku, atau melunak tanpa arah? Apakah kita menerima kenyataan dengan bijak, atau terus menolak dengan sia-sia? Sebab kesadaran itu, seperti jurus silat yang sempurna, baru lahir ketika kita mampu menatap diri sendiri tanpa menipu diri, dan memahami posisi kita di tengah aliran kehidupan.

Saturday, October 18, 2025

Beyond Perfection: The Way of Harmony in Silat

Every silat journey begins with a question: what are we truly seeking? Some say victory, others say mastery, and some even say perfection. Yet the deeper we train, the more we see that perfection is not a destination but a shadow on the horizon. The closer we walk toward it, the further it seems to move away. Still, we must not stop striving. The effort itself sharpens our movements, steadies our breathing, and strengthens our spirit. If we stop seeking to improve, we begin to weaken. If we continue, even while knowing perfection cannot be caught, we keep growing without end.

Silat also teaches us to remain humble. There are moments in training when we must pause, not from weakness, but from awareness. In those still moments we reflect on what we already know: a strike we have learned, a step we have mastered, or a mistake that has taught us a lesson. Then we hold it against what we do not yet know.. the deeper wisdom passed down through generations. This awareness does not make us small. It grounds us, for true strength lies not in claiming complete knowledge, but in recognizing how much still lies beyond reach.

The seeker of knowledge must never claim to have reached its end, for knowledge has no shore. What we hold is only a drop, while the ocean stretches beyond sight. To keep walking the path is better than to boast of arrival, for the one who walks is alive in his learning, while the one who thinks he has arrived is already lost.

Here we are reminded of the words of Imam Zarnuji in Alim muta'lim, who said: “Knowledge is not attained except through six things: intelligence, desire, patience, sufficiency, the guidance of a teacher, and length of time.” The path of silat follows the same law. Without desire, we cannot endure hardship. Without patience, we cannot overcome struggle. Without a teacher, we lose direction. Without time, our roots remain shallow.

When we train with this awareness, we see that what we know will always be smaller than what remains hidden. This humility does not weaken us but it completes us. It is in the balance between striving and stillness, between knowledge and mystery, that we move past perfection. Perfection is stiff and unchanging, but harmony is alive. Harmony is when body, mind, and spirit move as one. It is when the silat player no longer fights against the world but flows with it. In that state we are not perfect, but we are whole. And in silat, wholeness is greater than perfection, for it is unity with the rhythm of life itself.

Friday, October 17, 2025

Kecenderungan Murid

Dalam dunia silat memang terdapat bermacam-macam kecenderungan murid, ibarat aliran sungai yang banyak cabangnya tetapi berpunca dari satu sumber yang sama yaitu niat untuk mempertahankan diri dan menegakkan martabat insan.

Antara kecenderungan yang sering terlihat:

Kecenderungan Tempur dan beladiri – Fokus kepada teknik bertempur, kecekapan gerak, kekuatan fizikal, dan strategi perlawanan. Biasanya ini lahir dari keperluan mempertahankan diri atau sistem keamanan zaman dahulu.*

Kecenderungan Olahraga (Sportif) – Menjadikan silat sebagai sukan, dengan peraturan, sistem markah, dan pertandingan. Di sini silat menjadi medium disiplin, kesihatan, dan semangat juang.*

Kecenderungan Tari dan Adat (Estetik dan Budaya) – Menekankan keindahan gerak, irama langkah, dan makna simbolik dalam bunga silat. Ini mencerminkan nilai seni, budaya, dan jati diri bangsa.*

Kecenderungan Kerohanian (Tasawuf dan Kebatinan) – Melihat silat sebagai jalan pembersihan diri dan penyatuan antara jasmani, rohani, dan alam. Di sini gerak menjadi zikir, dan diam menjadi tafakur.*

Kecenderungan Perobatan dan Tenaga Dalam (Penyembuhan) Ada juga di beberapa perguruan di mana silat menjadi alat memahami tubuh, tenaga, dan keseimbangan. Ada sebahagian guru silat yang juga tabib kerana faham “gerak” di dalam dan di luar diri. Mengingat kembali di zaman kampung, guru silat juga dianggap sebagai ahli perobatan dan tak sedikit juga dari mereka itu guru agama.*

Harus saya tegaskan, menurut almarhum guru kami, di konteks murid dewasa tidak ada kecenderungan yang salah, yang salah itu apabila sang guru :

1. Tidak menempatkan bakat murid di tempat yang benar.

2. Memaksa murid untuk "Supaya harus bisa". (mengingatkan tak semua murid lahir cerdas). Bagaimana pula kalau muridnya kelahiran serba kekurangan upaya (bukan soal OKU 100% tapi tidak dapat membuat tendangan kerana cedera atau kelahiran 'congenital' menurut beliau seperti itu juga layak mendapat pelajaran silat). 

3. Memaksa diri untuk meberikan materi ke murid luar dari jangkauan ilmu nya sendiri (tidak jujur).

*pecahan yang lebih mendetail di atas boleh di lihat di post saya yang lalu  

Tugas seorang guru sebenarnya lebih dari sekadar mengajar. Guru yang baik bukan hanya mahu muridnya pandai, tetapi mahu mereka menjadi diri sendiri dengan cara yang terbaik. Setiap murid mempunyai bakat dan kecenderungan yang berbeza. Ada yang cepat memahami gerak, ada yang sabar dan tekun, ada juga yang kuat semangat tetapi lembut hatinya. Di sinilah peranan guru, iaitu mengenal kekuatan setiap murid dan membimbing mereka ke arah yang sesuai.

Dalam silat, hal ini sangat penting. Ada murid yang lebih sesuai dengan latihan tenaga dan ketangkasan, sementara yang lain lebih menonjol dalam seni bunga atau kefahaman makna gerak. Jika guru tersalah menempatkan murid, pelajaran itu akan menjadi berat bagi mereka. Tetapi jika guru tahu menyesuaikan cara mengajar dengan watak murid, maka pelajaran itu akan menjadi ringan dan menyenangkan. Murid belajar dengan semangat, bukan kerana terpaksa.

Seorang guru sejati tidak mengharapkan semua muridnya menjadi sama. Sebaliknya, dia mahu setiap murid berkembang dengan cara masing-masing. Itulah tanda guru yang benar, yang mampu melihat potensi dan membimbingnya dengan sabar.

Namun untuk melahirkan pesilat yang benar-benar menyeluruh, guru juga perlu menggalakkan murid agar berani keluar dari zon selesa mereka. Walaupun seseorang sudah mahir dalam satu bidang seperti tempur, tari, atau tenaga dalam, dia tetap perlu menerokai pelajaran lain untuk melengkapkan diri. Dengan cara itu, murid bukan sahaja kuat pada satu sisi, tetapi juga seimbang dari segi fizikal, mental, dan rohani.

Seperti pesan guru saya yang lebih kurang intinya, "jangan terlalu terikat pada kecenderungan, tetapi fahami asasnya, cabangnya, dan akhirnya tetap harus kembali kepada inti. Silat hanyalah wadah, bukan tujuan". Apabila murid memahami makna ini, mereka akan belajar bukan semata-mata untuk kuat atau menang, tetapi untuk mengenal diri dan hidup dalam keseimbangan.

Dari pengalaman saya pula, ketika mula mengajar dahulu saya memiliki sekitar enam puluh orang murid. Pada waktu itu, saya pernah ditegur kerana terlalu berfokus pada hasil dan angka, seolah-olah mengajar itu sekadar mengejar KPI. Pendekatan saya menurut beliau menjadi kaku dan penuh tekanan, hingga akhirnya saya sendiri merasa lelah dan kehilangan makna sebenar dalam mendidik. Padahal, arwah guru saya dahulu tidak pernah menuntut apa-apa selain keikhlasan dalam mengajar.

Ketika saya pulang ke padepokan (acara tahuanan), saya “digembleng” semula bukan dalam gerak, tetapi dalam jiwa. Saya diajar untuk lebih empati, lebih berjiwa rakyat, dan memahami watak serta keperluan setiap murid seperti seorang sahabat, bukan sekadar pelatih. Arwah guru sering berpesan kepada saya bahawa murid remaja dan murid dewasa sangat berbeza. Yang muda belajar dengan semangat, yang dewasa belajar dengan memahami konsep serta pengalaman. Maka tugas guru ialah menyesuaikan pendekatan, agar setiap murid merasa difahami dan dihargai dalam perjalanan mereka belajar.

Please understand that I am not here to preach about how to be a teacher to those who are already having your class and teaching, I am here to only share on the wisdom of our grandmaster Almarhum Mas Mochamad Amien   as a silat teacher dan pendakwah (secara "indirect") dimana beliau telah mengislamkan orang (mualaf) melalui jalan sebagai guru silat. Should there be any lapses in any of my teachings that is not at par to my teacher, understand that I am still learning the ways.   



Beware of Habits

In silat, habit can be both a friend and a trap. Repeating jurus, stances, and combinations builds muscle memory and sharpens reflexes, but when practiced on autopilot, the mind drifts and awareness dulls. Moves that once felt alive become mechanical, and subtle lessons hidden in each movement are easily missed. The danger is thinking you are improving while in reality your perception and intuition may be stagnating.

Breaking habit means stepping out of comfort zones and encountering your art as if for the first time. Approach each jurus with curiosity, questioning every movement, feeling, and intention. Notice the alignment, timing, and energy flow, even in moves you have performed hundreds of times. By disrupting the automatic, the mind and body reconnect, allowing deeper understanding and the discovery of nuances that habitual practice often masks.

In practice, this might look like changing the order of a sequence, slowing down movements to feel every shift, or practicing in new environments. The goal is not to discard learned patterns but to remain awake in the moment, fully present, and aware. In doing so, silat stops being a set of routines and becomes a living, evolving dialogue between you, your body, and your surroundings, keeping your skill, awareness, and intuition constantly alive.

The purpose of this approach is to keep the practitioner fully engaged and mindful, ensuring that silat remains more than just rote movements. By stepping out of habitual patterns, the student cultivates awareness, sharpens perception, and uncovers the deeper principles behind each technique. This not only strengthens skill and reflexes but also nurtures intuition, adaptability, and a living connection between mind, body, and environment, transforming practice into a journey of continual growth rather than mere repetition.

For those who are already practicing martial arts, lets do this, take a moment to reflect on your own practice how often do you move through your jurus on autopilot, thinking you’re improving while your mind drifts elsewhere? Imagine what could change if you slowed down, paid attention to every shift, every stance, and every intention. By stepping out of habit and fully engaging with each movement, you might discover subtleties you’ve never noticed, awaken your intuition, and transform silat from a set of routines into a living, evolving dialogue between your body, mind, and surroundings.

Thursday, October 16, 2025

Demystifying Tenaga Dalam - the other side of silat practices

Seringkali kalau kita bahaskan Silat Tenaga Dalam TD secara “ilmu dalaman di silat” kita akan mendapati beberapa pendapat kontra megenainya. Sering kali tomahan Bidaah, syirik, khurafat, tahyul (TBC kalau kata 'jargon' di Indonesia) menjadi amunisi lazim terhadap aspek spiritual silat. Namun apakah begitu semuanya? Dan apakah tidak ada unsur murni potensial manusia yang dapat kita kaji untuk memahamkan konsep TD. Saya tidak menolak ada nya pengamalan yang melibatkan TBC tapi menurut saya menuding praktisi TD sebagai sesat menunjukkan ‘kurang jauh’ jangkauan pemikiran penuding. Yang harus di pisahkan adalah Occult practices vs Tenaga Murni yang dapat kita jana dengan pernafasan dan positive thinking.

Tenaga Dalam dalam konteks ini harus dipahami sebagai ‘internal body awareness’ yang dilatih lewat pola pernapasan diafragma, teknik tahan napas, dan aktivasi pusat gravitasi tubuh (hara/dantian). Bila seseorang dilatih untuk sadar napasnya, hadir di tiap gerakan, dan mampu mengolah tekanan tubuh lewat pusatnya, maka ia telah menyentuh fondasi dari somatic intelligence yakni kecerdasan tubuh yang mampu merespons tekanan eksternal secara reflektif dan terkontrol. Ini bukan sihir. Ini bukan mistik. Ini adalah hasil dari ‘neuroplastic conditioning’ yang berlangsung ketika tubuh dan napas selaras dalam frekuensi tertentu.

Sebagian penggiat TD yang tidak mencampurkan dengan ritual atau dogma - hanya dengan penerapan pernafasan - pun telah menunjukkan bahwa teknik-teknik ini mampu meningkatkan detak jantung variabilitas (HRV), ketahanan terhadap stres, serta reaksi refleks tubuh.

Bahkan dalam pendekatan ilmiah, ‘slow, deep, conscious breathing’ terbukti memicu saraf parasimpatis, menurunkan kortisol, dan membuka jalur perhatian tinggi (state of flow). Maka kita harus lebih objektif dalam menilai bahwa Tenaga Dalam, bila dipisahkan dari pembungkus mistisnya, adalah bentuk embodied intelligence yang patut diteliti, bukan dicemooh. Yang menjadi sesat bukanlah pernapasannya, tapi pemahaman terbatas tentangnya.

Tapi harus kita sadari ini hanyalah alat untuk pesilat untuk memaksimalkan daya dan kudrat untuk mencapai maximum potential bukan untuk bermegah-megah kerana semua hanyalah titipan.

Dalam dunia silat, di banyak perguruan tradisional pernafasan bukanlah benda asing. Ia asas untuk bina tenaga dalam, kawal emosi, dan satukan gerak dengan kesedaran. Bila nafas teratur, pesilat boleh hadir sepenuhnya dalam setiap gerakan, dan jaga keharmonian tubuh dan jiwa walau dalam tekanan.

Nafas juga bawa tenaga halus bukan hanya oksigen, tapi getaran hidup yang masuk bersama niat kita. Bila nafas tenang dan dalam, badan jadi lebih stabil, fikiran jernih, dan aura pun semakin kuat.

Aura lemah bukan kerana tubuh tak sihat, tapi sebab nafas kita pendek dan terburu-buru. Dengan latihan pernafasan yang konsisten, aura boleh dibersihkan dan diperkukuh badan rasa lebih percaya diri, langkah lebih yakin, dan mata kita pun punya ‘ketajaman’ yang lebih dari biasanya. 

Akhir kata, apabila memperbincangkan Tenaga Dalaman, kita harus memisahkan perbahasan tentang pembangkitannya dari dalam diri,  dan lain-lain methode yang mengandalkan tenaga luar.. supaya tidak keliru.  




Wednesday, October 15, 2025

Ngala, Ngalle, Ngelaben (Mengalah, Mengalih, Melawan)

 Ngala berarti bahwa sebaiknya kita mengalah kalau dihadapkan konflik ataupun potensi perkelahian. Ini menunjukkan silat tidak diperuntukkan kekerasan dan menggunakannya untuk seenaknya sendiri. Tidak perlu memperkeruh suasana dan memperbesar masalah dan konflik.

Ngalle sebaiknya meninggalkan hal-hal yang bisa mendatangkan permusuhan dan perkelahian. Jika ditantangpun sebaiknya kita meninggalkannya, karena tiada manfaat perkelahian yang didasari emosi dan motif keburukan. Menang atas perkelahian yang justru tidak membuat orang atau bahkan diri kita sendiri bersikap lebih baik, adalah tidak bermanfaat. Kalah atas perkelahian yang justru membuat orang bersikap sombong dan arogan juga tiada manfaatnya. Sehingga meninggalkan perkelahian adalah lebih baik.

Nglaben berarti jika lawan bersikeras melawan dan menyerang kita, padahal kita sudah berusaha ngala dan ngalle, maka seorang pesilat harus mampu nglaben (melawan), karena untuk tujuan itulah silat digunakan, mempertahankan diri, melawan perbuatan keji dan mungkar.



Social Harmony, To do or not to do?

In the context of social harmony..

If it benefits you and benefits them: Do it. 

If it does not benefit them and does not benefit you: Don't do it. 

If it benefits them, and does not benefit you: (Think about it) most likely do it. 

If it benefits you, and does not benefit them: Don't do it.

-My special Thanks to Mas Guru Daniel Prasetya and Mas Guru Brandon Hadisoemarto

These four tenets form a compass for wise action, simple yet profound. They teach that true decision-making is not about advantage but about harmony. When both sides gain, action is righteous. When neither gains, it is waste. When others gain and we do not, it becomes a test of generosity and wisdom, a reminder that service often plants unseen seeds. When only we gain at another’s expense, it stains the heart and breeds imbalance. In essence, these principles remind us that right action is measured not by profit but by balance, benefit, and integrity of intent.

Kadang, diam lebih menenangkan daripada debat, dan kesabaran lebih menyembuhkan daripada pembelaan diri. Hidup bermasyarakat menuntut kepekaan untuk mengetahui kapan harus maju dan kapan harus mundur, kapan memberi suara dan kapan memberi ruang. Dalam timbangan sosial yang halus ini, keharmonisan bukan hasil dari kemenangan satu pihak, melainkan buah dari kesadaran bahwa kebaikan bersama lebih berharga daripada kepuasan pribadi.

Seeing, Pausing, and Acting with Clarity - Lihat, Dengar, Rasa

Knowledge fills your mind with facts, but wisdom fills your heart with understanding. When the heart is guided by wisdom, your actions become thoughtful and kind. 

Knowledge helps you know what can be done, but wisdom helps you know what should be done. It brings balance between thinking, feeling, and doing  so that your hands move not just with skill, but with purpose.

One hallmark of wisdom is the ability to take a step back and see things clearly before acting. It is the calm space between impulse and decision, where understanding grows. When you step back, you give yourself room to see the bigger picture  what is right, what is needed, and what can wait. In that quiet distance, emotion settles, reason returns,undettered by internal and external critics and from there our next move becomes both gentle and precise.

Muraqabah in Sufiism is the practice of watching over oneself, a pause that allows the heart to notice the stirrings of ego, desire, and impulse. In that quiet observation, the mind becomes a witness rather than a slave to emotion, and actions arise from awareness instead of reaction. It is through this inner vigilance that one learns patience, clarity, and the subtle guidance of the soul, turning each choice into a reflection of conscious presence rather than fleeting impulse.

One particular  NLP (Neuro Linguistic Programming) that I will share as an NLP Master, is the technique often called the “Perceptual Positions” exercise  (in line with the concept of what Im reffering to above).

  • First Position – You experience the situation through your own eyes, fully immersed in your own feelings and perspective. Notice your emotions, judgments, and desires. This grounds you before you shift perspective.
  • Second Position – You step into the other person’s shoes, seeing the situation through their eyes, feeling what they feel. "Why does he feel strongly about this?", "how does the statement look from his viewpoint" Avoid projecting your assumptions; focus on empathy.
  • Third Position – You zoom out as an impartial observer, watching the interaction objectively, as a detached witness. "How do I look at myself as a third party person?", How might you respond more wisely, considering both perspectives?

The third position is exactly what we want to gain insight from : it allows us to step back, gain clarity, and respond with wisdom instead of reacting impulsively. It’s very much like the Sufi idea of muraqabah observing the self and the situation before acting.

The benefit of taking a third-person perspective is that it gives us clarity and objectivity. By stepping outside ourself, we can see the full picture without being trapped in emotion, bias, or immediate reaction. It helps us understand both our own motives and those of others, anticipate consequences, and make decisions that are wise rather than impulsive. This perspective fosters empathy, patience, and strategic thinking, turning a moment of tension into an opportunity for insight and calm action. It is easier said then done, but Wallahi (by God) it has saved me from unnecessary problems. The point in all of this is to not only understand our terrain and environment but to also understand ourself in the process to being a wholesome pesilat. 


Tuesday, October 14, 2025

Sharp mind

 Senjata tajam hanya berguna di tangan yang terlatih. Tapi tangan yang terlatih akan tetap berguna walau senjata tumpul.

- A sharp weapon is only useful in trained hands. But trained hands will remain useful even with a dull weapon.

Monday, October 13, 2025

Sejarah Kraton Sumenep, Madura - Alur Sejarah Keraton Sumenep Hingga Makna Lantai Dasarnya

News Room, Kamis ( 26/11 ) Saat ini, orang hanya tahu bahwa Keraton Sumenep terletak di Kelurahan Pajagalan. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa sebelum berdiri bangunan yang menjadi karya monumental pemerintahan Panembahan Sumolo ini, di beberapa titik di belahan Bumi Sumenep ini telah berdiri beberapa keraton dari penguasa sebelumnya.

“Ya, kita kan sudah tahu, bahwa pemerintahan Sumenep diatur oleh beberapa dinasti secara estafet. Jadi, lokasi keratonnya beda setiap dinasti,”kata RB. Mohammad Muhlis, salah satu keturunan keluarga Keraton Sumenep dinasti terakhir, pada News Room.

Memang, dalam sejarah Sumenep dikendalikan oleh 3 dinasti yang sejatinya memiliki akar geneologi yang sama. Dinasti pertama ialah dinasti Aria Wiraraja, setelah itu beralih ke dinasti Tumenggung Kanduruhan dari Kerajaan Demak, lalu sempat dikuasai anggota dinasti Cakraningrat Bangkalan, lalu kembali pada dinasti kedua yang merupakan perpaduan antara keluarga keturunan Kanduruhan dengan keturunan Raden Adipati Pramono alias Pangeran Bonorogo Raja Pamekasan, sebelum akhirnya jatuh ke tangan dinasti Bindara Saut dari keluarga pesantren (dalam catatan silsilah keraton, disebut bahwa dinasti ini juga berasal dari pecahan dinasti Kanduruhan yang menyingkir ke akar rumput, namun versi lain menyebutkan hal yang lain pula).

Pada jaman dinasti Aria Wiraraja, lokasi keraton berpindah-pindah hampir setiap terjadi suksesi kepemimpinan. Mulai dari Desa Banasare Kecamatan Rubaru (jaman Aria Wiraraja); Aeng Nyior, Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi (jaman Aria Lembusuranggana); Desa Keles, Kecamatan Ambunten (jaman Pangeran Mandaraga); Desa Bukabu, Kecamatan Ambunten (jaman Pangeran Notoprojo atau Pangeran Bukabu); Desa Baragung, Kecamatan Guluk-guluk (Pangeran Notoningrat atau Pangeran Baragung); lalu kembali lagi ke Desa Banasare di masa Pangeran Secodiningrat I.

Pada masa Jokotole (Pangeran Secodiningrat III) pusat pemerintahan dipindah ke Desa Lapataman, Kecamatan Dungkek. Setelah berpindah ke dinasti Tumenggung Kanduruhan, baru pusat pemerintahan dipindah ke lokasi yang sekarang merupakan Kecamatan Kota Sumenep.

Ada dua tempat yang menjadi area keraton saat itu, yakni di Kampung Karangsabu atau Karangtoroy Kelurahan Karangduak, dan Kampung Atas Taman, Kelurahan Pajagalan. Namun, dari semua lokasi keraton yang disebut di atas, semuanya sudah tinggal bekasnya saja kecuali Keraton Sumenep yang berpintukan Labang Mesem, dan masih berdiri kokoh saat ini.

“Cuma ada perbedaan dalam konteks fisik dari bangunan yang disebut keraton itu, dari dinasti-dinasti awal dengan keraton yang saat ini masih berdiri, yang notabene merupakan peninggalan dinasti Bindara Saut sebagai dinasti terakhir,”ujar gus Muhlis.

Perbedaan itu bisa terlihat dari ukuran bangunan, arsitektur, penempatan simbol-simbol dan makna filosofinya. “Seperti warna cat, tata letak, dan simbol-simbol yang diletakkan. Seperti misal pohon Beringin yang berasal dari kata warain dan lain sebagainya,”jelasnya.

Gus Muhlis juga menambahkan, sebutan keraton di Sumenep secara fisik tidak sama dengan bangunan keraton semisal di Jogjakarta maupun Solo. Pada hakikatnya keraton di Sumenep hanyalah tempat tinggal atau rumah (dhalem) raja dan anggota keluarganya yang tidak seberapa luas.

“Itu bisa kita lihat bekas kediaman Ratu Tirtonegoro dan Bindara Saut. Sebuah rumah yang oleh rakyat waktu itu disebut sebagai keraton. Karena merupakan tempat tinggal raja,”kata putra pasangan almarhum RP. Mohammad Danafia dan R. Aj. Munirah ini.

Bahkan keraton yang masih ada saat inipun, menurut guru di salah satu SD di Sumenep ini, secara luas tidak sama dengan keraton di Jawa. Begitupun tinggi lantai dasarnya. Karena pada hakikatnya, secara strata Sumenep pernah menjadi bawahan Mataram. Penguasanya juga setingkat Adipati. Namun rakyat tetap menyebut rato (Raja). Apalagi jika dikaitkan dengan politik Belanda waktu itu, di masa dinasti terakhir, Sumenep disetarakan dengan kasultanan di Jogja maupun kasunanan di Solo, yakni sebagai “teman”. ( Farhan, Esha ) 

Sumber : https://www.sumenepkab.go.id/berita/baca/alur-sejarah-keraton-sumenep-hingga-makna-lantai-dasarnya#google_vignette


Perbedaan

Pernah tak terlintas di fikiran, mengapa setiap perguruan mempunyai cara tersendiri dalam mengajarkan Silat? Sebenarnya, hal ini berpunca daripada tumpuan dan falsafah guru utama serta pengasas sistem itu sendiri. Setiap perguruan lahir daripada konteksnya yaitu zaman, masyarakat, dan keperluan yang melahirkan ilmunya.

Pertama, ia bergantung kepada kebolehan murid. Seorang guru yang bijaksana akan menilai tahap fizikal, mental, dan spiritual anak muridnya sebelum menentukan bentuk pengajaran. Ada murid yang cepat menangkap gerak, tetapi lambat memahami makna. Ada pula yang kelihatan lembab di gelanggang, tetapi tajam hatinya. Maka guru akan sesuaikan pendekatannya agar setiap murid berkembang mengikut fitrahnya.

Kedua, strategi mengajar memainkan peranan besar. Ada perguruan yang menekankan disiplin keras dan latihan berulang untuk membentuk daya tahan serta jiwa juang. Ada pula yang menggunakan pendekatan lembut dan falsafah, menanam kefahaman dahulu sebelum gerak. Cara ini bukan sekadar soal teknik, tetapi cara menyampaikan warisan  supaya bukan hanya tangan yang bergerak, tetapi hati juga hidup bersama ilmu itu.

Ketiga, keperluan strategis pada waktu itu turut menentukan bentuk sistem. Pada zaman kuno dan juga zaman penjajahan, misalnya, banyak perguruan membentuk sistem yang ringkas tetapi berkesan untuk mempertahankan diri dalam keadaan genting. Pada zaman moden, ada perguruan yang menyesuaikan diri dengan cabaran baru  dari pengiktirafan seni warisan, ke pengajian akademik dan terapi tubuh. Maka setiap perubahan zaman menuntut strategi baru tanpa mengorbankan akar tradisi.

Kerana itu, setiap perguruan membawa roh tersendiri. Ia bukan semata-mata soal gerak atau jurus, tetapi bagaimana satu ilmu diturunkan kepada jiwa yang lain.

Setiap perguruan lahir dari tanahnya sendiri, dari pengalaman hidup dan cabaran zamannya. Justeru, cara yang berbeza bukan bererti salah, tetapi menunjukkan jalan-jalan yang beragam menuju tujuan yang sama: pembentukan insan yang seimbang lahir dan batin.

Apabila kita belajar menghormati perbezaan, kita sebenarnya sedang memperluas pandangan. Seorang pendekar sejati tidak akan cepat menilai cara orang lain, kerana dia tahu setiap langkah ada sejarahnya, setiap gerak ada sebabnya. Dalam perbezaan itulah kita dapat saling belajar sambil mencari makna yang lebih dalam daripada sekadar bentuk luaran.

Silat bukan hanya tentang siapa paling kuat atau paling pantas, tetapi siapa yang paling mampu memahami diri dan alam. Maka, apabila kita meraikan perbezaan, kita sedang menjaga roh silaturahim antara perguruan, antara guru, antara murid. Itulah semangat sebenar warisan  bukan untuk bersaing, tetapi untuk menyempurnakan satu sama lain.

 

Sunday, October 12, 2025

The Brain Behind the Movement: How drills in Martial Arts Sharpen the Mind

Participating in disciplines such as Martial arts, dance, and team sports does far more than build physical strength or coordination. These practices also enhance cognitive function and strengthen the brain’s internal circuitry through a blend of physical movement, mental challenge, and social interaction that actively reshapes the mind.

Physical movement, especially one involving precision, timing, and awareness, promotes neuroplasticity, the brain’s ability to adapt, reorganize, and form new neural connections. When we train through silat drills or kali flow patterns, the brain releases neurotrophic factors such as BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor). This compound nourishes neurons, strengthens synaptic links, and enhances learning, memory, and emotional balance.

The cognitive demands of these arts are profound. Each session requires planning, focus, recall, and multitasking, all of which engage the prefrontal cortex, the region responsible for executive function, decision-making, and impulse control. In silat, the ability to read an opponent’s intent while maintaining calm focus trains the mind to respond consciously rather than react impulsively.

Memorizing psychomotor drills like as in Silat drill based jurus or kali flow sequences, activates the hippocampus, the brain area essential for memory formation. Over time, this enhances both short-term recall and long-term retention. Maintaining awareness of body alignment, breathing rhythm, and the shifting position of an opponent strengthens attentional control within the prefrontal cortex.

Dynamic drills, such as reacting to a sudden blade angle in kali or countering a sweep in silat, sharpen reflexes and processing speed, reinforcing neural pathways for rapid yet mindful response. The cerebellum, which governs coordination and balance, is also deeply engaged, refining both gross and fine motor control through repetitive, intentional movement.

Beyond the physical and mental aspects, arts like silat and dance cultivate spatial intelligence which is the ability to sense, navigate, and adapt within one’s environment. This awareness is the root of movement economy: knowing where you are, where your opponent stands, and how energy flows between both bodies.

In essence, the martial path is a neurological training ground. Through every jurus, langkah, and sinawali drill, we are not merely conditioning muscle. We are sculpting the brain itself. The mind becomes agile, the senses alert, and the bond between body and consciousness grows ever stronger.

 

Saturday, October 11, 2025

Everything will have its place

That saying is a cornerstone of why the elders guarded martial arts wisdom so carefully. Knowledge has the right place, at the right time, with the right people.

This means three things.

Right Place.Not every lesson belongs in every space. A secret of combat does not belong in a market square. It belongs in the gelanggang, where the spirit is prepared. Place shapes respect.

Right Time.A teaching given too early is wasted, given too late it becomes useless. The old masters waited for the right moment, when the student’s body, heart, and mind were ready. Timing helps the knowledge settle deeply.

Right People.Not every seeker deserves every secret. Some are reckless, some are arrogant, some only want power. The master chooses the worthy, those who carry responsibility, humility, and loyalty.

From me as a doctor, martial arts is a system of body, mind, and energy that must be understood as one whole. The knowledge given by a master is like a prescription. The wrong dosage can be harmful, the right dosage brings benefit. A doctor-santri understands that the student’s body is a living laboratory. Every movement, every stance, every breath affects muscles, joints, posture, and even hormonal balance.

Knowledge cannot be given carelessly. Poor instruction can cause physical or psychological harm. Beyond the body, the doctor-santri must consider the mind. Learning martial arts requires focus, discipline, and emotional stability. Teaching a student who is not ready is as dangerous as giving strong medicine to a weak patient. Timing, understanding, and readiness must come first, just like diagnosing before therapy.

Just as a physician studies the anatomy of illness, the master of silat studies the anatomy of movement, the cause of imbalance, the flow of energy, the harmony between breath and will. In this way, martial arts becomes a medicine.

The gelanggang becomes a clinic for the silat. Every strike teaches balance. Every fall teaches humility. Every recovery teaches resilience. The doctor understands that health is not only the absence of pain, but the presence of harmony between body and intention, between will and surrender.. THIS is no different from where we see it in the way silat is viewed.

When the elders said that knowledge must have the right place, time, and people, they were not hiding secrets. They were being responsible.

True mastery is not in revealing everything. It is in guiding others until they are ready to understand through experience. A teacher heals through discipline, and a healer teaches through motion. Both must know when to speak, when to wait, and when to let the lesson appear in silence.

Semua hal ada tempatnya, dan semua hal akan indah pada waktunya.

- Alm Guru Mas Mochammad Amien

Friday, October 10, 2025

"universal knowledge"

 We can all agree that "universal knowledge"  like human biomechanics, anatomy, and natural laws of movement transcend styles and of course theres culture and sub-cultural standard. These truths belong to everyone, and any Silat that ignores them risks becoming rigid or ineffective. Simply put to force uniformity of perguruan culture into common culture is wrong, but to respect the universality of the body is essential.

Having said that, nobody can set a litmus test for how Silat should be practiced or organized, no matter how high their level or title may be. The rukun perguruan (the code and values of one school) cannot and should not be used as a measuring stick for another school. Each perguruan has its own history, philosophy, and method shaped by the needs of its people. What is sacred and effective in one tradition may not carry the same meaning in another.





Thursday, October 9, 2025

Safety

I was going through my old photos and found this mark on my hand. I wondered, “What the heck did I do?”

Then I remembered—it was from the beating I got from my grandmaster, after I gave in to my student’s challenge to spar without a helmet.


The sparring itself went fine, nothing serious happened. But the next day, something went wrong—my student ended up in the hospital. The news went straight to HQ.


A month later, during the annual camp at HQ, it was time for sparring sessions. Deep down, I knew I’d get punished for breaking protocol (helmets are mandatory). And I was right.

“Put on your helmet and grappling gloves,” the master ordered.

“Siap,” I replied.

He assigned one of my seniors, Mas Pen—a local champion famous for his open-hand slaps to the face (allowed in our ChakraV silat). He rained blows on me, but I defended myself as best as I could. Even with my size, I managed to land some jabs on his nose.

Then the master got impatient, stopped the fight, and stepped in himself. That’s when the real beating began—bam, boom, bak, bak, boom—no time to react. Within moments I was flat out. Master-level strikes, no joke.

He looked at me and said:

“Now do you see how severe the blows are, even with a helmet? What more without it? Your student ended up in the hospital because of your ego. Never accept such challenges in vain.”


I looked down at my forearm, feeling the friction burns from his gloves. The next morning, it burned like hell when I showered.

Still, I had no hard feelings. Memories like this are priceless. It was tough love. I miss him, even though things were not always easy between us. You only truly understand your teacher’s lessons when you become a teacher yourself.

Al-Fatihah to you, Mas Guru. If I could turn back time, I’d redeem myself. 

In the picture, the bruises don’t look too obvious, but God knows how bad it was, haha. So if I whack you guys, don’t take it personally, hahaha.


Taken from my fb post. Reviving the lesson on student safety.